Saturday, March 18, 2023

Manajemen Laba

 


Schipper (2000) dalam Aditama dan purwaningsih (2014) mendefinisikan
manajemen laba sebagai suatu intervensi manajemen dengan sengaja dalam proses
penentuan laba untuk memperoleh beberapa keuntungan pribadi. Maksud dari
intervensi di sini adalah upaya yang dilakukan oleh manajer untuk mempengaruhi
informasi- informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui
stakeholders yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan. Sering kali
proses ini mencakup mempercantik laporan keuangan (fashioning accounting
reports), terutama angka yang paling bawah, yaitu laba (Sulistyanto 2008:49).
Menurut Linda (2012), manajemen laba merupakan tindakan manajemen
untuk memilih kebijakan akuntansi dari suatu standar tertentu untuk memilih
kebijakan akuntansi dari suatu standar tertentu untuk mempengaruhi laba yang
akan terjadi menjadi seperti yang mereka inginkan melalui pengelolaan faktor
internal yang dimiliki atau digunakan perusahaan. definisi earnings manajement
dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Definisi Sempit
Earnings manajement dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan
metode akuntansi. Earnings manajement dalam arti sempit didefinisikan
sebagai perilaku manjer untuk “bermain” dengan komponen discretionsry
accruals dalam menentukan besarnya earnings
b. Definisi Luas
Earnings manajement merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan
(mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer
bertanggung jawab tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan)
profitabilitas ekonomis jangka panajang unit tersebut. Menurut John,
Subramanyam dan hasley (2005:118) dalam Ulfah (2011) manajemen laba
merupakan hasil akuntansi akrual yang paling bermasalah. Penggunaan dan
penilaian dan estimasi dalam akuntansi akrual mengizinkan manajer untuk
menggunakan informasi dalam dan pengalaman mereka untuk menambah
kegunaan angka akuntansi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aditama dan Purwaningsih
(2014), secara empiris membuktikan bahwa hubungan principal dan agent sering
ditentukan oleh angka akuntansi. Hal ini mengacu agent untuk memikirkan
bagaimana angka akuntansi tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk
memaksimalkan kepentingannya. Salah satu bentuk tindakan agent tersebut
adalah manajemen laba (Ardila 2012).
Menurut Scott (2000) dalam Aditama dan Purwaningsih (2014)
mengemukakan bahwa terdapat beberapa motivasi yang mendorong manajer
untuk melakukan manajemen laba, yaitu motivasi bonus, motivasi kontraktual
lainnya, motviasi politik, motivasi pajak, pergantian CEO, Initial Public Offering,
dan pemberian informasi kepada investor. Berikut ini akan diuraikan setiap
motivasi dari praktik manajemen laba.
1. Motivasi Bonus (Bonus Purpose)
Perusahaan berusaha memacu dan meningkatkan kinerja karyawan (dalam
hal ini manajemen) dengan cara menetapkan kebijakan pemberian bonus
setelah mencapai target yang ditetapkan. Sering kali laba dijadikan sebagai
indikator dalam menilai prestasi manajemen dengan cara menetapkan tingkat
laba yang harus dicapai dalam periode tertentu. Oleh karena itu, manajemen
berusaha mengatur laba yang dilaporkan agar dapat memaksimalkan bonus
yang akan diterimanya.
2. Motivasi Kontraktual Lainnya (Other Contractual Motivation)
Manajer memiliki dorongan untuk memilih kebijakan akuntansi yang
dapat memenuhi kewajiban kontraktual termasuk perjanjian utang yang harus
dipenuhi karena bila tidak perusahaan akan terkena sanksi. Oleh karena itu,
manajer melakukan manajemen laba untuk memenuhi perjanjian utangnya.
3. Motivasi Politik (Political Motivation)
Perusahaan besar dan industry strategicakan menjadi perusahaan
monopoli. Dengan demikian, perusahaan malakukan manajemen laba untuk
menurunkan visibility-nya dengan cara menggunakan prosedur akuntansi
untuk menurunkan laba bersih yang dilaporkan.
4. Motivasi Pajak (Taxation Motivation)
Manajemen termotivasi melakukan praktik manajemen laba untuk
mempengaruhi besarya pajak yang harus dibayar perusahaan dengan cara
menurunkan laba untuk mengurangi beban pajak yang harus dibayar.
5. Pergantian CEO (Chief Executive Officer)
Motivasi manajemen laba akan ada di sekitar waktu pergantian CEO. CEO
yang akan diganti melakukan pendekatan strategi dengan cara
memaksimalkan laba supaya kinenjanya dinilai baik.
6. Initial Public Offering (IPO)
Perusahaan yang pertama kali akan go public belum memiliki nilai pasar.
Oleh karena itu, manajemen akan melakukan manajemen laba pada laporan
keuangannya dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.
7. Pemberian Informasi Kepada Investor (Communicate Information toInvestors)
Manajemen melakukan manajemen laba agar laporan keuangan
perusahaan terlihat lebih baik. Hal ini dikarenakan kecenderungan investor
untuk melihat laporan keuangan dalam menilai suatu perusahaan. Pada
umumnya investor lebih tertarik pada kinerja keuangan perusahaan di masa
datang dan akan menggunakan laba yang dilaporkan pada saat ini untuk
meninjau kembali kemungkinan apa yang akan terjadi di masa yang akan
datang.

No comments:

Post a Comment