Proses metode pengolahan basah meliputi: penerimaan,
pulping, klasifikasi, fermentasi, pencucian, pengeringan, pengawetan dan
penyimpanan. Proses Metode pengolahan basah meliputi ; penerimaan, pulping,
Klasifikasi, fermentasi, pencucian, pengeringan, Pengawetan dan penyimpanan
a. Penerimaan
Hasil panen harus secepat mungkin dipindahkan ke tempat
pemerosesan untuk menghindari pemanasan langsung yang dapat menyebabkan
kerusakan (seperti : perubahan warna buah, buah kopi menjadi busuk).
Hasil panen dimasukkan kedalam tangki penerima yang dilengkapi dengan air untuk memindahkan buah kopi yang mengambang (buah kopi kering di pohon dan terkena penyakit (Antestatia, stephanoderes) dan biasanya diproses dengan pengolahan kering.Sedangkan buah kopi yang tidak mengambang (non floating) dipindahkan menuju bagian peniecah (pulper).
Hasil panen dimasukkan kedalam tangki penerima yang dilengkapi dengan air untuk memindahkan buah kopi yang mengambang (buah kopi kering di pohon dan terkena penyakit (Antestatia, stephanoderes) dan biasanya diproses dengan pengolahan kering.Sedangkan buah kopi yang tidak mengambang (non floating) dipindahkan menuju bagian peniecah (pulper).
b. Pulping
Pulping bertujuan untuk memisahkan kopi dari kulit terluar
dan mesocarp (bagian daging), hasilnya pulp. Prinsip kerjanya adalah melepaskan
exocarp dan mesocarp buah kopi dimana prosesnya dilakukan dilakukan didalam air
mengalir. proses ini menghasilkan kopi hijau kering dengan jenis yang
berbeda-beda. Macam-macam alat pulper yang sering digunakan : Disc Pulper
(cakram pemecah), Drum pulper, Raung Pulper, Roller pulper dan Vis pulper.
Untuk di Indonesia yang sering digunakan adalah Vis Pulper dan Raung Pulper.
Perbedaan pokok kedua alat ini adalah kalai Vis pulper hanya berfungsi sebagai
pengupas kulit saja, sehingga hasilnya harus difermentasi dan dicuci lagi.
Sedangkan raung pulper berfungsi sebagai pencuci sehingga kopi yang keluar dari
mesin ini tidak perlu difermentasi dan dicuci lagi tetapi masuk ke tahap
pengeringan
c. Fermentas
proses fermentasi bertujuan untuk melepaskan daging buah
berlendir (mucilage) yang masih melekat pada kulit tanduk dan pada proses
pencucian akan mudah terlepas (terpisah) sehingga mempermudah proses
pengeringan. Hidrolisis pektin disebabkan, oleh pektihase yang terdapat didalam
buah atau reaksinya bias dipercepat dengan bantuan jasad renik. proses
fermentasi ini dapat terjadi, dengan bantuan jasad renik (Saccharomyces) yang
disebut dengan proses peragian dan pemeraman. Biji kopi yang keluar dari mesin
pulper dialirkan lewat saluran sebelum masuk bak fementasi.
Selama
dalam pengaliran lewat saluran ini dapat dinamakan proses pencucian
pendahuluan. Di dalam pencucian pendahuluan ini biji kopi yang berat (bernas)
dapat dipisahkan dari sisa-sisa daging buah yang terbawa, lapisan lendir,
biji-biji yang hampa karena bagian ini terapung di atas aliran air sehingga
mudah dipisahkan.
d. Pencucian
Pencucian secara manual dilakukan pada biji kopi dari bak
fementasi dialirkan dengan air melalui saluran dalam bak pencucian yang segera
diaduk dengan tangan atau di injak-injak dengan kaki. Selama proses ini, air di
dalam bak dibiarkan terus mengalir keluar dengan membawa bagian-bagian yang
terapung beupa sisa-sisa lapisan lendir yang terlepas.
Pencucian biji dengan mesin pencucidilakukan dengan
memasukkan biji kopi tersebut kedalam suatu mesin pengaduk yang berputar pada
sumbu horizontal dan mendorong biji kopi dengan air mengalir. Pengaduk mekanik
ini akan memisahkan lapisan lendir yang masih melekat pada biji dan lapisan
lendir yang masih melekat pada biji dan lapisan lendir yang telah terpisah ini
akan terbuang lewat aliran air yang seterusnya dibuang
e. Pengeringan
Pengeringan pendahuluan kopi parchment basah, kadar air
berkurang dari 60 menjadi 53%. Sebagai alternatif kopi dapat dikeringkan dengan
sinar matahari 2 atau 3 hari dan sering diaduk, Kadar air dapat mencapai 45 %.
Pengeringan kopi Parchment dilanjutkan, dilakukan pada sinar matahari hingga
kadar air mencapai 11 % yang pada akhirnya dapat menjaga stabilitas
penyimpanan. Pengeringan biasanya dilakukan dengan menggunakan baki dengan
penutupnya yang dapat digunakan sepanjang hari. Rata-rata pengeringan antara
10-15 hari. Pengeringan buatan (suhu tidak lebih dari 55°C) juga banyak
digunakansejak pengeringan kopi alami menjadi lebih sulit dilakukan pada
perkebunan yang lebih luas.
f.
Curing
Proses selanjutnya baik kopi yang diproses secara kering
maupun basah ialah curing yang bertujuan untuk menjaga penampilan sehingga baik
untuk diekspor maupun diolah kembali.
g.
Penyimpanan
Buah kopi dapat disimpan dalam bentuk buah kopi kering atau
buah kopi parchment kering yang membutuhkan kondisi penyimpanan yang sama. Biji
kopi KA air 11 % dan RH udara tidak lebih dari 74 %. Pada kondisi tersebut
pertumbuhan jamur (Aspergilus niger, A. oucharaceous dan Rhizopus sp) akan
minimal. Di Indonesia kopi yang sudah di klasifikasi mutunya disimpan didalam
karung goni dan dijahit zigzag mulutnya dengan tali goni selanjutnya disimpan
didalam gudang penyimpanan.
No comments:
Post a Comment