Friday, November 22, 2019

Kepuasan Subjektif (skripsi dan tesis)


Kepuasan subjektif mengacu pada penilaian subjektif seseorang mengenai kepuasannya dalam domain tertentu kehidupannya. Kepuasan subjektif akan berpengaruh pada domain satisfaction seseorang yang berarti juga akan berpengaruh terhadap kepuasan hidup seseorang (Campbell dalam Diener, 2009). Berikut adalah beberapa domain yang menggambarkan kepuasan subjektif seseorang. 1. Penghasilan
Beberapa bukti menunjukkan adanya hubungan positif antara pendapatan dengan subjective well being dalam berbagai negara (Larsen, dalam Diener, 2009). Kepuasan terhadap pendapatan yang dimiliki juga berhubungan dengan kebahagiaan (Braun dan Campbell dalam Diener, 2009).
 2. Variabel Demografis lainnya
a) Umur Penelitian baru-baru ini mengatakan bahwa tidak ada pengaruh perbedaan usia dalam hal kepuasan hidup, sedangkan penelitian lainnya menunjukkan adanya hubungan positif antara usia dengan kepuasan hidup (Diener, 2009). Ada beberapa kemungkinan mengapa hasil penelitian tersebut dapat berbeda. Pertama mungkin karena perbedaan konstruk yang diukur pada setiap usia. Kedua,  kemungkinan disebabkan karena perasaan positif dan negatif yang dialami oleh individu yang lebih muda terlihat lebih intensif, dengan demikian, orang yang lebih muda terlihat mengalami tingkat kesenangan yang lebih tinggi, padahal sebenarnya orang yang lebih tua juga menilai hidup mereka dengan cara yang positif.
b) Gender Meskipun perempuan melaporkan lebih banyak perasaan negatif, tampaknya wanita juga mengalami kesenangan yang lebih besar. Menurut Gurin et al, dalam Diener, 2009) perempuan mengalami kesenangan yang lebih besar walaupun banyak juga yang mengalami perasaan negatif. Sehingga hanya sedikit perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal kebahagiaan ataupun kepuasan (Andrews & Withey, dalam Diener, 2009).
 c) Ras
 Orang kulit hitam biasanya memiliki subjective well being yang lebih rendah dibandingkan orang kulit putih di Amerika Serikat, meskipun efek ini belum ditemukan secara universal (Messer, dalam Diener, 2009). Orang kulit hitam dan kulit putih pada umumnya berbeda pada usia, pendidikan, pendapatan, status perkawinan, dan perpindahan maka penting untuk mempertimbangkan fakto-faktor ini. Jadi, walaupun beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang kulit hitam melaporkan subjective well being yang lebih rendah, akan tetapi kesimpulan ini harus dijelaskan kembali dengan melihat faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh pada hal ini. (Diener, 2009) Universitas Sumatera Utara
d) Status Kerja
Campbell et al. (1976) menemukan bahwa orang yang pengangguran merupakan kelompok yang tidak bahagia, sehingga pengangguran memiliki dampak buruk pada subjective well being karena adanya kesulitan keuangan. Bradburn, dalam Diener, 2009 melaporkan bahwa pengangguran akan berpengaruh pada subjective well being baik pada pria maupun wanita.
 e) Pendidikan
Campbell (dalam Diener, 2009) menunjukkan bahwa pendidikan memiliki pengaruh terhadap subjective well being di Amerika Serikat selama 1957-1978. Namun, efek pendidikan pada subjective well being tidaklah terlalu kuat dan tampaknya berinteraksi dengan variabel lain seperti penghasilan (Bradburn & Caplovitz dalam Diener, 2009). Analisis yang dilakukan oleh Campbell (dalam Diener, 2009) menunjukan bahwa kemungkinan pendidikan akan berhubungan positif dengan subjective well being karena pendidikan dapat berfungsi sebagai sumber daya seseorang dan juga dapat meningkatkan aspirasi seseorang.
f) Agama
Cameron (dalam Diener, 2009) menemukan bahwa religiusitas berkorelasi terbalik dengan suasana hati yang positif, akan tetapi banyak penelitian yang menunjukkan bahwa keyakinan terhadap agama, penilaian tentang seberapa penting agama, dan pelaksanaan agama umumnya berhubungan positif dengan subjective well being (Cameron dkk, dalam Diener 2009). Universitas Sumatera Utara 18 g) Pernikahan dan Keluarga Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa individu yang menikah memiliki subjective well being yang lebih tinggi daripada kelompok individu yang tidak menikah. Glenn (dalam Diener, 2009) melaporkan bahwa walaupun wanita menikah melaporkan simptom stres yang lebih besar daripada wanita yang tidak menikah, tetapi mereka juga melaporkan kepuasan yang lebih tinggi.
3. Perilaku dan Hasilnya
a) Kontak Sosial
Hal ini didukung oleh pernyataan Fordyce (dalam Diener, 2009) menyatakan bahwa ada sebuah program yang dilakukan untuk meningkatkan kebahagiaan dan program tersebut sangat merekomendasikan kontak sosial sebagai cara untuk meningkatkan subjective well being.
b) Peristiwa Hidup
Peristiwa baik berhubungan dengan afek postitif dan peristiwa buruk berhubungan dengan afek negatif. Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengontrol suatu peristiwa akan berpengaruh pada dampak dari peristiwa tersebut pada diri seseorang yang nantinya akan berpengaruh pada subjevtive well being. Bahkan peristiwa negatif dapat meningkatkan subjective well being jika individu tersebut dapat mengontrol peristiwa negatif tersebut (Gutman, dalam Diener, 2009).
 c) Aktivitas Menurut pendekatan activity teori, keterlibatan dalam aktivitas akan menyebabkan kebahagiaan. Akan tetapi tidak semua aktifitas dapat meningkatkan subjective well being. S.J.Cutler (dalam Diener, 2009) menyatakan bahwa beberapa aktifitas merupakan prediktor yang baik dari subjective well being, sedangkan yang lain tidak.
 4. Kepribadian
Kepribadian dianggap berpengaruh penting terhadap subjective well being. Campbell et al (dalam Diener, 2009) menemukan bahwa kepuasan terhadap diri sendiri menunjukkan hubungan yang tinggi dengan kepuasan hidup.
5. Kesehatan
 Kepuasan pada kesehatan merupakan prediktor dari kepuasan hidup secara keseluruhan. Diener dkk (2008) mengatakan bahwa individu dengan subjective well being yang tinggi akan lebih jarang mengalami sakit

No comments:

Post a Comment