Menurut Huang (2009) ada empat dimensi informasi EWOM yang
berpengaruh terhadap penerimaan informasi. Empat dimensi tersebut adalah
kualitas informasi, otoritas sumber informasi (autority of information) ,
keautentikan informasi dan seberapa menarik suatu informasi. Penerimaan
informasi ini pada akhirnya akan mempengaruhi keinginan orang untuk
mengirimkan ulang pesan. Dalam komunikasi , semakin banyak pesan yang
dikirimkan ulang menandakan WOM yang terjadi semakin baik.
.1 Kualitas
Menurut Gelle & Karhu (2003), kualitas memerlukan kecocokan dalam
keperluan dan memenuhi kebutuhan konsumen. Hal ini berarti informasi yang
berkualitas harus bebas dari kesalahan dan memiliki desain yang cocok untuk
konsumen. Data yang berkualitas juga terbebas dari kecacatan, seperti susah
diakses, tidak akurat , kadaluarsa, tidak konsisten, tidak lengkap serta tidak
komperhensif. Gustavsson & Wänström (2008) mengartikan kualitas sebagai kemampuan
untuk memuaskan dan menyiratkan kebutuhan informasi konsumen. Dia juga
menyebutkan bahwa ada sepuluh dimensi untuk mendefinisikan defisiensi kualitas
informasi, yaitu lengkap, ringkas, reliabel, timely valid, mudah diakses, jumlah
yang pas, kredibel, relevan dan bisa dipahami.
Rieh (2002) membagi pengertian mengenai kualitas informasi ke dalam dua
tingkatan, yaitu tingkat konseptual dan tingkat operasional. Pada tingkat
konseptual , kualitas informasi didefinisikan sebagai kriteria pengguna yang
berkaitan dengan keunggulan atau dalam kasus lainnya sebagai pemberian label
yang sesungguhnya. Pada tingkat operasional, Rieh mendefinisikan sebagai
seberapa informasi tersebut akan dianggap berguna, bagus, kekinian dan akurat .
2 Autentik
Dalam kajian oleh Llicic & Webster (2014) , “autentik” secara umum
diartikan sebagai sesuatu yang sejati, nyata, dan benar. Keautentikan bukan
merupakan atribut yang melekat pada objek. Autentik merupakan interpretasi atau
taksiran oleh evaluator.
Dalam studi yang dilakukan Huang et al (2009), mengemukakan bahwa
keautentikan informasi digunakan untuk mengevaluasi apa yang dikatakan dan
bagaimana hal tersebut disampaikan. Lebih lanjut, Huang (2009) mengemukakan
bahwa ada tiga hal yang berkaitan mengeneai keautentikan yaitu kredibilitas,
kepercayaan dan keandalan infomasi.. Sebuah ulasan dalam website atau blog termasuk dalam eWOM. Dalam
penelitian yang dilakukan Banerjee & Chua (2014), menemukan beberapa
perbedaan antara ulasan online yang autentik dan palsu.. Perbedaan- perbedaan
yang muncul dilihat dari tingkat komprehensif, informatif, dan jenis tulisan.Dilihat dari segi komprehensif, ulasan yang autentik lebih cenderung berteletele (verbose) namun mudah dibaca (readable) dibanding ulasan manipulatif.
Ulasan autentik secara umum lebih informatif. Ulasan yang autentik cenderung
memiliki lebih sedikit isyarat visual dan sentuhan. Kalimat yang digunakan juga
lebih banyak menggunakan present tense. Tanda tanya lebih banyak digunakan
dan tanda seruan lebih sedikit digunakan pada ulasan autentik.
Sub- Dimensi
Tekstual Perbedaan antara ulasan autentik dan manipulati
.3 Otoritas
Wilson (1983) dalam Rieh (2002) mengartikan otoritas kognitif sebagai
pengaruh yang dirasa pengguna sebagai sesuatu yang wajar karena informasi yang
ada dianggap kredibel dan layak untuk di percaya. Rieh (2002) kemudian
memberikan definisi operasional atas otoritas kognitif sebagai jangkauan di mana
pengguna berpikir bahwa pengguna bisa mempercayai informasi. Informasi
tersebut dapat dipercaya, kredibel, dapat diandalkan, resmi dan ilmiah.
Huang et al (2009) kemudiaan membagi definisi operasional dari Rieh (2002)
menjadi dua bagian, yaitu keautentikan (kredibilitas, kepercayaan dan keandalan)
dan otoristas (amatiran, resmi atau ilmiah). Pembagian oleh Huang et al (2009) ini
didasarkan oleh pernyataan Mitra dan Watts (2002) , yaitu suara online
merepresentasikan tiga aspek komunikasi: “siapa yang berbicara”, “ apa yang
dibicarakan”, dan “bagaimana hal itu disampaikan”. Amatiran, resmi atau ilmiah
berfokus pada sumber/ siapa yang menyampaikan informasi, sehingga masuk
dalam otoritas sumber informasi.
Fritch & Cromwell (2001) dalam studinya mengungkapkan bahwa banyak
orang gagal dalam mengevaluasi informasi dari internet. Hal ini disebabkan
adanya kekurangan pengertian mengenai isu- isu disekitarnya dan otoritasnya.
Kegagalan dalam mengevaluasi informasi ini berarti bahwa informasi yang belum
pasti (questionable) digunakan sembarangan tanpa penilaian yang cukup dari
pihak yang berwewenang (authority) . Informasi yang bagus diabaikan karena
kurangnya kepercayaan pada informasi tersebut.
.4 Kemenarikan informasi
Kemenarikan informasi penting dalam bahasan kita. Informasi yang
menarik akan menarik resender untuk membaca dan menyebarkannya dalam
dunia online (Rieh, 2002). Tingkat kemenarikan informasi berkaitan dengan
seberapa menarik, lucu atau membosankan informasi tersebut disampaikan.
Garner et al (1991) dalam Matook et al (2013) menemukan bahwa
individu lebih sedikit mengingat teks yang kurang menarik dibandingkan dengan
teks yang menarik jika dihadapkan dalam data yang banyak. Ini menunjukkan
bahwa informasi yang menarik lebih diterima dari pada yang tidak menarik.
Andree et al (2012) dalam Matook et al (2013) juga berpendapat bahwa posting
yang tidak menarik tidak mempengaruhi individu dalam pemilihan konsumsinya.
Posting yang tidak menarik menawarkan lebih sedikit nilai kepada pengguna.
Matook et al (2013) dalam studinya menemukan bahwa dalam jaringan sosial
online (online social network -OSN) , pengguna sensitif terhadap posting yang
bagi mereka menarik.
Menurut Anderson et al (1984) dalam Holmes et al (2007) memaparkan
bahwa kemenarikan merupakan faktor kritis yang akan meningkatkan waktu
membaca seseorang. Hasil penelitian Powel et al (2007) sendiri menemukan
bahwa kemenarikan akan meningkatkan perhatian seseorang untuk membaca,
namun kemenarikan tidak meningkatkan pembelajaran.
No comments:
Post a Comment