Mengadaptasi penelitian yang dilakukan Erdogmus dan Cicek
(2012:1353) terdapat empat indikator yaitu relevancy of the content, frequent
updates of content, popularity of the content dan variety of platform and
application. Kategori skala konten dibentuk berdasarkan Smith’s Social Media
Report (Smith: 2009) dan kategori dari tipe konten itu sendiri adalah video,
foto dan website. Indikator ini juga mengadopsi teori dari buku Kertamukti
(2015) dalam faktor-faktor determinasi stimulus dalam komunikasi visual,
maka terdapat satu indikator tambahan yaitu endorser / Juru Bicara. Berikut
adalah penjelasan dari kelima indikator tersebut:
1. Relevancy of the content
Merek memiliki konten yang relevan atau sesuai pada digital
platform. Robinette, Brand, dan Lenz (2001:130) konten dikatakan
relevan ketika ada tiga hal yaitu ada pesan yang disampaikan, pesan
yang disampaikan memiliki arti, dan pesan dapat menciptakan
emotional connection. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini
mengacu pada penelitian yang dilakukan Suryadinatha dan
Hendrawan (2015) adalah konten memiliki pesan, konten memiliki
makna, dan menciptakan keterlibatan emosi.
Sedangkan dikutip dari Zimmerman dalam Numila (2013)
dikatakan bahwa “The best images are the once that will have some
emotional connection with the viewer”, pernyataan tersebut
menjelaskan bahwa gambar atau konten yang berkualitas akan
menimbulkan hubungan emosional yang dicapai melalui desain grafis
melalui komposisi gambar yang baik. Sehingga dalam penelitian ini
akan berfokus pada sisi visual dalam menciptakan pesan, makna dan
emotional connection ditambah dengan fitur video pada Instagram.
2. Frequent updates of content
Konten social media yang dilakukan perusahaan menjadikan
pelanggan merasa kebutuhan kekinian diri pelanggan dapat dipenuhi
oleh perusahaan. Perusahaan yang mampu menyesuaikan diri dengan
kekinian yang ada di lingkungan masyarakat saat ini, akan mendorong
pelanggannya untuk mengetahui perkembangan kondisi di
lingkungannya. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini
mengacu pada penelitian yang dilakukan Suryadinatha dan
Hendrawan (2015) yaitu memperbaharui konten secara berkala.
Pada penelitian ini frekuensi dan waktu dalam mengunggah
konten visual perlu diperhatikan agar lebih efektif dalam menarik
perhatian.
3. Popularity of the content
Konten yang populer atau disukai oleh pengguna social media,
menurut Erdogmus dan Cicek (2012:1355) popularitas social media
dan konten di antara teman-teman konsumen menjadi penting bagi
pelanggan untuk terlibat dengan merek di social media. Indikator
yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian yang
dilakukan Suryadinatha dan Hendrawan (2015) yaitu diketahui dan
dicari banyak orang dan memiliki konten populer dimana dalam
penelitian ini yang dimaksudkan adalah jumlah likes dan comments
dalam sebuah post.
4. Variety of platforms
Menurut Erdogmus dan Cicek (2012) banyaknya platform
menjadikan banyak pilihan berinteraksi dengan konsumen, pemasar
harus menganalisis target konsumen mereka dan memutuskan untuk
berpartisipasi dalam platforms yang paling efektif untuk
berkomunikasi dengan perusahaan.
Indikator yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada
penelitian yang dilakukan Suryadinatha dan Hendrawan (2015) yang
terdiri dari tersedia dalam berbagai platform dimana dalam penelitian
ini adalah bagaimana Instagram dapat mengomunikasikan platform
lain yang digunakan oleh perusahan seperti website, e-commerce
ataupun media sosial lain seperti YouTube dan lain – lain. Hal ini juga
didukung dengan adanya berbagai fitur Instagram yang
mempermudah dalam menghubungkan konsumen dengan platform
lain.
5. Endorser / Juru Bicara yang menarik
Alat penarik perhatian yang lazim adalah menggunakan model
atau selebriti yang menarik sebagai endorser disebut juga juru bicara
atau model. Dalam penelitian ini model atau endorser merupakan
aspek penting di industri kosmetik (Kertamukti: 2015).
Sebanyak 89% responden menurut Then dan Delong dalam Yoo
dan Lenon (2014) mempelajari tampilan produk pakaian yang disukai
adalah dengan model manusia yang realistis secara online,
menunjukkan bahwa orang lebih percaya diri saat berbelanja online
untuk pakaian jika ditampilkan pada bentuk tiga dimensi (yaitu,
manekin atau model). Efek wajah model yang menarik telah didukung
dalam banyak riset periklanan, menunjukkan bahwa orang-orang
menyukai komunikator yang menarik ataupun populer. Indikator yang
dapat digunakan adalah popularitas endorser, endorser yang menarik
dan kemampuan endorser untuk mempengaruhi konsumen
No comments:
Post a Comment