Sunday, September 8, 2024

Faktor stres kerja (stressor)

 


Faktor stres kerja (stressor), yang digolongkan sebagai berikut:
a. Stres kerja lingkungan
Adanya ketidakpastian lingkungan mempengaruhi desain dari
struktur organisasi, ketidak pastian itu juga memempengaruhi tingkat
stres dikalangan para karyawan dalam organisasi tersebut. Dalam
bekerja, karyawan tidak bisa lepas dari kondisi lingkungan kerja. Salah
satu faktor munculnya burnout pada karyawan adalah kondisi
lingkungan kerja yang kurang baik. Ketidaksesuaian antar apa yang
diharapkan karyawan dengan apa yang diberikan perusahaan terhadap
karyawan, seperti kurangnya dukungan dari atasan dan adanya
persaingan yang kurang sehat antara sesama rekan kerja merupakan
suatu kondisi lingkungan kerja psikologis yang dapat mempengaruhi
munculnya burnout dalam diri karyawan.
Gibson & Ivancevich (2009) mengemukakan bahwa stres kerja
dikonseptualisasikan dari beberapa titik pandang, yaitu stres sebagai
stimulus, stres sebagai respon dan stres kerja sebagai stimulus-respon.
Stres sebagai stimulus merupakan pendekatan yang menitikberatkan
pada lingkungan. Definisi stimulus memandang stres sebagai suatu
kekuatan yang menekan individu untuk memberikan tanggapan
terhadap stresor. Pendekatan ini memandang stres sebagai kosekuensi
dari interaksi antara stimulus dengan respon individu. Pendekatan
stimulus-respon mendefinisikan stres sebagai kosekuensi dari interaksi
antara stimulus lingkungan dengan respon individu. Stres dipandang
tidak sekedar sebuah stimulus atau respon, melainkan stres merupakan
hasil interaksi unik antar kondisi stimulus lingkungan dan
kecenderungan individu untuk memberikan tanggapan.
b. Stres kerja organisasi
Tekanan untuk menghindari kekeliruan atau menyelesaikan
tugas dalam suatu kurun waktu yang terbatas, beban kerja yang
berlebihan, seorang pemimpin yang menuntut dan tidak peka, serta
rekan kerja yang tidak menyenangkan. Penyebab stres kerja juga bisa
berasal dari kelompok. Keefektifan setiap organisasi dipengaruhi oleh
sifat hubungan diatara kelompok-keompok karakteristik kelompok
dapat menjadi stresor yang kuat bagi beberapa individu. para ahli
prilaku organisasi telah menganggap bahwa memperbaiki hubungan
yang baik diantara anggota sutau kelompok kerja merupakan faktor
utama dari membina kehidupan individu yang baik. Dalam bahasa lain
membina hubungan yang baik diantara kelompok kerja menyebabkan
terhindarnya stres akibat kelompok kerja.
Sebaliknya hubungan yang jelek antar anggota suatu kelompok
kerja menjadi penyebab stres kerja. Bisa dibayangkan dalam suatu
kantor atau lembaga dimana para pekerja berperilaku egoisme maka
kondisi demikian dapat menyebabkan stres kerja individu. Studi
dibidang ini telah mencapai kesimpulan yang sama, yaitu ketidak
percayaan dari mitra kerja secara positif berkaitan ambiguitas peran
yang tinggi, yang membawa pada kesenjangan komunikasi diantara
orang-orang dan kepuasan kerja yang rendah (Robbins, 2007).
c. Stres kerja individual
Mencakup faktor-faktor dalam kehidupan pribadi karyawan.
Terutama sekali faktor-faktor ini adalah isu keluarga, masalah ekonomi
pribadi, dan karakteristik kepribadian yang inheren. Selye (2009),
mengkonseptualisasikan tanggapan psikofisiologis terhadap stres. Ia
menganggap stres suatu tanggapan nonspesifik terhadap setiap tuntutan
yang dibuat pada satu organisme yang dinamakan reaksi pertahanan
tiga fase yang seseorang lakukan ketika stres sebagai “sindrom
penyesuaian umum (the general adaptation syndrome/GAS)”.
Selye (2009), menyebut bahwa reaksi pertahanan umum karena
penyebab stres berdampak pada sebagian badan, tanggapan menunjuk
pada suatu rangsangan dari pertahanan yang diciptakan untuk
membantu badan menyesuaikan pada untuk menghadapi penyebab
stres dan sindrom menunjukan bahwa bagain reaksi yang sifatnya
individual terjadi lebih atau kurang secara bersama. Tiga fase tersebut
antara lain sinyal (alarm), perlawanan (resistance), dan keletihan
(exhaustion).
Carry Cooper (dikutip dari Jacinta F, 2008) menyatakan bahwa sumber
stres kerja ada empat yaitu sebagai berikut:
a. Kondisi pekerjaan
Kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan
mudah jatuh sakit, jika ruangan tidak nyaman, panas, sirkulasi udara
kurang memadai, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan kerja kurang
bersih, berisik, tentu besar pengaruhnya pada kenyamanan kerja
karyawan.
1) Overload
Overload dapat dibedakan secara kuantitatif dan kualitatif.
Dikatakan overload secara kuantitatif jika banyaknya pekerjaan
yang ditargetkan melebihi kapasitas karyawan tersebut. Akibatnya
karyawan tersebut mudah lelah dan berada dalam tegangan tinggi.http://repository.unimus.ac.id
12
Overload secara kualitatif bila pekerjaan tersebut sangat kompleks
dan sulit sehingga menyita kemampuan karyawan.
2) Deprivational
Kondisi pekerjaan tidak lagi menantang, atau tidak lagi menarik
bagi karyawan. Biasanya keluhan yang muncul adalah kebosanan,
ketidakpuasan, atau pekerjaan tersebut kurang mengandung unsur
sosial (kurangnya komunikasi sosial).
3) Pekerjaan beresiko tinggi.
Pekerjaan yang beresiko tinggi atau berbahaya bagi keselamatan,
seperti pekerjaan dipertambangan minyak lepas pantai, tentara, dan
sebagainya.
b. Konflik Peran
Stres karena ketidak jelasan peran dalam bekerja dan tidak tahu yang
diharapkan oleh manajemen. Akibatnya sering muncul ketidakpuasan
kerja, ketegangan, menurunnya prestasi hingga ahirnya timbul
keinginan untuk meninggalkan pekerjaan. Para wanita yang bekerja
mengalami stres lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Masalahnya
wanita bekerja ini menghadapi konflik peran sebagai wanita karir
sekaligus ibu rumah tangga.
c. Pengembangan Karir
Setiap orang pasti punya harapan ketika mulai bekerja disuatu
perusahaan atau organisasi. Namun cita-cita dan perkembangan karir
banyak sekali yang tidak terlaksana.
d. Struktur Organisasi
Gambaran perusahaan yang diwarnai dengan struktur organisasi yang
tidak jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan, peran, wewenang
dan tanggungjawab, aturan main yang terlalu kaku atau tidak jelas,
iklim politik perusahaan yang tidak jelas serta minimnya keterlibatan
atasan membuat karyawan menjadi stres.http://repository.unimus.ac.id

No comments:

Post a Comment