Menurut Rachmad
Jayadi (2001, dalam Suandhi 2005), proses pengambilan keputusan merupakan
proses penyelesaian masalah terkait dengan upaya pemilihan beberapa
alternatif pada cakupan pertimbangan
yang kompleks dan berpotensi untuk saling bertentangan. Proses ini dimulai
dengan identifikasi persoalan secara rumit. Selanjutnya adalah menetapkan
adalah menetapkan kategori dan melakukan kuantifikasi tujuan yang ingin
dicapai. Tujuan yang telah ditetapkan akan menentukan langkah atau tindakan
untuk memperoleh penyelesaian persoalan. Sekali tujuan telah ditetapkan, maka
sangat penting untuk melakukan identifikasi fisik dan sumber-sumber informasi
yang diperlukan. Tanpa penilaian secara akurat terhadap sumberdaya dan berbagai
kendala yang ada, upaya pencarian solusi akan bersifat sangat spekulatif.
Tahap berikutnya
adalah menentukan beberapa opsi yang berpotensi untuk menjawab persoalan.
Apakah beberapa opsi telah didapatkan, langkah berikutnya adalah menetapkan dan
menerapkan kriteria pemilihan. Beberapa opsi tersebut dapat dikombinasikan
kedalam beberapa alternatif yang komprehensif dan dapat diterapkan. Beberapa
alternatif yang diperoleh selanjutnya dapat di evaluasi dan dikaji ulang yang
hasilnya akan diberikan kepada pembuat keputusan atau pihak terkait sehingga
dapat memanfaatkan informasi ini untuk memilih alternatif solusi terbaik yang
dapat dilaksanakan. Alternatif terpilih akan diimplementasikan dengan disertai
pemantauan (monitoring) untuk
memastikan bahwa solusi yang ditempuh dapat berjalan baik.
Salah satu metode dalam
pengambilan keputusan adalah Analytic
Hierarchy Process (AHP). Metode
AHP ini berperan dalam menstrukturkan kriteria-kriteria yang ada untuk suatu
masalah pengambilan keputusan dengan banyak kriteria. Pengambilan keputusan
perlu menentukan tingkat kepentingan antara kriteria-kriteria yang ada dengan
membandingkan semua kombinasi kriteria yang mungkin. Selanjutnya disusun suatu
matriks hubungan relatif nilai kepentingan dari kriteria-kriteria yang ada.
Kemudian urutan prioritas dari kriteria dapat disusun dengan mencari eigen
vektor matriks tersebut.
Analytic
Hierarchy Process (AHP). Atau dalam bahasa Indonesia sering
disebut dengan Proses Hierarki Analitik (PHA), dikembangkan oleh Thomas L.Saaty
pada tahun 1970-an. AHP adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya
persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur
dipecahkan kedalam kelompok-kelompoknya. Kemudian kelompok-kelompok tersebut
diatur menjadi suatu bentuk hirarki (Permadi, 1992 dalam Kadarsyah Suryadi,
2002). Penilaian dari metode AHP didasarkan atas dua pernyataan, yaitu : 1)
elemen mana yang lebih penting, lebih disukai atau lebih mungkin terjadi, 2)
berapa kali lebih penting, lebih disukai atau lebih mungkin terjadi.
Beberapa prinsip yang harus dipahami dalam
penyelesaian dengan metode AHP, antara lain :
1.
Decomposition, adalah memecah persoalan yang utuh menjadi
beberapa elemen hingga elemen tersebut tidak dapat diuraikan lagi,
2. Comparative judgement, adalah proses
perbandingan antara dua elemen (pairwise
comparison) dalam suatu level sehubungan dengan level diatasnya,
3. Synthesis of priority, adalah proses
penentuan prioritas elemen dalam satu level.
4. Setelah
diperoleh skala perbandingan antara dua elemen melalui wawancara, kemudian
dicari vektor prioritas (eigen vector)
dari suatu level hirarki pada skala preferensi,
5. Logical consistency , adalah prinsip
rasionalitas AHP yaitu obyek yang serupa antara obyek yang didasarkan pada
kriteria tertentu, dengan syarat inkonsistensi tidak lebih dari 10%.
Analisis dalam metode ini dimulai dengan
melakukan penilaian terhadap pendapat berdasarkan hasil wawancara dan isian
kuisioner dari responden terkait. Adapun tahapan yang dilakukan dalam
analisis ini adalah:
1.
Identifikasi
masalah, meliputi penentuan tujuan, kriteria dan sub kriteria, dilakukan
melalui kajian pustaka,
2.
Menyusun
hierarki,
3.
Dalam
AHP, pengambilan keputusan perlu menentukan tingkat kepentingan antara
kriteria-kriteria yang ada dengan membandingkan semua kombinasi kriteria yang
mungkin (Rachmad Jayadi, 2001 dalam Suandhi, 2005). Selanjutnya disusun suatu matriks hubungan relatif
nilai kepentingan dari kriteria-kriteria yang ada. Selanjutnya urutan
prioritas/rangking dari kriteria dapat disusun dengan mencari eigen vektor matriks. Struktur formulasi
masalah dalam AHP dapat dilihat seperti gambar 3.1.
4.
Pairwise Comparison (pembandingan secara berpasangan), fase
evaluasi didasarkan pada suatu konsep pembanding berpasangan (pairwise comparison). Elemen dalam suatu
level hirarki adalaah pembanding dalam bagian itu sehingga diperoleh nilai
kepentingan atau kontribusi dari masing-masing elemen dengan memperhatikan
pengaruh elemen pada level diatasnya.
1. Tes konsistensi
Untuk mengetahui konsistensi AHP, maka
perlu dilakukan uji konsistensi. Langkah tersebut berlaku masing-masing
kriteria, sub kriteria dan alternatif, sehingga akhirnya diperoleh vektor
prioritas menyeluruh nilai masing - masing alternatif dijumlahkan dan nilai
tertinggi adalah alternatif terbaik (Saaty,1993)
....................................................(3.4)
..................................................................(3.5)
dengan:
A = matriks awal,
W =
vektor prioritas,
N =
jumlah kriteria,
λ
= nilai subjektifitas (maksimum
10%),
RI = average random consistency index.
Tabel 3.1 Random Consistency Index
|
Orde matriks (n)
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
Indeks Random
|
0
|
0
|
0,52
|
0,89
|
1,11
|
1,25
|
1,35
|
1,4
|
1,45
|
1,49
|
Sumber : Saaty (1993)
Nilai
konsistensi ini disebut ratio konsistensi (Consistensy
Ratio atau Cr).
Hal ini penting untuk menekankan bahwa
meminimalkan nilai CR. Jika
nilai CR sama dengan 0 berarti pendapat tersebut adalah konsisten sempurna. Nilai CR sampai dengan 0,10 secara umum
masih dapat ditoleransikan.
No comments:
Post a Comment