Dimensi Kepuasan Kerja
Untuk mengetahui dimensi kepuasan kerja, menurut Luthans (1997:52)
terdiri atas lima dimensi, yaitu :
- Pembayaran, seperti gaji dan upah. Karyawan menginginkan sistem upah
dan kebijakan promosi yang dipersepsikan sebagai adil, tidak meragukan
dan segaris dengan pengharapannya. Bila upah dilihat sebagai adil yang
didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat ketrampilan individu, dan
standar pengupahan komunitas kemungkinan besar akan dihasilkan
kepuasan. - Pekerjaan itu sendiri. Karyawan cenderung lebih menyukai pekerjaanpekerjaan yang memberi kesempatan untuk menggunakan kemampuan dan
ketrampilannya, kebebasan, dan umpan balik mengenai betapa baik mereka
bekerja. Karakteristik ini membuat kerja lebih menantang. Pekerjaan yang
kurang menantang menciptakan kebosanan, tetapi yang terlalu banyak
menantang juga dapat menciptakan frustrasi dan perasaan gagal. - Rekan kerja. Bagi kebanyakan karyawan kerja juga mengisi kebutuhan akan
interaksi sosial. Oleh karena itu tidaklah mengejutkan bila mempunyai rekan
kerja yang ramah dan mendukung menghantar ke kepuasan kerja yang
meningkat. - Promosi pekerjaan. Promosi terjadi pada saat seorang karyawan berpindah
dari suatu pekerjaan ke posisi lainnya yang lebih tinggi, dengan tanggung
jawab dan jenjang organisasionalnya. Pada saat dipromosikan karyawan
umumnya menghadapi peningkatan tuntutan dan keahlian, kemampuan dan
tanggungjawab. Sebagian besar karyawan merasa positif karena
dipromosikan. Promosi memungkinkan perusahaan untuk mendayagunakan
kemampuan dan keahlian karyawan setinggi mungkin. - Kepenyeliaan (supervisi). Supervisi mempunyai peran yang penting dalam
manajemen. Supervisi berhubungan dengan karyawan secara langsung dan
mempengaruhi karyawan dalam melakukan pekerjaannya. Umumnya
karyawan lebih suka mempunyai supervisi yang adil, terbuka dan mau
bekerjasama dengan bawahan.
Comments
Post a Comment