Monday, December 24, 2018

Pengertian Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)



Decision Support System atau Sistem Pendukung Keputusan secara umum didefinisikan sebagai sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan baik kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah semi terstruktur. Secara khusus Sistem Pendukung Keputusan didefinisikan sebagaisebuah sistem yang mendukung kerja seorang manajer maupun sekelompok manajer dalam memecahkan masalah semi terstruktur dengan cara memberikan informasi ataupun usulan menuju pada keputusan tertentu.[ 9 ]
Sistem Pendukung Keputrusan merupakan sistem berbasis komputer yang dirancang untuk mempertinggi efektifitas pengambil keputusan dari masalah semi terstruktur.menurut Mann dan Watson .[10]
Menurut,Maryam Alavi dan H. Albert Napier Sistem Pendukung Keputusan aalah sistem yang interaktif, yang membantu pengambil keputusan melalui penggunaaan data dan model-model keputusan untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya semi terstruktur dan tidak struktur.[10]
Menurut, Litlle Sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem informasi berbasis computer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangani berbagai permasalahan yang terstuktur ataupun tidak terstruktuir dengan menggunakan data dan model.
Menurut, Raymond Mcleod Sistem pendukung keputusan adalah sistem penghasil informasi yang ditujukan untuk memecahkan suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh manajer pada berbagai tingkatan. [10]
Dari berbagai definisi diatas dapat dikatakan bahwa sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem informasi spesifik yang ditujukan untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan persoalan yang bersifat semi terstruktur.

Pembagian pendekatan program dinamis berdasarkan persoalan (skripsi dan tesis)



1. Program Dinamis Deterministik.
Pendekatan program dinamis sebagai persoalan deterministik, dimana state pada stage berikutnya sepenuhnya ditentukan oleh state dan keputusan pada stage saat ini.
2. Program Dinamis Probabilitastik
Pada program dinamis probabilistik, tahap (stage) berikutnya tidak dapat seluruhnya ditentukan oleh state dan keputusan pada state ini, tetapi ada suatu distribusi kemungkinan mengenai apa yang akan terjadi. Namun, distribusi kemungkinan ini masih seluruhnya ditentukan oleh state dan keputusan pada stage saat ini. 
Dalam program ini meliputi tiga algoritma pemrograman dinamis yaitu     stagecoach problem, knapsack problem, dan production and inventory control problem. Pemrograman dinamis memecahkan masalah yang bersifat multi stage dan multi state. Prosedur solusi menggunakan backward recursion dari stage paling akhir (ini adalah stage yang paling dekat kepada detisnation) menuju ke stage yang paling awal.
Data – data yang diperlukan untuk stagecoach problem adalah jumlah stage, jumlah stage dan returns untuk tiap states pada successive stage. Untuk kasus knapssacak problem dibutuhkan return dan space untuk setiap stage. Sedangkan untuk production and inventory control problem memerlukan data permintaan, kapasitas penyimpanan yang berhubungan dengnan ongkos per unit dan ongkos set-up, holding dan atau ongkos shortage untuk setiap stage . Fungsi transformaasi stage dan fungsi return pada penggunaan program ini diasumsikan berbentuk linear.  [4]

Model Budijati ( 2005 )

Beberapa asumsi yang diberlakukan pada model ini adalah sebagai berikut [ 5 ] :
a.       Produk multi item
b.      Permintaan pada masing – masing jenis produk pada horison perencanaan diketahui dengan pasti.
c.       Fasilitas produksi hanya tersedia satu lintasan.
d.      Kecepatan produksi lebih besar atau sama dengan tingkat permintaan.
e.       Tidak diperkenankan adanya back order.
f.        Persediaan di akhir horison perencanaan sama dengan nol.
Permasalahan pada model yang dikembangkan dapat dilihat seperti pada gambar 2. Adapun notasi – notasi yang digunakan adalah sebagai berikut :
xij   : jumlah produksi pada periode ke i untuk item produk ke j
 I0j  : persediaan awal untuk item produk ke j
 i    : indeks periode
            dimana i = 1,2,3,...,n
        j   : indeks item produk
             dimana j = 1,2,3,..,m
       tj    :  waktu proses item produk ke j
b  : jam kerja efektif yang tersedia pada setiap periode
     Vj   : kecepatan produksi item produk ke j
Dj : permintaan pada periode j
Dari gambar 2 tersebut, dapat dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan sistem yang dimodelkan adalah sebagai berikut :
a.       Semua jenis produk memiliki due date yang sama, yaitu pada akhir horison perencanaan ( periode n )
b.      Horison perencanaan terdiri dari beberapa periode yang bersifat diskrit
c.       Masing – masing jenis produk mempunyai waktu proses yang berbeda satu dengan yang lain
d.      Pada setiap periode tersedia jam kerja efektif yang terbatas
Elemen biaya pada model yanng dikembangkan adalah :
Kj = biaya set – up untuk item produk ke j
hj = biaya simpan per unit item produk ke j dari periode i ke periode i + 1
Biaya set –up bagi item produk tertentu dikenakan, jika item produk bersangkutan diproduksi pada periode i, sehingga biaya set – up dapat didefinisikan sebagai berikut :
Model ini bertujuan untuk meminimalkan total inventory cost ( yang merupakan jumlahan biaya set – up dan biaya simpan ) untuk seluruh n periode.
Adanya due date yang sama bagi semua item produk, berarti produksi yang dilakukan dari periode 1 sampai dengan n untuk item produk ke j, digunakan untuk memenuhi permintaan item produk ke j tersebut, pada akhir horizon perencanaan ( periode n ), dan adanya keinginan bahwa persediaan akhir pada horison perencanaan sama dengan nol, maka ketentuan tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut :

Karakteristik program dinamis (skripsi dan tesis)



Suatu masalah dapat diformulasikan kedalam model programa dinamis bila memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.      Permasalahan dapat dibagi menjadi  tahap-tahap (stage) dengan sebuah keputusan pada setiap tahap.
2.      Setiap keputusan memiliki sejumlah status (state) yang berhubungan dengan tahap tersebut. Secara umum, status merupakan berbagai kemungkinan masukan yang ada pada system tertentu. Jumlah status bisa terbatas (finite) atau tidak terbatas (infinite)
3.      Pilihan keputusan setiap tahap adalah keputusan yang dapat dipilih untuk tahap tertentu.
4.      Solusi optimal dari masalah programa dinamis adalah sama dengan pemilihan status dari tahap yang terakhir.
5.      Hubungan rekrusif yang mengidentifikasi pilihan optimal untuk setiap status pada tahap n, memberikan pilihan optimal untuk setiap status pada tahap n + 1 
is

Secara umum pada program dinamis dapat dicarikan beberapa definisi sebagai berikut :
1.      Tahap adalah bagian dari program dinamis yang menggambarkan sistem secara keseluruhan dimana keputusan harus dibuat.
2.      Status adalah bagian yang menggambarkan variabel masukan yang ada pada tahap - tahap tertentu. Status merupakan penghubung antara dua tahap karena masukan bagi tahap tertentu merupakan keluaran tahap sebelumnya.
3.      Alternatif adalah variabel keputusan pada setiap tahap yang berhubungan dengan fungsi perolehan. Variabel keputusan ini bersifat mutually exclusive.[4]

Pengertian Program Dinamis (skripsi dan tesis)




    Programa dinamis adalah suatu teknis matematis yang biasanya digunakan untuk membuat suatu keputusan dari serangkaian keputusan yang saling berkaitan. Tujuan utama model ini adalah untuk memudahkan penyelesaian persoalan optimasi yang mempunyai karakteristik tertentu. [ 4 ]
   Ide dasar programa dinamis ini adalah membagi persoalan menjadi beberapa bagian yang lebih kecil sehingga memudahkan penyelesaiannya. Dibanding dengan teknik pemecahan masalah yang lain (programa linier), programa dinamis ini tidak ada formulasi matematis yang standar. Karena itu, persamaan - persamaan yang terpilih untuk digunakan harus dapat dikembangkan agar dapat memenuhi masing -masing situasi yang dihadapi. Dengan demikian, maka antara persoalan yang satu dengan persoalan lainnya dapat mempunyai struktur penyelesaian.
Programa dinamis telah banyak diterapkan dalam masalah bisnis dan industri seperti : masalah scheduling produksi, pengendalian persediaan, analisa network, proyek - proyek penelitian dan pengembangan, serta employment yang kesemuanya dapat dipecahkan dengan menggunakan prosedur penyelesaian programa dinamis yang berbeda - beda tergantung pada sifat masalah optimasinya.



Struktur Persoalan Persediaan (skripsi dan tesis)


Untuk mengklasifikasikan persoalan persediaan, persoalan ini dapat ditinjau dari dua aspek yang saling berkaitan yaitu aspek permintaan bahan baku untuk sekarang atau untuk waktu yang akan datang dan aspek yang kedua adalah untuk mengadakan persediaan agar permintaan tersebut dapat dipenuhi.
Pengetahuan mengenai kebutuhan dimasa yang akan datang dapat dibagi dalam tiga kelas, yaitu:
a.       permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang diketahui dengan    pasti, disebut dengan persoalan persediaan denga kepastian (inventory problem under certainly).
b.      Permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang tidak dapat diketahui dengan pasti, tetapi hanya dapat diketahui distribusi kemungkinannya, disebut persoalan dengan resiko (inventory problem under risk).
c.       Permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang tidak dapat diketahui, baik jumlahnya maupun kemungkinannya disebut dengan persoalan persediaan dengan ketidakpastian (inventory problem under-uncertainty).
Ada empat unsur utama yang harus diperhatikan dengan baik dalam melakukan analisis dalam system persediaan, yaitu:
a.       permintaan, adalah suatu yang dibtuhkan oleh pemakai yang perlu dikeluarkan dari persediaan. Ukuran permintaan ada yang bersifat tetap dan ada yang berubah-ubah (bervariasi).
b.      Penambahan persediaan adalah penambahan pada persediaan yang ada pada umumnya dapat dikendalikan. Sifat penambahan pada persediaan ini ukurannya dapat tetap atau bervariasi, dapat dengan atau tanpa waktu ancang-ancang (lead time).
c.       Biaya-biaya persediaan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan persediaan.
d.      Factor-faktor pembatas jumlah persediaan. Seperti keterangan pada unit keterbatasan tempat penyimpanan karena penambahan, keterbatasan pada penjadwalan dan tingkat persediaan. Keterbatasan permintaan seperti terjadinya kekurangan persediaan serta keterbatasan dana.
Dari uraian diatas, jelas terlihat semua itu adalah kendala yang hampir dialami oleh semua perusahaan, baik itu perusahaan yang kecil maupun yang besar sekalipun. Sebagai landasan utama dalam memecahkan masalah tersebut, perlu ditetapkan suatu kebijakan perusahaan terutama dalam persediaan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut ada empat kebijakan yang perlu dilakukan dengan standar kualitas:
a.       Persediaan Minimum (Minimum Point)
            Persdiaan minimum merupakan batas jumlah persediaan yang paling rendah atau kecil yang harus ada untuk suatu jenis bahan atau barang untuk menghindari terjadinya kekurangan bahan/persediaan (stock out). Untuk mengatasi hal tersebut persediaan minimum ini merupakan cadangan untuk menjamin keselamatan operasi atau kelancaran produksi perusahaan, oleh karena itu persediaan ini persediaan penyelamat (safety stock). Jadi besarnya persediaan minimum hendaknya sama besarnya persediaan penyelamat.
b.      Besar Standar Pesanan (standar Order)
            Yang dimaksud dengan pesanan standar adalah banyaknya bahan yang dipesan dalam jumlah yang tetap dalam satu periode yang telah ditetapkan, misalnya satu tahun. Pemesanan ini sering disebut juga dengan jumlah pemesanan yang ekonomis (economic order quantity), dimana hal ini dimaksudkan untuk meminimumkan yang terkandung dalam persediaan. Biaya-biaya tersebut adalah biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost). Untuk meminimumkan biaya persediaan, maka idealnya adalah biaya pemesanan tersebut sama dengan biaya penyimpanan.
c.       Persediaan maksimum (maximum Points/Stock)
            Persediaan maksimum merupakan batas jumlah persdiaan yang paling besar yang sebaiknya dapat diadakan oleh perusahaan. Batas persediaan maksimum tidak didasarkan pada pertimbangan efektifitas dan efisiensi kegiatan perusahaan. Adapun maksud dari persediaan ini adalah agar perusahaan dapat menghindari kerugian-kerugian karena kekurangan bahan (stock out) dan tidak melakukan pengadaan yang berlebihan, yang dapat menimbulkan pengeluaran biaya banyak. Adapun besarnya persediaan maksimum yang sebaiknya dimilki oleh perusahaan adalah jumlah dari pesanan standar (standar order) ditambah dengan besranya biaya penyelamat (safety order). Dengan diketahui besarnya biaya maksimum, maka akan dapat membantu pimpinan perusahaan dalam menentukan besarnya investasi maksimum yang perlu disediakan untuk bahan-bahan tertentu yang dibutuhkan.
d.      Titik pemesanan Kembali ( Reorder Point/Level)
            Titik pemesana kembali adalah suatu titik atau batas dari jumlah persediaan yang ada pada suatu saat dimana pemesanan harus diadakan kembali. Dalam menentukan titik ini harus diperhatikan besarnya penggunaan bahan selama bahan-bahan yang dipesan belum datang dan persediaan minimum. Besarnya penggunaan selama bahan-bahan yang dipesan belum diterima ditentukan oleh dua factor, yaitu lead time dan tingkat penggunaan rata-rata.


Pengawasan dan Tujuan Persediaan (skripsi dan tesis)


a.       Pengertian Pengawasan Persediaan
Pengawasan persediaan adalah suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposits dari parts atau bagian., bahan baku dan barang hasil poduksi, sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelanjaan perusahaan yang efektif dan efisien.
Pengawasan persedian dengan serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan.
b.      Tujuan Pengawasan Persediaan
Tujuan pengawasan persediaan:
1). Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.
2). Menjaga agar pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak telalu besar atau berlebih-lebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak terlalu besar.
3). Menjaga agar pembeliaan secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat biaya pemesanan menjadi besar.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan (skripsi dan tesis)


Ada beberapa macam faktor yang mempengaruhi penyelenggaraan persediaan untuk kepentingan proses produksi dalam suatu perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan tersebut saling berkaitan, sehingga faktor-faktor ini akan mempengaruhi persediaan bahan baku yang ada dalam perusahaan tersebut.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan tersebut adalah:
1.      Perkiraan Pemakaian Bahan Baku
Sebelum perusahaan yang bersangkutan ini melakukan pembelian bahan baku, sebaiknya manajemen perusahaan ini dapat memperkirakan pemakaian bahan baku tersebut untuk keperluan proses produksi tersebut dalam perusahaan yang bersangkutan. Berapa banyaknya bahan baku tiap unit yang akan dipergunakan untuk untuk setiap kali produksi ataupun tiap periode produksi. Dengan demikian maka manajemen akan mempunyai gambaran tentang pemakaian bahan baku untuk melaksanakan proses produksi pada produksi atau periode produksi yang akan datang, baik dalam jenis bahan baku maupun jumlah bahan baku dari masing-masing jenis tersebut.
Supaya dapat memperhitungkan pembelian bahan baku dari tiap-tiap jenis bahan baku yang dipergunakan tersebut, maka manajemen perusahaan tersebut akan mempunyai gambaran tentang pemakaian bahan baku untuk melaksanakan proses produksi pada periode yang akan datang, baik dalam jenis bahan baku maupun jumlah bahan baku dari masing-masing jenis produk.
2.      Harga Bahan Baku
Harga bahan baku yang akan dipergunakan dalam proses produksi terhadap persediaan bahan baku yang dilakukan dalam perusahaan  akan menjadi factor penentu seberapa besarnya dana yang harus disediakan oleh perusahaan apabila akan melakukan persediaan atau pembelian bahan baku.
3.      Biaya-Biaya Persediaan
Dalam pelaksanaan penyediaan bahan baku di perusahaan, tidak akan lepas dari adanya biaya-biaya persediaan bahan baku yang harus ditanggung oleh perusahaan. Dalam hubungannya dengan biaya-biaya persediaan ini, maka dikenal 3 macam biaya persediaan yaitu biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya tetap.
4.      Kebijaksanaan Pembelanjaan
Kebijakan pambelanjaan di dalam perusahaan akan mempengaruhi kebijakan pembelian dalam perusahaan yang bersangkutan tersebut. Demikian pula dalam pelaksanaan persediaan bahan baku di “WL” akan dipengaruhi oleh kebijaksanaan pembelanjaannya.
5.      Pemakaian Bahan
Pemakaain bahan baku perusahaan di periode-periode yang telah berlalu untuk keperluan proses produksi akan dapat digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam penyediaan bahan baku tersebut.
6.      Waktu Tunggu
Yang dimaksud waktu tunggu atau lead time disini adalah waktu tunggu bahan baku dari mulai dipesan sampai bahan baku tersebut datang. Waktu tunggu ini sangat perlu untuk diperhatikan, karena sangagat berpengaruh pada proses produksi.
7.      Model Pembeliaan Bahan Baku
Model pembeliaan bahan baku di perusahaan akan menentukan besar kecilnya persediaan bahan baku yang dilakukan dalam perusahaan. Pemilihan model pembelian bahan baku, tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada dalam intern perusahaan.
8.      Persediaan Pengaman
            Pada umumnya untuk menanggulangi adanya kehabisan bahan baku dalam perusahaan maka perusahaan yang bersangkutan akan mengadakan persediaan pengamanan (safety stock). Persediaan pengaman ini akan digunakan perusahaan apabila terjadi kekurangan bahan baku atau keterlambatan datangnya bahan baku yang dibeli oleh perusahaan sehingga proses produksi yang berlangsung dalam perusahaan tidak terganggu karena kekurangan bahan baku. Persediaan pengaman ini jumlahnya tertentu, dimana jumlah ini akan merupakan suatu jumlah yang tetap pada periode yang telah ditentukan sebelumnya.
9.      Pembelian Kembali
Persediaan bahan baku dalam suatu perusahaan tidak akan memadai jika dilaksanakan dlam sekali pembelian. Hal ini berkaitan dengan biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan bahan baku, bahan pembantu, maupun untuk fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan perusahaan. Dalam melaksanakan pembelian kembali (reorder Point) perusahaan akan memperhatikan waktu tunggu (lead time) yang diperlukan dalam pembelian bahan baku tersebut sehingga bahan baku yang dibeli dapat sampai kegudang dengan waktu yang tepat.[ 2 ]