Definisi Keterikatan Kerja

 


Keterikatan kerja atau yang sering disebut engagement dinyatakan oleh
Schaufeli (2010) mengacu pada keterlibatan, semangat, antusiasme, penyerapan,
upaya yang terfokus, dan energi sedangkan dalam kamus Merriam-Webster
didefinisikan bahwa engagement sebagai keterlibatan emosional atau komitmen dan
sebagai '' the state of being gear”.
Ahli pertama yang mengonsepkan keterikatan kerja adalah Kahn pada tahun

  1. Kahn (1990, dalam Bakker & Leiter, 2010) mendeskripsikan keterikatan kerja
    sebagai pemanfaatan diri dari anggota organisasi ke dalam peran kerja mereka. Dalam
    engagement individu memekerjakan dan mengekspresikan diri mereka secara fisik,
    kognitif, emosional, dan mental selama memerankan perannya. Pembahasan
    mengenai keterikatan karyawan memiliki beberapa istilah dalam penggunaannya
    yaitu job engagement, employee engagement, dan work engagement. Roberts dan
    Davenport (2002, dalam Bakker & Leiter, 2010) menyatakan bahwa job engagement
    adalah rasa antusias pada diri individu dan ia terlibat dengan pekerjaannya. Employee
    engagement diartikan oleh Federman (2009, dalam Bakker & Leiter, 2010) sebagai
    sejauh mana individu berkomitmen untuk sebuah organisasi dan mengetahui betapa
    besar dampak dari komitmen selama masa jabatan. Kemudian pada tahun 1992, Kahn
    (dalam Bakker & Leiter, 2010) membedakan konsep engagement dari kondisi
    psikologis “being fully there” atau berada di sana secara penuh dengan individu yang
    merasa dan menjadi penuh perhatian, terhubung, terintegrasi, dan fokus pada peran
    mereka.
    Maslach dan Leiter (1997) mengarakteristikkan engagement melalui energi,
    keterlibatan, dan efikasi. Ketiga karakteristik yang dipaparkan oleh Maslach dan
    Leiter dianggap sebagai lawan dari tiga karakteristik burnout. Mereka berpendapat
    bahwa dalam istilah burnout, energi berubah menjadi kelelahan, keterlibatan menjadi
    sinisme, dan efikasi menjadi ketidak efektifan.
    Berbeda dengan Maslach dan Leiter, Schaufeli, Salanova, Gonzales-Roma, &
    Bakker (2002, dalam Bakker dan Leiter, 2010) mengambil perspektif berbeda serta
    mengoperasionalkan engagement itu sendiri. Menurut Schaufeli dkk. (2002) burnout
    dan engagement merupakan dua konsep yang terpisah dan seharusnya diukur secara
    independen. Schaufeli dkk mengemukakan bahwa pada seorang individu yang
    memiliki level burnout yang rendah tidak berarti individu tersebut memiliki level
    engagement yang tinggi. Oleh karena itu Schaufeli dkk mendefinisikan
    operasionalisasi work engagement terpisah dari operasionalisasi burnout dan

Comments

Popular Posts