Iklim Etis
Setiap perusahaan memiliki iklim organisasi yang berbeda satu sama lain
(Stamenkovic et al., 2018). Iklim organisasi terbentuk karena adanya perspektif dari
anggota karyawan dan diukur dari aspek kehidupan kerja yang mempengaruhi motivasi
dan perilaku karyawan tersebut (Reecha et al., 2016; Wendell L. French & Cecil H.
Bell, 2004). Iklim organisasi merupakan kondisi lingkungan kerja yang dirasakan oleh
karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung di mana persepsi karyawan
terhadap praktik dan prosedur berasal dari pengalaman berinteraksi dengan lingkungan
organisasi yang berpengaruh terhadap kinerja dan loyalitas karyawan itu sendiri.
Etika adalah ilmu yang mempelajari moralitas, sementara moralitas merupakan
standar atau aturan digunakan untuk mengatur perilaku manusia (Arnold et al., 2013;
Putranta, 2020). Menurut Bartens (2002) etika adalah perspektif individu terhadap apa
yang baik dan buruk. Iklim etika menjadi salah satu bagian dari iklim organisasi (Elçi &
Alpkan, 2009). Secara empiris ethical climate atau iklim etis mempelajari perilaku dan
kinerja karyawan di perusahaan(Sabiu, Kura, et al., 2019).
Sabiu, Ringim, et al., 2019; Schluter et al., (2008) menyatakan bahwa ethical
climate atau iklim etis menyiratkan kebijakan, praktik dan prosedur perusahaan terkait
masalah etika yang mempengaruhi sikap dan perilaku karyawan. Iklim etis terbentuk
karena adanya persepsi karyawan terhadap praktik sumber daya manusia pada
komponen etika, norma, sikap dan perilaku karyawan. Iklim etis yang ada di
perusahaan menjadi keunggulan kompetitif yang membedakan satu perusahaan dengan
yang lain (Moon & Choi, 2014). Perusahaan yang mempunyai iklim etika yang baik
mendorong karyawan untuk melakukan perilaku etis demi mewujudkan keberhasilan
dan kinerja perusahaan. Iklim kerja etis didefinisikan sebagai persepsi dominan tentang
prosedur dan praktik perusahaan yang memiliki konten etis (Victor & Cullen, 1988).
Iklim etis terbagi dalam tiga kriteria (Essien et al., 2019; Victor & Cullen, 1988)
yaitu egoisme, kebajikan dan prinsip. Egoisme menjelaskan perilaku yang berfokus
kepentingan diri sendiri, kebajikan berdasarkan perilaku pengambilan keputusan yang
berkiblat pada teori utilitarian di mana tujuannya demi mencapai manfaat bagi banyak
orang (Hirsh et al., 2018). Pada tipologi yang dirancang Victor & Cullen (1988)
terdapat dua dimensi gambaran iklim etis di mana dimensi pertama merupakan kriteria
etis yang terdiri dari: egoisme (E), kebajikan (B), dan prinsip (P) yang mencerminkan
pertimbangan karyawan ketika mengambil keputusan etis. Dimensi kedua adalah dasar
pengambilan keputusan etis karyawan (lokus analisis) yang terdiri dari individu (I),
lokal (L), dan kosmopolitan(C)
Comments
Post a Comment