Brand merupakan serangkaian asosiasi yang dipersepsikan oleh individu
sepanjang waktu, sebagai hasil pengalaman langsung maupun tidak langsung atas
sebuah brand tertentu. Brand adalah segala hal yang digambarkan oleh persepsi
dan perasaan konsumen mengenai produk dan kinerjanya dan segala hal lainnya
yang berarti konsumen (Kotler, Armstrong, 2012:243). Sejumlah teknik kualitatif
dan kuantitatif telah dikembangkan untuk membantu mengungkapkan persepsi
dan asosiasi konsumen terhadap brand tertentu.
Membicarakan citra/image, maka biasanya bisa menyangkut image
produk, perusahaan, brand, orang atau apapun yang berada dalam benak
seseorang. Menurut Zimmer dan Golden dalam Simamora (2004) mengukur
image ada dua kesulitan, pertama adalah konseptualisasi image, Image adalah
konsep yang mudah dimengerti tetapi sulit dijelaskan secara sistematis karena
sifatnya abstrak dan yang kedua adalah kesulitan dalam pengukuran.
Dalam Simamora (2004) dijelaskan bahwa ada dua pendekatan yang dapat
digunakan dalam mengukur image. Pertama adalah merefleksikan image di benak
konsumen menurut mereka sendiri. Pendekatan ini disebut pendekatan tidak terstruktur (unstructured approach) karena memang konsumen bebas menjelaskan
image suatu objek dibenak mereka.
Cara yang kedua adalah peneliti menyajikan
dimensi yang jelas, kemudian responden merespon terhadap dimensi-dimensi
yang ditanyakan itu. Ini disebut pendekatan testruktur (structured approach).
Bagaimana Brand Image terbentuk pada konsumen? Menurut Simamora
(2004) Brand Image merupakan intepretasi akumulasi berbagi informasi yang
diterima kosnumen. Jadi yang mengitepretasikan adalah konsumen, dan yang
diintepretasikan adalah informasi. Hasil intepretasi bergantung pada dua hal.
Pertama bagaimana konsumen melakukan intepretasi dan kedua informasi yang
diintepretasi. Perusahaan tidak sepenuhnya dapat mengontrol kedua faktor ini.
Karena faktor “Bagaimana konsumen melakukan intepretasi” dipengaruhi oleh
aspek konsumen sendiri dan lingkungan.
Brand Image penting untuk diketahui karena Brand Image dibentuk
melalui kepuasan konsumen. Penjualan dengan sendirinya diperoleh melalui
kepuasan konsumen, sebab konsumen yang puas selain akan membeli lagi, juga
akan membawa calon pembeli lainnya.
Komunikasi pemasaran, iklan dan promosi mempunyai peran penting
dalam pembangunan Brand Image. Hal ini disebabkan karena kegiatan ini
mempunyai target audience luas sehingga dalam waktu relatif singkat pesan yang
ingin disampaikan tentang barang lebih cepat sampai.
Ada banyak kegiatan lain
yang juga berdampak besar. Contohnya :
1. Desain kemasan, termasuk isi tulisan/pesan yang disampaikan
2. Event, promosi di toko, promosi di tempat umum dan kegiatan below the line
lainnya.
3. Iklan tidak langsung yaitu bersifat public relations
4. Corporate Social Responsibility (CSR) yaitu kegiatan-kegiatan sosial untuk
komunitas yang dilakukan oleh perusahaan.
5. Customer Service, bagaimana perusahaan menangani keluhan, masukan dari
konsumen setelah terjadi transaksi.
6. Bagaimana karyawan yang kerja di lini depan/front lines (apakah itu bagian
penjualan, kasir dan resepsionis, dll) bersikap dalam menghadapi pelanggan,
dll.
Jenis tipe komunikasi dalam daftar diatas adalah kegiatan-kegiatan yang
baik buruknya tergantung dari kegiatan perusahaan, semuanya dapat dikontrol
atau dikendalikan. Komplikasi justru akan muncul dari kegiatan-kegiatan
komunikasi seputar brand oleh pihak lain yang tidak bisa dikontrol oleh
perusahaam, misalnya komunikasi oleh konsumen langsung. Mereka bisa
menyebarkan pada networknya dengan berita yang kurang menyenangkan yang
mereka alami pada saat berinteraksi dengan brand.
Menurut Kotler dan Keller (2009 : 403) Citra merek (brand image) adalah
persepsi dan keyakinan yang dipegang oleh konsumen seperti yang dicerminkan
dalam asosiasi yang tertanam dalam ingatan konsumen.
Sebuah biro riset (www.benchmarkreseach.co.uk) dalam Erna Ferrinadewi
(2008) berpendapat bahwa konsep brand image, terdapat 3 komponen penting
yaitu
1. Brand Brand Association: merupakan tindakan konsumen untuk membuat
asosiasi berdasarkan pengetahuan mereka akan merek baik itu pengetahuan
yang sifatnya factual maupun yang bersumber dari pengalaman dan emosi.
2. Brand Values: tindakan konsumen dalam memilih merek. Sering kali
tindakan konsumen ini lebih karena persepsi mereka pada karakteristik merek
dikaitkan dengan nilai-nilai yang mereka yakini.
3. Brand Positioning: merupakan persepsi konsumen akan kualitas merek yang
nantinya persepsi ini akan digunakan oleh konsumen dalam evaluasi alternatif
merek yang akan dipilih. Association, Brand Values dan Brand Positioning.
Word of Mouth Communication adalah salah satu jenis komunikasi yang
sangat efektif dan berbahaya apabila itu menyangkut publisitas buruk.
Dalam komunikasi pemasaran, iklan dan promosi mempunyai target audience yang luas,
sehingga dalam waktu relatif singkat pesan yang ingin disampaikan tentang brand
lebih cepat sampai. Jadi pada dasarnya perusahaan perlu memperhatikan semua
elemen komunikasi dalam bentuk apapun yang menghubungkan konsumen
dengan brand perusahaan. Minimalkan kemungkinan terjadinya ketidapuasan
konsumen, sehingga berita seputar brand bisa selalu merupakan berita baik
Menurut Tatik Suryani (2013 : 86) citra merek umumnya didefinisikan
segala hal yang terkait dengan merek yang ada di benak ingatan konsumen. Citra
merek yang merupakan persepsi konsumen terhadap merek secara menyeluruh ini
dibentuk oleh informasi yang diterima dan pengalaman konsumen atas merek
tersebut. Setiap perusahaan akan membangun citra merek produk yang dipasarkan
untuk mendapatkan tempat di hati konsumennya agar selalu mengingat
produknya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Reza Jalilvand
(2012), citra merek dapat diukur melalui tiga indikator, yaitu:
(1) Kualitas produk,
(2) sejarah merek,
(3) tampilan produk.
Penyampaian komunikasi yang berbeda mempunyai kekuatan dan juga
pandangan akan suatu tujuan yang berbeda. Pengembangan Brand Image penting
agar komunikasi yang disampaikan kepada calon pembeli dapat sejajar dengan
maksud dan tujuan dari produsen.
Pengembangan Brand Image dapat membentuk kesan tersendiri. Beberapa
kesan yang terbentuk dari sudut pandang konsumen akan mempengaruhi mereka
tentang bagaimana cara mereka memandang merek tersebut, kemudian masuk kedalam ciri dan kepribadian yang khas sehingga terbentuklah citra terhadap suatu
merek.
Dalam pengembangan image atau kesan terhadap suatu brand, terhadap
ciri dan kepribadian yang khas yang harus diutamakan. Dibutuhkan beberapa
perubahan seperti program pemasaran dengan meningkatkan kekuatan dan
keunikan dari suatu merek yang akan meningkatkan brand image tersebut.
Selain itu juga mempertahankan image positif dari merek tersebut
juga dapat menetralisir image negatif yang terbentuk dari suatu brand.
Pengembangan image tersebut dapat berupa promosi ulang produk-produk yang
ditawarkan untuk dapat menimbulkan familiaritas brand atau dengan menciptakan
suatu promosi seperti promosi dari mulut ke mulut, salah satunya melalui
pelanggan yang telah mendapatkan pengalaman positif dari merek tersebut atau
melalui pelanggan yang telah loyal terhadap brand tersebut. Lebih jauh lagi
dibutuhkan usaha untuk membangun pengalaman positif yang lebih sering dan
lebih banyak
No comments:
Post a Comment