Dimensi Komitmen Organisasional

 


Menurut Allen & Meyer (1990), terdapat tiga dimensi komitmen
organisasional. Ketiga dimensi tersebut juga merangkum faktor pembentuk
komitmen organisasional yang terbagi menjadi faktor internal dan faktor
eksternal. Berikut ketiga komponen model komitmen Allen & Meyer (1990)
beserta dengan penjelasannya :

  1. Komitmen Afektif
    Komitmen afektif oleh Allen dan Meyer disebut sebagai Affective
    Commitment merupakan bentuk komitmen yang berwujud rasa kasih
    sayang terhadap organisasi. Anggota organisasi merasa senang menjadi
    bagian organisasi dan senang hati dalam bekerja di dalamnya. Dalam
    komitmen afektif, hubungan antara organisasi dan anggota organisasi
    didasari oleh tiga hal. Ketiganya yaitu rasa emosional anggota organisasi
    yang kuat terhadap organisasinya, identifikasi dengan organisasi, dan
    keterlibatan dalam kegiatan organisasi.
    a. Rasa emosional anggota merupakan perasaan memiliki pada
    anggota terhadap organisasi. Keputusan anggota untuk bertahan dalam
    organisasi dipengaruhi karena anggota merasa organisasi tersebut adalah
    bagian dari dirinya dan dirinya bagian dari organisasi.
    b. Identifikasi dengan organisasi. Hal ini merupakan kemampuan
    anggota dalam mengenal secara utuh organisasi yang ditempatinya.
    Pengetahuan yang lengkap mengenai organisasi akan membuat seseorang
    memiliki alasan yang kuat untuk bertahan dalam organisasi.
    c. Keterlibatan individu. Keterlibatan individu merupakan tingkat
    partisipasi anggota terhadap seluruh kegiatan atau aktivitas organisasi.
  2. Komitmen Normatif
    Komitmen ini juga disebut sebagai Normative Commitment. Komitmen
    normatif merupakan suatu bentuk kesetiaan sebagai tanggung jawab moral
    (moralitas) dan juga perasaan karyawan tentang kewajiban yang harus
    diberikan kepada organisasinya (Allen & Meyer, 1990). Komponen
    normatif berkembang sebagai hasil dari pengalaman sosialisasi, tergantung
    dari sejauh apa perasaan sebuah kewajiban yang dimiliki karyawan.
    a. Kesetiaan yang harus diberikan karena pengaruh orang lain.
    Komitmen yang terjadi apabila karyawan terus bekerja untuk organisasi
    disebabkan oleh tekanan dari pihak lain untuk terus bekerja dalam
    organisasi tersebut. Karyawan yang mempunyai tahap komitmen normatif
    yang tinggi sangat mementingkan pandangan orang lain terhadap dirinya
    jika karyawan meninggalkan organisasi.
    Kesetiaan ini merupakan hasil dari sosialisasi utama dalam suatu
    kebudayaan organisasi. Hasilnya, anggota merasa berkewajiban untuk
    tinggal di dalam organisasi meskipun memperoleh kesempatan untuk
    berpindah ke organisasi lain yang lebih baik yaitu yang positif (Allen &
    Meyer, 1997).
    b. Kewajiban yang harus diberikan kepada organisasi. Komitmen
    ini mengacu kepada refleksi perasaan akan kewajiban untuk menjadi
    karyawan perusahaan. Karyawan dengan komitmen normatif yang tinggi
    merasa bahwa karyawan tersebut memang seharusnya tetap bekerja pada
    organisasi tempat ia bekerja sekarang. Degan kata lain komitmen yang ada
    dalam diri karyawan disebabkan oleh kewajiban-kewajiban pekerjaan
    karyawan terhadap oganisasi.
  3. Komitmen Berkelanjutan
    Komitmen berkelanjutan atau Continuance Commitment berkaitan
    dengan kesadaran individu untuk tidak meninggalkan organisasi. Jika itu
    dilakukan, individu sadar akan mengalami kerugian tertentu. Komitmen
    berkelanjutan dapat berkembang karena adanya tindakan atau kejadian
    yang dapat meningkatkan kerugian jika memutuskan pergi dari organisasi.
    Tindakan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu investasi dan alternatif (Allen
    & Meyer, 1990).
    a. Investasi yang dimaksud adalah sesuatu yang berharga harus
    dibayarkan atau potensi hilangnya kesempatan untuk mendapatkannya,
    contohnya uang, waktu, dan usaha. Sedangkan alternatif atau kadang
    disebut taruhan sampingan individu merupakan opsi untuk berpindah ke
    organisasi lain.
    b. alternatif ini muncul karena kurangnya pengetahuan mengenai
    pilihan organisasi lain. Akibatnya, individu akan merasa rugi jika tidak
    mendapat sesuatu yang sama atau lebih baik di organisasi lain (Allen &
    Meyer, 1990).
    Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa komitmen
    organisasi merupakan keinginan individu untuk bertahan sebagai anggota
    organisasi, menerima tujuan dan nilai-nilai yang dianut organisasi dan hal
    itu diwujudkan dengan pengabdian serta loyalitas penuh sesuai tujuan dan
    nilai organisasi yang diharapkan. Adanya komitmen organisasional yang
    baik dari individu akan berdampak positif pada hasil yang baik bagi
    organisasi serta menjadi berkurangnya intensitas anggota untuk keluar dari
    organisasi.

Comments

Popular Posts