Saturday, March 18, 2023

Sentimen

  

                 Sentimen investor adalah kecenderungan investor untuk berspekulasi atau optimisme dan pesimisme investor terhadap saham (Baker dan Wulger, 2006). Pengertian lain dalam Rosiana (2017) sentimen adalah suara pasar (Black, 1986) dan harapan bias investor terhadap nilai suatu aset (Zweig, 1973). Secara umum sentimen merupakan pandangan umum investor yang berkaitan dengan arah pasar saham. Sikap investor adalah akumulasi dari berbagai faktor fundamental dan teknis secara umum mengenai perkembangan harga suatu aset. Sentimen pasar terdiri dari kumpulan psikologi investor yang tercermin melalui aktivitas dan harga instrument-instrumen keuangan di pasar modal. Kemudian sentimen pasar disebut juga sentimen investor karena didalam sentimen pasar terdiri para pelaku pasar salah satunya adalah investor. Secara empiris sentimen investor sulit dipahami secara statistik, sehingga beberapa penelitian sebelumnya menggunakan proksi yang berbeda-beda. Berdasarkan penelitian sebelumnya terdapat beberapa proksi yang dapat digunakan untuk mengukur sentimen investor sebagai berikut:

Tabel 1. Pengukuran Sentimen

Studies

Measure of sentiment

Lee et al. (2002)

Investor intelligent index

Brown and Cliff (2004)

Advance and declining ratio, high and low ratio, margin
borrowings, short interest, short sales, odd lot sales to purchase,
put-call ratio, SPX future (institutional sentiment, activity of
small traders), monthly forecast of commodity market returns,
expected volatility relative to current volatility, closed-end fund discounts, mutual fund flows, fund cash, first-day IPO returns and number of IPO

Brown and Cliff (2005)

Survey data of American Association of Individual investors

Kumar and Lee (2006)

Buy–Sell imbalance ratio

Wang et al. (2006)

Put-call trading volume ratio, put-call open interest ratio, ARMS index (advance decline ratio), survey data of American Association of Individual investors, investor intelligence index

Baker and Wurgler (2006, 2007)

closed-end fund discounts, number of IPO, IPOs first-day returns, turnover ratio, equity-debt ratios, and dividend premium

Kurov (2010)

Baker and Wurgler (2006, 2007) measures, investor intelligence survey

Qiang and Shu-e (2009)

Turnover, closed-end fund discounts, growth rate of investors account

Schmeling (2009)

Consumer confidence index

Verma and Soydemir (2009)

Survey data of individual and institutional sentiment similar with Brown and Cliff (2005)

Chuang et al. (2010)

Trading volume

Yu and Yuan (2011)

Baker and Wurgler (2006, 2007) measures

Lux (2011)

Survey data

Dergiades (2012)

Baker and Wurgler (2006, 2007) measures

Zhu (2012)

PE ratio, trading volume, turnover, closed-end fund discount, new account amounts, VIX index

Changsheng and
Yongfeng (2012)

IPO, closed-end fund discounts, turnover, number of new stock
accounts

Sumber: Pramod Kumar Naik (2016)

                 Pendapat lain menyatakan bahwa pengukuran sentimen investor dapat diklasifikasikan secara implisit dan eksplisit (Beaumont et al. 2005). Implisit merupakan pengukuran sentimen berdasarkan data keuangan objek penelitian secara objektif dan eksplisit adalah  pengukuran sentimen berdasarkan survey untuk menemukan secara langsung keadaan kondisi pasar. Beaumot juga menambahkan bahwa terdapat pengukuran lain yang dapat digunakan yakni dengan mengkombinasikan pengukuran yang secara langsung dan pengukuran tidak langsung seperti yang dilakukan oleh Baker dan Wurgler (2006) serta Brown dan Cliff (2004). Berdasarkan penelitian mereka didapatkan hasil pengukuran sentimen terbukti dapat digunakan untuk meneliti hubungan dan pengaruh sentimen investor dan return saham.

Beaumont et.al. (2005) menyatakan bahwa indikator sentimen dapat menggunakan indikator tidak langsung dari sentimen yang ditentukan dengan melihat variabel objektif yang secara implisit mengindikasikan sentimen investor. Alasan penggunaan ukuran sentimen tidak langsung adalah kemudahannya untuk dapat diperoleh pada frekuensi yang lebih tinggi (mis. setiap hari). Hasil penelitian Beaumont et.al. (2008)  bahwa sentimen memiliki dampak signifikan dan asimetris pada volatilitas semakin meningkat ketika sentimen bearish. Dengan menggunakan terminologi De Long et.al., dan Beaumont et.al. (2005) ditemukan bukti efek '' hold more '', yang menyatakan bahwa ketika pedagang noise (kebisingan atau gangguan) memegang lebih banyak aset, mereka juga melihat pengembalian meningkat, dan efek '' membuat ruang '' yang menyatakan bahwa pedagang kebisingan diberi imbalan atas risiko tambahan yang mereka hasilkan sendiri.

Rephael et.al. (2012) menganalisis proksi untuk pergeseran bulanan antara dana obligasi dan dana ekuitas di AS: pertukaran bersih agregat dana ekuitas. Rephael et.al. (2012) menyatakan bahwa sentimen investor dapat diukur menggunakan aliran dana Reksadana (mutual fund flow). Ukuran tersebut berhubungan negatif dengan perubahan VIX (Volatility Index) namun berkorelasi positif dengan pengembalian pasar agregat secara agregat. Temuan utama Rephael et.al. (2012) adalah bahwa 85% dari hubungan kontemporer berbalik arah dalam empat bulan. Efeknya lebih kuat pada saham yang lebih kecil dan saham yang sedang berkembang. Temuan ini mendukung argumen bahwa “gangguan” dalam harga pasar agregat disebabkan oleh sentimen investor. Dengan kata lain aliran dana Reksadana (mutual fund flow) dapat digunakan sebagai indikator untuk mengukur sentimen investor.

Baker dan Stein (2004) mengusulkan penjelasan lain mengapa langkah-langkah likuiditas akan memiliki hubungan time-series negatif dengan expected return. Dalam model mereka, ada satu kelas investor rasional dan satu kelas investor over convident. Kedua kelas investor memiliki bobot tersendiri terhadap penetapan harga dari sebuah sekuritas, namun investor yang over convident cenderung kurang memperhatikan informasi yang mereka terima. Selain itu terdapat juga kendala penjualan pendek di pasar dan orang dalam yang berdagang berdasarkan informasi pribadi mereka. Ketika sentimen investor meningkat, investor yang overconvident bereaksi lebih lambat terhadap informasi yang terkandung dalam perdagangan orang dalam dan memberikan bobot lebih besar pada fungsi penetapan harga. Transaksi mereka mendorong harga sekuritas untuk naik dan menurunkan dampak harga dari perdagangan tersebut.

                 Menurut Lei (2005), tingginya harga menyebabkan expected return menjadi lebih rendah dan dampak harga yang rendah akan menarik volume perdagangan. Karena ada kendala penjualan pendek di pasar, investor yang rasional tidak dapat menangkal transaksi investor yang overconvident. Hal yang ekstrem, ketika sentimen investor menjadi sangat tinggi, investor yang overconvident mendominasi pasar. Pasar dicirikan dengan likuiditas tinggi dan volume perdagangan yang tinggi. Peningkatan volume perdagangan dengan demikian mencerminkan partisipasi investor yang overconvident di pasar, dan menunjukkan peningkatan sentimen investor. Karena sentimen tinggi mengarah ke hasil yang lebih rendah, model ini memberikan penjelasan alternatif untuk hubungan time-series negatif antara tindakan likuiditas dan expected return. Volume perdagangan merupakan salah satu proksi likuiditas yang banyak digunakan dalam tes penentuan harga aset. Pertama, model yang ada menunjukkan bahwa volume perdagangan dapat menjadi salah satu aspek dari likuiditas. Kedua, volume perdagangan memiliki hubungan negatif dengan biaya transaksi, aspek lain dari likuiditas.

Trading volume activity (TVA) menerangkan aktivitas perdagangan saham dan menggambarkan keaktifan saham yang diperdagangkan dan sebesarapa likuid saham dipasar modal. Untuk menghitung TVA dapat dilakukan dengan membandingkan jumlah saham yang diperdagangkan dengan jumlah saham yang beredar pada periode penelitian (Wardhani 2012)

No comments:

Post a Comment