Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak studi empiris menunjukkan
bahwa pernyataan kinerja keuangan perusahaan mengandung parameter tertentu yang
berperan penting dalam perjalanan ekuitas masing-masing di pasar saham. Temuan ini
tidak terduga sejak setelah 2000 standar akuntansi internasional ditingkatkan dan
didirikan di seluruh dunia. Oleh karena itu, informasi yang ditawarkan kepada investor
sekarang lebih akurat dan relevan dari sebelumnya (Glezakos et al., 2012).
Selain itu, teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengaruh financial
performance terhadap harga saham mengacu pada teori sinyal yang merupakan
tindakan yang diambil oleh manajemen perusahaan memberikan petunjuk kepada para
investor mengenai bagaimana cara pandang manajemen terhadap prospek perusahaan.
Pemberian sinyal dengan penerbitan laporan keuangan diharapkan dapat menarik
investor unttuk bereaksi terhadap harga saham dengan menggunakan laporan
keuangan sebagai dasar analisis kinerja perusahaan (Brigham & Houston, 2011).
Investor sendiri memerlukan data laporan keuangan untuk mengambil
keputusan dalam aktivitas jual beli saham. Investor berkewajiban mengetahui secara
dalam kondisi perusahaan dimana ia berinvestasi, karena pemahamam dalam laporan
keuangan dapat membantu untuk mengetahui berbagai informasi kinerja keuangan
perusahaan. Hal tersebut dapat dilihat dari cerminan reaksi pasar ketika adanya
penerbitan laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan. Menurut Jogiyanto (2013)
reaksi pasar adalah suatu bentuk tanggapan pasar atas informasi yang diterbitkan.
Reaksi pasar ditandai dengan perubahan harga saham yang dapat menyebabkan
abnormal return. Reaksi pasar ini dipengaruhi oleh informasi yang diterbitkan.
Informasi yang diterbitkan dapat berupa berita baik atau berita buruk. Kandungan
informasi dikatakan baik ketika kondisi keuangan perusahaan meningkat dan
dikatakan buruk ketika kondisi keuangan perusahaan menurun.
Kondisi perusahaan yang sehat merupakan suatu hal yang sangat penting untuk
dapat bertahan dan mengembangkan diri dalam menjalankan operasinya sehingga
tujuan yang ditetapkan tercapai. Salah satu cara untuk mengetahui perusahaan dapat
menjalankan operasinya adalah dengan mengetahui financial performance perusahaan
yang dapat diukur melalui analisis rasio keuangan. Analisis rasio membantu kita untuk
menganalisis laporan keuangan sehingga kita dapat mengetahui kekuatan dan
kelemahan perusahaan. Menurut Munawir (2001:64) analisis rasio juga menyediakan
indikator yang dapat mengukur kinerja tingkat profitabilitas, likuiditas, pendapatan,
pemanfaatan asset dan kewajiban suatu perusahaan.
Rasio pasar adalah rasio yang mengukur harga pasar relatif terhadap nilai buku
perusahaan. Rasio pasar dalam penelitian ini diwakili oleh Earning Per Share (EPS).
EPS mengukur seberapa besar laba bersih perusahaan yang terkandung dalam satu
lembar saham beredar. EPS merupakan rasio yang dipakai investor dalam menilai
seberapa profitable perusahaan (Sukamulja, 2019). Menurut Tjiptono dan Darmadji
(2001), semakin tinggi nilai EPS akan menggembirakan pemegang saham karena
menunjukkan semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham. Menurut
Sasongko dan Wulandari (2006), apabila EPS perusahaan tinggi akan semakin banyak
investor yang tertarik membeli saham tersebut. Permintaan saham yang meningkat
maka meningkatkan harga saham serta abnormal return. Dengan demikian EPS
berpengaruh positif terhadap abnormal return.
Menurut penelitian Nurfalah (2019), penelitian mengenai pengaruh Earning
Per Share dan Return On Equity terhadap return saham bahwa nilai koefisen EPS
berpengaruh signifikan positif dengan return saham. Hal ini dikarenakan EPS
digunakan oleh investor untuk menilai sebuah perusahaan menghasilkan laba laba per
lembar saham yang dapat dihasilkan, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan telah
mampu memberikan kemakmuran bagi investor. EPS suatu perusahaan yang besar
membuat investor tertarik untuk menanamkan investasinya pada perusahaan tersebut.
Permintaan akan saham yang meningkat mengakibatkan peningkatan harga saham dan
berdampak pada return sahamnya meningkat. Pengujian ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Darmaji dan Fakhruddin (2001:158) jika EPS meningkat maka
permintaan atas saham perusahaan semakin banyak dari para calon investor sehingga
harga saham perusahaan meningkat. Jika kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
laba meningkat, maka harga saham akan meningkat. Husnan (2001:317) menyatakan
bahwa dengan meningkatnya harga saham perusahaan, maka return saham yang akan
diperoleh investor juga akan semakin tinggi.
No comments:
Post a Comment