2.1.1
Dikatakan bahwa etnisitas adalah
kelompok yang sedikitnya
telah menjalin hubungan atau,
kontak dengan kelompok etnik
yang lain, serta
setiap etnik menerima
gagasan dan ide-ide perbedaan di antara mereka, baik secara kultur maupun
politik. Dalam bahasa lain, etnisitas muncul dalam kerangka hubungan relasional saat berinteraksi,
dengan komunitasnya (Abdillah, 2002:16).
Sementara itu, menurut
Liliweri (2009:13), ada dua macam pengertian
etnik, yaitu secara sempit dan secara luas. Pengertian etnik secara luas berkaitan
dengan kehadiran suatu kelompok tertentu yang terikat dengan karakteristik
tertentu, baik
dari fisik, sosial budaya maupun teknologi. Kemudian dalam pengertian
sempit, etnik sering kali dikaitkan dengan suku bangsa. Pengertian suku bangsa di sini adalah
konsep untuk menerangkan suatu kelompok yang secara sosial
dianggap berada dan telah mengembangkan subkultur sendiri sehingga memiliki
kebudayaan yang sama, Suku
bangsa atau etnik adalah golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan
identitas terhadap adanya
“kesatuan kebudayaan.
Sementara itu”, identitas tersebut sering
kali dikuatkan oleh kesatuan bahasa juga dan oleh warga,
kesatuan kebudayaan
tersebut disebut sebagai
kebudayaan yang bersangkutan
(Koentjaraningrat, 2009:214). Relasi antar etnik terjadi manakala ada interaksi sosial,
sebab interaksi sosial adalah awal dari relasi sosial dan komunikasi sosial
antara manusia (Liliweri,2009:125). Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan
sosial yang dinamis serta menyangkut
hubungan antara orang perorangan dan,
antara kelompok manusia, maupun
hubungan antara orang perorangan dengan kelompok manusia (Nasdian, 2015:42). Dalam
psikologi sosial, individu yang satu dapat memengaruhi individu yang lain, begitu pula sebaliknya
sehingga dalam interaksi sosial, terjadi hubungan yang timbal balik (Walgito,
1983:34). Kemudian menurut
Prajarto
(2010:6), faktor-faktor yang sesungguhnya terlibat dalam interaksi sosial adalah
imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati.
Selanjutnya relasi sosial dapat
didefinisikan sebagai jalinan interaksi yang terjadi antara individu atau
kelompok dengan kelompok atas dasar status (kedudukan), dan peranan sosial. Kemudian yang dimaksud Hendropuspito
(1989:224) dengan proses
sosial adalah bentuk jalinan
interaksi yang terjadi antara perorangan atau kelompok yang bersifat dinamis
dan berpola tertentu. Pengertian lain proses sosial dapat diartikan sebagai “hubungan”
timbal balik antar individu, antara individu dengan kelompok, serta antar kelompok berdasarkan
potensi dan kekuatan masing-masing. Proses sosial atau hubungan timbal balik
tersebut dapat terjadi dalam berbagai bentuk, yaitu: kerjasama, persaingan
pertikaian, dan akomodasi. “Bentuk-bentuk proses sosial tersebut dapat terjadi
secara berantai dan terusmenerus,
bahkan dapat berlangsung seperti lingkaran tanpa ujung. Proses sosial itu, dapat bermula dari setiap
bentuk kerja sama,
persaingan, pertikaian, ataupun akomodasi, kemudian
dapat berubah lagi menjadi kerjasama dan
begitu
seterusnya. Misalnya, untuk sementara waktu, sebuah pertikaian dapat diselesaikan
sehingga pihak-pihak yang bertikai dapat bekerja sama, tetapi selanjutnya berubah
menjadi persaingan., Apabila
mencapai puncaknya, persaingan itu dapat
berubah menjadi pertikaian” (Abdul Syani, 1994:156). Sementara itu, Hendro
(1989: 236-237),
kerjasama adalah suatu
bentuk proses sosial.
No comments:
Post a Comment