Rasio Profitabilitas
Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan
manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukkan oleh
laba yang dihasilkan. Secara garis besar, laba yang dihasilkan perusahaan
berasal dari penjualan dan investasi yang dilakukan oleh perusahaan
(Sudarmadji dan Sularto, 2007). Rasio profitabilitas adalah rasio yang
mengukur efektifitas manajemen secara keseluruhan yang ditunjukkan
oleh besar kecilnya keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya
dengan penjualan dan investasi (Munawir, 2008). Adapun rasio yang
tergabung dalam rasio profitabilitas adalah sebagai berikut:
a. Return on Assets (ROA)
Return on assets mengukur kemampuan perusahaan dalam
memanfaatkan asetnya untuk memperoleh laba. Rasio ini mengukur
tingkat kembalian investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan
dengan menggunakan seluruh dana (aset) yang dimilikinya (Prastowo,
2005).
Analisis ROA mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan
laba dengan menggunakan total aset (kekayaan) yang dipunyai
perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya untuk mendanai
aset tersebut. Variasi dalam perhitungan ROA memasukkan biaya
pendanaan. Biaya-biaya pendanaan yang dimaksud adalah bunga yang
merupakan biaya pendanaan dengan hutang. Dividen yang merupakan
biaya pendanaan dengan saham dalam analisis ROA tidak
diperhitungkan. Biaya bunga ditambahkan ke laba yang diperoleh
perusahaan. ROA bisa diinterpretasikan sebagai hasil dari serangkaian
kebijakan perusahaan (strategi) dan pengaruh dari faktor-faktor
lingkungan (environmental factors). Analisis difokuskan pada
profitabilitas aset, dan dengan demikian tidak memperhitungkan cara-
cara untuk mendanai aset tersebut (Hanafi, 2005).
b. Return on Equity (ROE)
Salah satu alasan utama mengapa perusahaan mengoperasikan
perusahaan adalah untuk menghasilkan laba yang akan bermanfaat bagi
para pemegang saham. Return on equity (ROE) merefleksikan seberapa
banyak perusahaan telah memperoleh hasil atas dana yang telah
diinvestasikan oleh pemegang saham (baik secara langsung atau dengan
laba yang ditahan). Rasio ROE sangat menarik bagi pemegang saham
maupun para calon pemegang saham, dan juga bagi manajemen karena
rasio tersebut merupakan ukuran atau indikator penting dari
shareholder value creation. Rasio ROE sangat tidak menarik bagi
manajer devisi karena manajer lebih berkepentingan dengan efisiensi
penggunaan aktiva, dari pada sumber dana untuk membiayai aktiva
tersebut (dari kreditor ataukah dari pemegang saham) (Munawir, 2008).
Tampaknya penggunaan utang yang semakin besar akan
semakin menguntungkan pemegang saham. Tetapi suatu saat
perusahaan akan mencapai batas utang yang optimal. Penggunaan utang
yang lebih besar dibandingkan dengan batas ini akan menurunkan ROE
(Hanafi, 2005).
c. Net Profit Margin
Net profit margin menghitung sejauh mana kemampuan
perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu.
Rasio ini bisa diinterpretasikan juga sebagai kemampuan perusahaan
menekan biaya-biaya (ukuran efisiensi) di perusahaan pada periode
tertentu. Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan
perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan
tertentu.
Comments
Post a Comment