Wednesday, January 16, 2019

Sistem Jaringan Distribusi (skripsi dan tesis)



Sistem jaringan distribusi merupakan bagian yang paling mahal bagi suatu perusahaan air bersih. Untuk itu perencanaan dari suatu sistem jaringan perpipaan harus dirancang dengan teliti mungkin agar sistem dapat bekerja secara efisien dan optimal. Kesalahan dalam merencanakan jaringan distribusi air bersih dapat berakibat fatal, misalnya sebagai berikut ini ( Radianta Triatmadja, 2000 )
1.    sebagian daerah mungkin tidak terairi pada waktu-waktu tertentu, daerah lain mungkin tidak memperoleh air sama sekali,
2.    pada suatu lokasi air terus mengalir tetapi melalui pipa yang pecah karena tidak kuat terhadap tekanan air di dalamnya,
3.    pompa bekerja tidak efisien karena kesalahan perencanaan sehingga biaya operasional tinggi,
4.    pada saat perbaikan, suatu daerah tidak mendapat suplai air,
5.    sulit dan tidak dapat dikembangkan karena pemilihan pipa yang tidak tepat,
6.    tangki terlalu kecil sehingga tidak efisien dan pompa bekerja tidak efisien,
7.    kebocoran tidak terdeteksi.

Kebutuhan Air (skripsi dan tesis)



Jumlah kebutuhan air rumah tangga pada tiap-tiap orang bervariasi, tergantung pada kondisinya atau aktifitasnya sehari-hari. Terkait dengan fungsi waktu, kebutuhan air bervariasi dari jam ke jam sepanjang hari (relatif rendah dimalam hari). Kebutuhan air untuk suatu kota adalah besarnya air yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh komponen yang ada dikota (rumah tangga, industri, perdagangan,  hotel,  dan lain-lain), ditambah dengan kehilangan akibat kebocoran pipa.
Kebutuhan air bersih dari suatu daerah ditentukan oleh jumlah penduduk yang memakainya air bersih, faktor setempat dan kondisi dari penyediaan air itu sendiri.
Pembagian kebutuhan air bersih dapat dibedakan menjadi dua yaitu kebutuhan domestik dan kebutuhan non domestik sebagai berikut ini :
1.    Kebutuhan domestik :
a.         Kebutuhan rumah tangga,
b.         Keran umum,
2.    Kebutuhan non domestik :
a.    Fasilitas perkantoran,
b.    Fasilitas perdagangan dan industri,
c.    Fasilitas sosial seperti rumah sakit, tempat ibadah dan lain-lain.
Dalam analisa kebutuhan air disuatu daerah sangat diperlukan  tingkat kepentingan daerah yang berguna untuk perkiraan – perkiraan jumlah volume air yang dibutuhkan. Besaran tersebut biasanya diberikan dalam bentuk informasi data  dari jumlah orang yang akan dilayani dan volume konsumsi rata-rata tiap orang setiap hari dari beberapa faktor tingkat konsumsi air.
Faktor – faktor yang  mempengaruhi konsumsi air bersih adalah :
1.    Penduduk, jumlah penduduk selalu berubah sesuai perubahan waktu dan tempat. Kecenderungan kenaikan pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan pula naiknya permintaan ketersediaan air bersih,
2.    Usia pengguna, sangat menentukan dalam penggunaan air. Orang dewasa akan lebih banyak membutuhkan air karena kebutuhan airnya lebih bervariasi dan dalam jumlah yang relatif lebih besar,
3.    Tingkat kemajuan penduduk, parameter tingkat ekonomi dan pendidikan penduduk pada suatu daerah menunjukkan pengelompokan tingkat konsumsi pengunaan air bersih. Kebutuhan air meningkat selaras dengan pertumbuhan kemajuan penduduk,
4.    Kebiasaan masyarakat, adat istiadat, budaya, serta agama, dalam mengunakan air pada masing-masing daerah atau negara berlainan sehingga standar kebutuhan airnya juga berbeda,
5.    Ketersediaan air, yang dimaksud ketersediaan air mencakup kuantitas, kualitas serta energi atau tekanan air, Jika ketersediaan air terbatas orang akan cendrung untuk lebih,
6.    Cuaca, iklim, pada musim kemarau kebutuhan air akan lebih besar bila dibandingkan pada saat musim hujan.



Metode Pengambilan Keputusan (skripsi dan tesis)



Menurut Rachmad Jayadi (2001, dalam Suandhi 2005), proses pengambilan keputusan merupakan proses penyelesaian masalah terkait dengan upaya pemilihan beberapa alternatif  pada cakupan pertimbangan yang kompleks dan berpotensi untuk saling bertentangan. Proses ini dimulai dengan identifikasi persoalan secara rumit. Selanjutnya adalah menetapkan adalah menetapkan kategori dan melakukan kuantifikasi tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang telah ditetapkan akan menentukan langkah atau tindakan untuk memperoleh penyelesaian persoalan. Sekali tujuan telah ditetapkan, maka sangat penting untuk melakukan identifikasi fisik dan sumber-sumber informasi yang diperlukan. Tanpa penilaian secara akurat terhadap sumberdaya dan berbagai kendala yang ada, upaya pencarian solusi akan bersifat sangat spekulatif.
Tahap berikutnya adalah menentukan beberapa opsi yang berpotensi untuk menjawab persoalan. Apakah beberapa opsi telah didapatkan, langkah berikutnya adalah menetapkan dan menerapkan kriteria pemilihan. Beberapa opsi tersebut dapat dikombinasikan kedalam beberapa alternatif yang komprehensif dan dapat diterapkan. Beberapa alternatif yang diperoleh selanjutnya dapat di evaluasi dan dikaji ulang yang hasilnya akan diberikan kepada pembuat keputusan atau pihak terkait sehingga dapat memanfaatkan informasi ini untuk memilih alternatif solusi terbaik yang dapat dilaksanakan. Alternatif terpilih akan diimplementasikan dengan disertai pemantauan (monitoring) untuk memastikan bahwa solusi yang ditempuh dapat berjalan baik.
Salah satu metode dalam pengambilan keputusan adalah Analytic Hierarchy Process (AHP). Metode AHP ini berperan dalam menstrukturkan kriteria-kriteria yang ada untuk suatu masalah pengambilan keputusan dengan banyak kriteria. Pengambilan keputusan perlu menentukan tingkat kepentingan antara kriteria-kriteria yang ada dengan membandingkan semua kombinasi kriteria yang mungkin. Selanjutnya disusun suatu matriks hubungan relatif nilai kepentingan dari kriteria-kriteria yang ada. Kemudian urutan prioritas dari kriteria dapat disusun dengan mencari eigen vektor matriks tersebut.
Analytic Hierarchy  Process (AHP). Atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan Proses Hierarki Analitik (PHA), dikembangkan oleh Thomas L.Saaty pada tahun 1970-an. AHP adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan kedalam kelompok-kelompoknya. Kemudian kelompok-kelompok tersebut diatur menjadi suatu bentuk hirarki (Permadi, 1992 dalam Kadarsyah Suryadi, 2002). Penilaian dari metode AHP didasarkan atas dua pernyataan, yaitu : 1) elemen mana yang lebih penting, lebih disukai atau lebih mungkin terjadi, 2) berapa kali lebih penting, lebih disukai atau lebih mungkin terjadi.
Beberapa prinsip yang harus dipahami dalam penyelesaian dengan metode AHP, antara lain :
1.    Decomposition, adalah memecah persoalan yang utuh menjadi beberapa elemen hingga elemen tersebut tidak dapat diuraikan lagi,
2.    Comparative judgement, adalah proses perbandingan antara dua elemen (pairwise comparison) dalam suatu level sehubungan dengan level diatasnya,
3.    Synthesis of priority, adalah proses penentuan prioritas elemen dalam satu level.
4.    Setelah diperoleh skala perbandingan antara dua elemen melalui wawancara, kemudian dicari vektor prioritas (eigen vector) dari suatu level hirarki pada skala preferensi,
5.    Logical consistency , adalah prinsip rasionalitas AHP yaitu obyek yang serupa antara obyek yang didasarkan pada kriteria tertentu, dengan syarat inkonsistensi tidak lebih dari 10%.
Analisis dalam metode ini dimulai dengan melakukan penilaian terhadap pendapat berdasarkan hasil wawancara dan isian kuisioner dari responden terkait. Adapun tahapan yang dilakukan dalam analisis ini adalah:
1.    Identifikasi masalah, meliputi penentuan tujuan, kriteria dan sub kriteria, dilakukan melalui kajian pustaka,
2.    Menyusun hierarki,
3.    Dalam AHP, pengambilan keputusan perlu menentukan tingkat kepentingan antara kriteria-kriteria yang ada dengan membandingkan semua kombinasi kriteria yang mungkin (Rachmad Jayadi, 2001 dalam Suandhi, 2005). Selanjutnya disusun suatu matriks hubungan relatif nilai kepentingan dari kriteria-kriteria yang ada. Selanjutnya urutan prioritas/rangking dari kriteria dapat disusun dengan mencari eigen vektor matriks. Struktur formulasi masalah dalam AHP dapat dilihat seperti gambar 3.1.
4.    Pairwise Comparison (pembandingan secara berpasangan), fase evaluasi didasarkan pada suatu konsep pembanding berpasangan (pairwise comparison). Elemen dalam suatu level hirarki adalaah pembanding dalam bagian itu sehingga diperoleh nilai kepentingan atau kontribusi dari masing-masing elemen dengan memperhatikan pengaruh elemen pada level diatasnya.
1.    Tes konsistensi
Untuk mengetahui konsistensi AHP, maka perlu dilakukan uji konsistensi. Langkah tersebut berlaku masing-masing kriteria, sub kriteria dan alternatif, sehingga akhirnya diperoleh vektor prioritas menyeluruh nilai masing - masing alternatif dijumlahkan dan nilai tertinggi adalah alternatif terbaik (Saaty,1993)
.....……………….......................(3.2)          
                      .............................................................(3.3 )
     
                               ....................................................(3.4)
 

                  ..................................................................(3.5)
dengan:
A  =  matriks awal,
W =  vektor prioritas,
N  =  jumlah kriteria,
            λ   =   nilai subjektifitas (maksimum 10%),
           RI  =   average random consistency index.

Tabel 3.1 Random Consistency Index
Orde matriks (n)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Indeks Random
0
0
0,52
0,89
1,11
1,25
1,35
1,4
1,45
1,49
Sumber : Saaty (1993)
Nilai konsistensi ini disebut ratio konsistensi (Consistensy Ratio atau Cr).
Hal ini penting untuk menekankan bahwa meminimalkan nilai CR. Jika nilai CR sama dengan 0 berarti pendapat tersebut adalah konsisten sempurna. Nilai CR sampai dengan 0,10 secara umum masih dapat ditoleransikan.

Proyeksi Jumlah Penduduk (skripsi dan tesis)



Perkembangan  jumlah penduduk pada suatu wilayah akan menentukan besarnya kebutuhan air bersih, dan merupakan salah satu faktor yang penting dalam merencanakan kebutuhan air ke masa depan. Dalam melakukan analisa pertambahan penduduk akan diperoleh jumlah penduduk yang digunakan untuk memperkirakan tingkat pelayanan air bersih yang diterima  pelanggan. Memperkirakan pertambahan penduduk yang digunakan dalam penelitian ini dengan metode geometrik (DPU Direktorat Jendral Cipta Karya, 1998) persamaan sebagai berikut :
...............................................................(3.1)
dimana :  Pt :  jumlah penduduk pada tahun ke- t,
Po :  jumlah penduduk pada tahun dasar hitungan (tahun ke-0),
 r  : tingkat pertumbuhan penduduk,
 t  :  jumlah tahun antara tahun proyeksi dengan tahun dasar hitungan,
Proyeksi jumlah penduduk, dengan menggunakan metode aritmatik dijabarkan dalam persamaan berikut (Anonim 1998) :
    Pn  = Po + Ka ( TnTo )    ........................................... (3.2  )
 Ka  = P2 – P1   ................................................................(3.2.a)
T2 ­– T1

Dimana : Pn = jumlah penduduk pada tahun ke-n (jiwa),
Po = jumlah penduduk pada tahun awal (jiwa),
Ka = konstanta aritmatik,
Tn = tahun ke-n (jiwa),
To = tahun dasar (jiwa),
P1 = jumlah penduduk yang diketahui pada tahun ke-1 (jiwa),
P2 = jumlah penduduk yang diketahui pada tahun akhir (jiwa),
T1 = tahun ke-1 yang diketahui,
T2 = tahun ke-2 yang diketahui.

Kebutuhan Air (skripsi dan tesis)


berbagai kebutuhan air dapat dibedakan menjadi:
1.    Kebutuhan air untuk domestik
Menurut standar FAO dan Dirjen Cipta Karya (Agung Rudi PPA, 2000) kebutuhan konsumsi air domestik tergantung dari jumlah penduduk, ukuran kota dan kehilangan air. Hubungan jumlah penduduk dan kebutuhan air dapat dilihat pada tabel 2-1.
Tabel 2-1 Kisaran pemakaian air domestik berdasarkan kategori wilayah
.No
Kategori Kota
Jumlah penduduk
(jiwa)
Kebutuhan air bersih
(liter/orang/hari)
1.
2.
3.
4.
5.
Kota Metropolitan
Kota Besar
Kota Sedang
Kota Kecil
Ibukota Kecamatan
Diatas 1 juta
500.000-1juta
100.000-500.000
20.000-100.000
Dibawah 20.000
190
170
150
110
100
  Sumber : DPU-CK 1994,  Tata cara rancangan distribusi jaringan air bersih.
2.    Kebutuhan air untuk pelayanan umum
Kebutuhan air untuk pelayanan umum meliputi penggunaan air untuk niaga, pemerintahan, pemadam kebakaran, pendidikan, pelabuhan, terminal, industri kecil dan sebagainya. Kebutuhan air untuk pelayanan umum dapat diperkirakan dari kategori kota. Kebutuhan air untuk pelayanan umum sekitar 15 – 40% 
( Agung Rudi PPA, 2000 ).
3.    Kebutuhan air untuk mengganti air yang hilang
Kebutuhan air untuk mengganti air yang hilang digunakan untuk mengantisipasi kehilangan air pada sambungan pipa, retakan, katup, filter dan sebagainya. Kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air diprediksi sekitar 25-30% dari kebutuhan air untuk domestik ( Agung Rudi PPA, 2000 ).
4.    Kebutuhan air untuk industri
Menurut Agung Rudi PPA (2000), mengemukakan bahwa kebutuhan air untuk industri kecil dan kegiatan (aktivitas) yang tidak membutuhkan air dengan  intensif termasuk kebutuhan air perkotaan, akan tetapi kebutuhan air bagi industri yang dominan dalam proses industri harus diidentifikasi tersendiri dapat dilakukan beberapa metode yaitu :
a.         Metode persamaan linier.
Perhitungan kebutuhan air dengan persamaan linier dilakukan dengan menggunakan variabel-variabel berupa hal-hal yang erat kaitannya dengan kebutuhan  air seperti jumlah penduduk,
b.         Metode analisis berdasarkan penggunaan lahan.
Analisis kebutuhan air berdasarkan penggunaan lahan dilakukan berdasarkan luas lahan yang dipergunakan bagi kegiatan usaha ( kegiatan non domestik ) pada waktu yang ditinjau,
c.         Metode analisis berdasarkan jumlah pekerja.
Metode analisis berdasarkan jumlah pekerja dilakukan melalui perhitungan kebutuhan air bagi setiap pekerja kegiatan usaha terhadap standar kebutuhan air masing-masing pekerja,


d.        Metode analisis berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan.
Metode analisis berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan dilakukan berdasarkan perhitungan besarnya kebutuhan air bagi kegiatan dan proses produksi untuk menghasilkan suatu produk.

Proyeksi Kebutuhan Air (skripsi dan tesis)



Untuk mendapatkan dari jumlah hasil proyeksi air bersih yang dibutuhkan,  diperoleh dari kebutuhan air untuk berbagai tujuan penggunaan air tersebut dikurangi perkiraan kehilangan air.
Kebutuhan air dari suatu wilayah ditentukan oleh jumlah penduduk  pengguna air bersih, faktor- faktor  yang mempengaruhi kebutuhan air bersih adalah iklim, karakteristik daerah, ukuran kota, sistem sanitasi yang digunakan, sistem operasi dan pemeliharaan, tekanan air dalam pipa, kualitas air, penggunaan meter air, tingkat ekonomi masyarakat dan harga air bersih(Budi Kamulyan, 2007) berikut ini:.
1.        Iklim, selama periode musim panas kebutuhan air akan meningkat untuk keperluan menyiram kebun, dan untuk pendinginan. Sedang pada musim penghujan kebutuhan akan air berkurang,
2.        Krakteristik daerah, daerah pemukiman dengan tingkat ekonomi yang tinggi membutuhkan air lebih banyak dibandingkan daerah pemukiman dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah,
3.        Ukuran kota, kota besar dengan kegiatan industri dan perdagangan serta jenis fasilitas yang lebih beragam tentunya akan membutuhkan air yang lebih banyak dibandingkan dengan kota yang lebih kecil dengan jenis dan jumlah fasilitas yang lebih sedikit,
4.        Sistem sanitasi yang digunakan, sistem sanitasi yang digunakan berpengaruh pada tingkat kebutuhan air, karena setiap sistem sanitasi memerlukan kebutuhan air yang berbeda dalam pengoperasiannya,
5.        Sistem operasi dan pemeliharaan, sistem operasi pemberian air yang tidak dilakukan secara kontinyu sepanjang hari, sering menyebabkan meningkatnya jumlah kebutuhan air secara total namun tidak efektif digunakan. Hal ini dapat terjadi pada saat suplai air dihentikan, konsumen membiarkan kran pada bak penampung dibiarkan terbuka, sehingga pada saat air dialirkan bak penampung akan penuh dengan sendirinya, karena tidak terkontrol maka air akan meluap dan terbuang,
6.        Tekanan dalam pipa, tekanan yang besar dalam pipa akan menyebabkan kebocoran air menjadi besar sehingga kehilangan air menjadi lebih besar,
7.        Kualitas air, kualitas air yang baik akan menaikkan penggunaan air karena konsumen merasa aman menggunakan air untuk berbagai keperluan,
8.        Penggunaan meter air, penggunanan meter air dalam pemberian suplai air kemasyarakat akan cendrung melakukan penghematan dalam mengkosumsi air, atau paling tidak akan melakukan usaha penggunaan air secara efisien,  tidak membiarkan kran air dalam  kondisi rusak / terbuka setiap saat,
9.        Tingkat ekonomi masyarakat, semakin tinggi tingkat ekonomi masyarakat akan meningkatkan kebutuhan airnya, kondisi ini terkait dengan fasilitas yang dimiliki dan tuntutan hidup yang semakin tinggi,
10.    Harga air, ada kecendrungan bahwa harga air digunakan untuk menekan  tingkat pemakaian air yang disesuaikan dengan kebutuhan atau disesuaikan dengan alokasi dana yang tersedia untuk penyediaan air.

Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja (skripsi dan tesis)


Selama berlangsungnya pekerjaan harus diukur hasil hasil yang dicapai untuk dibandingkan dengan rencana semula. objek pengawasan ditujukan pada pemenuhan persyaratan minimal segenap sumber daya yang dikerahkan agar proses konstruksi secara teknis dapat berlangsung baik. upaya mengevaluasi hasil pekerjaan untuk mengetahui penyebab penyimpangan terhadap estimasi semula. Pemantauan (monitoring) berarti melakukan observasi dan pengujian pada tiap interval tertentu untuk memeriksa kinerja maupun dampak sampingan yang tidak diharapkan (Istimawan, 1996:423)
Salah satu cara pendekatan untuk mengetahui tingkat produktivitas tenaga kerja adalah dengan menggunakan metode pengamatan work sampling dengan mengkategorikan pekerja kedalam dua group yaitu kategori bekerja dan tidak bekerja.
a. Pekerjaan Efektif (effective Work) yaitu disaat pekerja melakukan pekerjaan dizona pekerjaan
b. Pekerjaan tidak efektif (not useful), yaitu kegiatan selain diatas yang tidak menunjang penyelesaian pekerjaan, seperti meninggalkan zona pengerjaan, mengobrol sesama pekerja sehingga tidak maksimal bekerja.
sehingga produktivitas dapat dihitung:
Produktivitas Riel/jam = ∑Prod/Jam
                                                n                                                                 (1)
Dimana n= Jumlah Pengamatan

Pengukuran produktivitas tenaga kerja menurut system pemasukan fisik perorangan/per-orang atau per jam kerja orang diterima orang secara luas, namun dari sudut pengawasan harian pengukuran - pengukuran tersebut pada umumnya tidak memuaskan, karena adanya variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk yang berbeda. oleh karena itu digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja (jam, hari, atau tahun) Pengukuran diubah kedalam unit-unit pekerja yang biasanya diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja yang terpercaya yang bekerja menurut pelaksanaan standar. karena hasil maupun masukan dapat dinyatakan dalam waktu, produktivitas tenaga kerja dapat dinyatakan sebagai indeks yang sangat sederhana:
Pengukuran Waktu tenaga kerja =  
(Muchdarsyah, 1992:24-25)

Berdasarkan beberapa teori diatas maka faktor - faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja dalam penelitian ini adalah:
1.    Pengalaman Kerja
2.    Umur
3.    Kondisi Fisik Lapangan
4.    Iklim/Cuaca
Ukuran Besar Proyek