Weston
dan Copeland (1986) dalam Gumanti (2013), mengidentifikasi setidaknya ada 11
faktor yang dapat mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan. Berikut diulas
masing-masing faktor dimaksud.
a.
Undang-undang
(Peraturan)
Sejumlah
peraturan dengan sengaja ditetapkan untuk mengurangi kemungkinan tindakan
semena-mena dari manajemen untuk membagi dividen secara berlebihan. Peraturan
yang ada ditunjukan guna mengurangi upaya manajemen dalam upaya untuk lebih
mengedepankan kepentingan pemegang saham dengan mensyaratkan rasio tertentu
agar kepentingan kreditor tidak diabaikan. Jika karena satu dan lain hal,
perusahaan harus dilikuidasi sebagai
utang senior dan mendapat prioritas utama untuk didahulukan dipenuhi
hak-haknya, tidak berarti bahwa mereka tidak diperhatikan. Peraturan atau
perundangan yang ditetapkan pemertintah atau perserikatan dapat mempengaruhi
keputusan manajemen dalam menetapkan besar kecilnya dividen. Jadi, keberadaan
peraturan yang mensyaratkan batasan-batasan tertentu atas kebijakan dividen
dapat mempengaruhi dan menentukan besar kecilnya dividen yang diambil
perusahaan.
b.
Posisi Likuiditas
Keberadaan
laba ditahan (sisa laba) dalam laporan keuangan (neraca) perusahaan tidak
sekaligus mencerminkan ketersediaan dana di dalam perusahaan sesuai dengan
jumlah laba ditahan. Jika perusahaan sudah beroperasi dalam jangka waktu yang
lama, maka sangat besar kemungkinannya bahwa jumlah laba ditahan juga besar.
Laba ditahan yang tercantum di neraca semestinya sudah teralokasikan dalam
bentuk berbagai macam aset yang ada di sisi kiri neraca. Dengan kata lain, keberadaan
laba ditahan bukan merupakan jaminan ketersediaan dana di perusahaan. Jadi,
jika perusahaan bermaksud membayar dividen, besar kecilnya dividen tidak dapat
secara langsung dikaitkan dengan jumlah laba ditahan.
c.
Kebutuhan untuk
Pelunasan Utang (Leverege)
Jika perusahaan memiliki kewajiban (utang)
yang besar dan harus segera dibayar, maka sangat mungkin bahwa pemegang saham
harus dikorbankan, yaitu menunda atau mengurangi pembayaran dividen. Kebutuhan
dana untuk pemenuhan investasi memang tidak selamanya dapat dipenuhi dari
sumber dana internal. Pembiayaan dengan utang merupakan salah satu alternatif
dalam mendukung kebutuhan dana untuk menjamin keberhasilan keputusan investasi
perusahaan. Namun demikian, manajemen harus dapat memperkirakan dengan baik kapan
dan berapa besar kewajiban yang harus dilunasi, karena berani berutang juga
berarti juga harus berani dan dapat mebayar kembali. Membayar utang berarti
harus menyisihkan sebagian dari arus kas perusahaan dan konsekuensinya
mengorbankan kebutuhan yang lain atas arus kas.
d.
Batasan-batasan
dalam Perjanjian Utang
Perjanjian
utang, khusunya utang jangka panjang, seringkali dibarengi dengan
persyaratan-persyaratan khusus. Pihak pemberi pinjaman akan menetapkan syarat
utang-piutang yang mampu menjamin kelancaran pembayaran piutangnya. Untuk itu,
persyaratan perjanjian piutang harus dibuat seketat mungkin. Hal yang
seringkali dikedepankan adalah persyaratan untuk membatasi perusahaan dalam
membayar dividen kas (tunai). Persayaratan tersebut diajukan oleh pemberi
pinjaman tidak hanya dalam rangka menjamin, tetapi juga melindungi pemberi
pinjaman dari kemungkinan diabaikannya kewajiban membayar utang oleh peminjam.
e.
Potensi Ekspansi
Aktiva
Siklus
kehidupan perusahaan memainkan peranan penting dalam menentukan apakah sebagian
besar dari laba bersih akan dibagikan dalam bentuk dividen atau tidak. Pada
tahap-tahap awal siklus hidupnya, perusahaan akan lebih mementingkan pemenuhan
kebutuhan dana dari unsur internal yang digali dari kemampuannya sendiri. Dalam
hal ini laba yang diperoleh akan lebih banyak diorientasikan bagi pemenuhan
kebutuhan ekspansi usaha atau memebesarkan perusahaan.
f.
Perolehan Laba (Profitabilitas)
Kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba dan kestabilan tingkat laba yang diperoleh
sangat menentukan berapa besarnya dividen yang dapat dibagikan kepada pemegang
saham. Keyakinan manajemen akan prospek capaian laba di tahun depan juga
menjadi faktor kunci atas berapa besarnya dividen yang akan dibayarkan tahun
ini. Jika keyakinan manajemen bahwa prospek laba tahun depan dapat diraih, dan
dalam upaya untuk memberikan jaminan atas prospek usaha, dividen dapat
dipastikan akan mengalami peningkatan. Walaupun ada kemungkinan munculnya
perataan dividen (dividend smoothing),
hal-hal lain dianggap konstan, manajemen tetap akan menjaga kestabilan dan
berusaha untuk menunjukkan kepada pemegang saham (dalam bentuk sinyal, yaitu
dividen), bahwa perusahaan mampu memberi dividen sesuai dengan harapan pasar.
g.
Stabilitas Laba
Laba
yang stabil dari waktu ke waktu sangat menentukan besar kecilnya dividen yang
akan dibagikan kepada pemegang saham. Kestabilan berarti kemampuan menjaga laba
pada level yang ditetapkan sesuai dengan keinginan. Kestabilan laba hanya dapat
dicapai jika, hal-hal lain dianggap konstan, kestabilan penjualan dan
unsur-unsur biaya produksi dan operasional juga mampu dijaga. Kestabilan laba
menyiratkan kemapanan usaha perusahaan dan biasanya baru dapat dicapai pada
tahap siklus kehidupan dewasa (mature), walaupun dalam siklus kehidupan
pertumbuhan (growth) juga memungkinkan dicapai kestabilan operasional.
h.
Peluang Penerbitan
saham di Pasar Modal (ukuran perusahaan)
Sejalan
dengan semakin berkembang dan besarnya suatu perusahaan, kebutuhan atas
pembiayaan yang berasal dari berbagai sumber juga semakin besar, khususnya
sumber-sumber pembiayaan eksternal. Jika suatu perusahaan dapat berjalan dengan
baik, semakin besar, dan memiliki catatan yang baik dalam hal perolehan laba,
serta memerlukan dana untuk kebutuhan investasi, maka alternatif sumber
pembiayaan dengan menerbitkan saham dapat menjadi salah satu cara efektif.
i.
Kendali
Kepemilikan
Kebutuhan
akan dana bagi perusahaan seakan-akan merupakan sesuatu yang tidak ada
habisnya. Kebutuhan dana untuk aktivitas investasi dari waktu ke waktu akan
semakin besar seiring dengan semakin tumbuh dan berkembangnya perusahaan yang
sejalan dengan prinsip kelanggengan usaha (going concern principle). Sumber
dana untuk pemenuhan investasi dapat berasal dari dalam (internal) maupun dari
luar (eksternal). Ada kalanya perusahaan berusaha untuk selalu mengoptimalkan
sumber pembiayaan dari dalam daripada sumber pembiayaan dari luar.
j.
Posisi Pemegang
Saham
Siapa
pemegang saham utama atas suatu perusahaan public dapat mempengaruhi kebijakan
dividen yang ditetapkan. Jika jumlah pemegang saham institusi tidak banyak dan
diversitas pemegang saham sangat heterogen dalam arti jumlah pemegang skala
kecil yang ada banyak sekali (retail owners), dividen tunai tentu akan lebih
menarik. Sebaliknya, jika pemegang saham institusi jumlahnya banyak, baik dalam
hal persentase saham yang dimiliki maupun jumlah institusinya, akan besar
kemungkinan bahwa rasio pembayaran
dividen menjadi lebih rendah. Posisi pemegang saham disini dapat dimaknakan
sebagai siapa pengendali yang ada di perusahaan dalam arti pemegang saham
mayoritas.
k.
Kesalahan
Akumulasi Pajak dan Laba
Karakteristik
masing-masing saham sangat bervariasi termasuk juga investor di pasar modal.
Ada yang berinvestasi dalam bentuk kepemilikan saham untuk jangka pendek, ada
yang bertujuan jangka panjang. Ada juga investor yang menyukai dividen, tetapi
ada yang tidak menyukai dividen. Pada kasus pemegang saham yang tidak menyukai
dividen, misalnya karena berusaha menghindari tarif pajak penghasilan pribadi
yang tinggi, mereka lebih memilih untuk membiarkan perusahaan menumpuk labanya
dalam bentuk laba ditahan atau sisa laba. Dalam upaya untuk menekan upaya
perusahaan sebagai “penyimpan uang” (incorporated
income box), pemerintah dapat menetapkan peraturan perpajakan yang
menentukan pajak tambahan khusus terhadap penghasilan yang terakumulasi secara
tidak benar
Menurut
Sartono (2001;292-295), faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen ada
lima yaitu:
a.
Kebutuhan dana
perusahaan Kebutuhan dana perusahaan merupakan faktor yang mempengaruhi yang
harus dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan dividen karena posisi kas
perusahaan harus diperhatikan.
b.
Likuiditas
Perusahaan Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam banyak
kebijakan dividen karena dividen merupakan kas keluar bagi perusahaan, maka
semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan secara keseluruhan akan
semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
c.
Kemampuan Meminjam
Perusahaan yang memiliki kemampuan meminjam lebih besar akan memiliki kemampuan
untuk membayar dividen yang lebih besar pula.
d.
Keadaan Pemegang
Saham Jika keadaan pemegang saham lebih besar berorientasi pada capital gain,
maka dividend payout akan rendah, sehingga memungkinkan perusahaan untuk
Menahan laba untuk investasi yang profitable.
e.
Stabilitas Dividen
Bagi para investor faktor stabilitas dividen akan lebih menarik daripada
dividend payout ratio yang tinggi.