Oxford English
Dictionary memberikan definisi kebijakan sebagai: Political sagacity; statecraft; prudent conduct; course of action
adopted by government party; etc. Menurut Wilson, makna modern dari gagasan kebijakan dalam Bahasa Inggris
ini adalah perangkat aksi atau rancana yang mengandung tujuan politik-yang
berbeda dengan makna administration.
Sedangkan menurut Lasswell, kata kebijakan (policy umumnya dipakai untuk
menunjukkan pilihan terpenting yang diambil baik dalam kehidupan organisasi
atau privat…kebijakan bebas dari konotasi yang dicakup dalam kata politis (political) yang sering diyakini
mengandung makan keberpihakan dan korupsi (Parson, 2008).
Dalam
bukunya Harbani Paolong (Teori Administrasi Publik: 2007) terdapat beberapa
pengertian Kebijakan Publik dari beberapa ahli. Thomas R Dye (1981), mengatakan
bahwa kebijakan publik adalah “apapun yang dipilih pemerintah untuk dilakukan
atau tidak dilakukan”. William N Dunn (1994), mengatakan bahwa kebijakan publik
adalah rangkaian pilihan-pilihan yang saling berhubungan yang dibuat oleh
lembaga atau pejabat pemerintah pada bidang-bidang yang menyangkut tugas
pemerintahan, seperti pertahanan keamanan, energi, kesehatan, pendidikan,
kesejahteraan masyarakat, kriminalitas, perkotaan dan lain-lain.
Sementara itu, Shiftz & Russel (1997)
mendefinisikan kebijakan publik dengan sederhana dan menyebut “is whatever government dicides to do or not
to do”. Sedangkan Chaizi Nasucha (2004), mengatakan bahwa kebijakan publik
adalah kewenangan pemerintah dalam pembuatan suatu kebijakan yang digunakan ke
dalam perangkat peraturan hukum. Kebijakan tersebut bertujuan untuk menyerap
dinamika sosial dalam masyarakat, yang akan dijadikan acuan perumusan kebijakan
agar tercipta hubungan sosial yang harmonis.
Dari beberapa definisi kebijakan publik di atas, dapat
dikatakan bahwa kebijakan publik merupakan: (1) keputusan atau aksi bersama
yang dibuat oleh pemilik wewenang (pemerintah); (2) berorientasi pada
kepentingan publik dengan dipertimbangkan secara matang terlebih dahulu baik
buruknya dampak yang ditimbulkan; (3) untuk melakukan sesuatu atau tidak
melakukan sesuatu
Kebijakan
publik merupakan fenomena yang kompleks dan dinamis. Kompleksitas dan dinamika
tersebut akan lebih terasa apabila pengamatan kita ditujukan pada proses
kebijakan. Dari perspektif manajemen, proses kebijakan dapat dipandang sebagai
rangkaian kegiatan yang meliputi paling tidak tiga kelompok utama, yaitu (1)
formulasi kebijakan, (2) pelaksanaan kebijakan, dan (3) evaluasi kinerja
kebijakan (Mustopadidjaja 2003).
Kebijakan merupakan instrumen strategis yang dapat
dipakai untuk melakukan intervensi pemerintah maupun lembaga-lembaga non-profit
untuk membantu memecahkan berbagai persoalan masyarakat. Suatu kebijakan, agar
dapat mencapai tujuan yang telah digariskan kemudian, akan di-breakdown menjadi
letih detil menjadi program-program dan proyek-proyek di lapangan. Tentu saja kebijakan atau pun program tidak
akan dapat mencapai tujuan atau target-target yang telah ditetapkan tanpa ada policy output (keluaran kebijakan yang
berupa barang, pelayanan dan sumberdaya) menjadi instrumen utama suatu
kebijakan atau program untuk mencapai tujuan dan sasarannya tersebut. Lebih
lanjut, agar policy output tersebut sampai kepada kelompok sasaran dengan baik
maka diperlukan adanya suatu individu, sekelompok orang atau lembaga yang
ditunjuk menjadi policy implementor.
Policy implementor inilah yang bertanggung jawab untuk melakukan delivery mechanism agar policy output sampai kepada kelompok
sasaran sehingga outcomes
(hasil-hasil kebijakan) dapat direalisasikan.
Ketika hasil-hasil kebijakan dapat diwujudkan, harapannya tujuan
kebijakan yang ditetapkan sebagai upaya untuk memecahkan berbagai persoalan
masyarakat dapat tercapai.
Ketika
suatu kebijakan diimplementasikan, maka policy
maker perlu memperoleh informasi untuk mengetahui apakah suatu kebijakan
atau program yang dirumuskannya mampu mewujudkan tujuan atau sasaran yang telah
ditetapkan. Untuk itu perlu ada instrumen yang dapat digunakan untuk memastikan
bahwa kebijakan dan berbagai program yang diimplementasikan dapat mencapai
hasil di lapangan. Secara teoritis ada dua instrumen yang dapat dipakai untuk
mengetahui apakah implementasi suatu kebijakan atau program berjalan dengan
baik dan mampu mewujudkan tujuan dan sasarnnya atau tidak. Instrumen tersebut
adalah policy monitoring dan policy evaluation.
No comments:
Post a Comment