Manajamen Rantai pasokan (supply chain management)
Rantai pasokan didefinisikan sebagai sekumpulan tiga atau lebih entitas
(organisasi atau individu) yang terlibat langsung dalam aliran produk, layanan,
keuangan, dan / atau informasi hulu dan hilir dari suatu sumber ke pelanggan
(Mentzer , et al., 2001). Rantai pasokan didefinisikan sebagai proses manufaktur
terintegrasi di mana bahan baku diproduksi menjadi produk akhir, kemudian
dikirim ke pelanggan (melalui distribusi, ritel, atau keduanya) Pada level tertinggi,
rantai pasokan terdiri dari dua proses dasar dan terintegrasi: (1) Proses Perencanaan
Produksi dan Pengendalian Persediaan, dan (2) Proses Distribusi dan Logistik
(Beamon , 1999).
Manajemen rantai pasok (supply chain management atau SCM) adalah
sistem terintegrasi yang mengoordinasikan keseluruhan proses di dalam
organisasi/perusahaan dalam mempersiapkan dan menyampaikan produk/jasa
kepada konsumen. Proses ini mencakup proses perencanaan (plan), sumber input
bagi proses (source) misalnya pengiriman bahan mentah dari pemasok, proses
transformasi input menjadi output (make), transportasi, distribusi pergudangan
(deliver), sistem informasi dan pembayaran produk/ jasa, sampai produk/jasa
dikonsumsi oleh konsumen, dan layanan pengembalian produk/jasa (return).
Tujuan dari setiap sistem rantai pasok adalah memaksimumkan akumulasi nilai
(value) daan profit yang diciptakan oleh setiap komponen di dalam rantai pasok,
yaitu nilai tambah yang diciptakan oleh pemasok kepada manufaktur, manufaktur
kepada distributor, dan dari distributor kepada konsumen. Nilai ini tercipta dari nilai
layanan dan harga sebuah produk jadi dengan total biaya yang ditanggung oleh
seluruh sistem rantai pasok.
Jika dahulu persaingan merupakan persaingan antarorgansisasi/ perusahaan/
manufaktur sekarang berubah menjadi persaingan antar-rantai pasok. Jika cara
pandang dan sikap perusahaan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, maka ia
akan kalah dalam persaingan. Ini karena nilai tambah yang diberikan pada sebuah
rantai pasok lebih besar dari nilai tambah dari sebuah perusahaan saja (atau nilai
tambah dari manufaktur saja). Begitu juga biaya yang muncul dan keuntungan yang
diperoleh dalam satu sistem rantai pasok akan lebih optimum dibandingkan biaya
dan keuntungan hanya dari satu perusahaan saja di dalam sistem rantai pasok. Dari
titik di mana bahan mentah diproses sampai menghasilkan barang jadi, maka
semakin tinggi value-nya, semakin tinggi keuntungan yang bisa diperoleh dari
penghasilan yang berasal dari barang jadi daripada dari bahan mentah (semakin
dekat dengan konsumen, maka nilai tambah sebuah produk/jasa semakin tinggi.
Dengan demikian, keuntungan punsemakin besar). Nilai produk ini mencakup
perbandingan harga sebuah produk/jasa dengan apa yang diperoleh konsumen dari
produk/iasa tersebut (Martono, 2018).
Comments
Post a Comment