Bidin et al. (2009) mengemukakan bahwa norma subjektif (subjective norm) didefinisikan sebagai
tekanan sosial yang diberikan oleh kelompok sosial seperti orang tua, guru,
pengusaha, rekan-rekan, pasangan, dll untuk bertindak atas sesuatu. Norma
subyektif ditentukan oleh hubungan antara beliefs
seseorang tentang setuju atau tidak setujunya orang lain maupun kelompok
yang penting bagi seseorang tersebut, dengan motivasinya untuk mematuhi rujukan
tersebut. Simamora (2004) menyatakan bahwa norma subjektif dibentuk oleh dua
komponen. Pertama keyakinan normatif individu bahwa kelompok atau seseorang
yang menjadi preferensi menginginkan individu tersebut untuk melakukan suatu
perbuatan. Kedua, motivasi individu untuk menuruti keyakinan normatif tersebut.
Norma subjektif (subjective norms) adalah persepsi atau pandangan seseorang terhadap
kepercayaan-kepercayaan orang lain yang akan mempengaruhi minat untuk melakukan
atau tidak melakukan suatu perilaku (Ajzen dan Fishbein, 1980). Norma subjektif
menilai apa yang dipercaya konsumen bahwa orang lain akan berpikir mereka harus
melakukannnya. Dengan kata lain, norma subjektif memperkenalkan formulasi
pengaruh kelompok referensi yang sangat kuat terhadap perilaku (Rastini, 2013).
Subjective
Norm merupakan kepercayaan individu terhadap apa
yang harus atau tidak harus dilakukan oleh individu tersebut. Sejauh mana
seseorang memiliki motivasi (subjective
norm) untuk mengikuti pandangan orang terhadap perilaku yang akan
dilakukannya (Huda dkk., 2012).
Ajzen (2005) mengasumsikan bahwa norma
subjektif ditentukan oleh adanya
keyakinan normatif (normative
belief) dan keinginan untuk mengikuti (motivation
to comply). Keyakinan normatif berkenaan dengan harapan-harapan yang
berasal dari referent atau orang dan kelompok yang berpengaruh bagi individu (significant others) seperti orang tua,
pasangan, teman dekat, rekan kerja atau lainnya,
tergantung pada perilaku yang terlibat. Secara umum, individu yang yakin bahwa
kebanyakan referent akan menyetujui dirinya menampilkan perilaku tertentu, dan
adanya motivasi untuk mengikuti perilaku tertentu, akan merasakan tekanan
sosial untuk melakukannya.
Orang lain yang penting tersebut bisa
pasangan, sahabat, dokter, dan lain-lain. Hal ini diketahui dengan cara
menanyai responden untuk menilai apakah orang-orang lain yang penting tadi
cenderung akan setuju atau tidak setuju jika ia menampilkan perilaku yang
dimaksud (Carolyn dan Pusparini, 2013).
No comments:
Post a Comment