Seperti yang dikatakan Ivancevich, Konopaske dan Matteson (2003:303), stres
memiliki dampak yang bervariasi. Stres yang berdampak positif, seperti motivasi
diri dan stimulasi untuk memuaskan tujuan individu. Sedangkan stres yang
memiliki dampak negatif bersifat merusak, kontraproduktif dan bahkan secara
potensial berbahaya. Stres digolongkan menjadi 2 (dua jenis) berdasarkan
perbedaan model stres antara yang dihasilkan antara dan individu dan organisasi,
yaitu:
- Dampak Individu
Dampak stres pada individu memiliki 4 (empat) sifat yaitu: bersifat kognitif,
bersifat perilaku dan fisiologis.
a. Bersifat kognitif
Dampak stres yang bersifat kognitif mencakup konsentrasi yang buruk,
ketidakmampuan untuk mengambil keputusan yang benar atau sama sekali
tidak dapat mengambil keputusan, hambatan mental, dan penurunan tentang
perhatian.
b. Bersifat perilaku
Seperti kecendrungan untuk mengalami kecelakaan, perilaku impulsif,
penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang.
c. Bersifat fisiologis
Mencakup detak jantung yang meningkat, naiknya tekanan darah, keringat
yang berlebihan, rasa panas dingin dan tingkat glukosa serta produksi gas
asam lambung yang meningkat.
Dalam dampak psikologis dikenal suatu istilah bernama burnout (Ivancevich,
Konopaske dan Matteson, 2007:307). Burnout merupakan proses psikologis yang
dihasilkan oleh stres pekerjaan yang tidak terlepaskan dan menghasilkan
kelelahan emosi, perubahan kepribadian, dan perasaan pencapaian yang menurun.
Burnout cenderung menjadi masalah tertentu di antara orang yang pekerjaannya
memerlukan kontak yang mendalam dengan/atau memiliki tanggung jawab atas
orang lain. Burnout berpusat pada profesi yang melayani masyarakat, dan individu
yang berkomitmen pada pekerjaan mereka seperti guru, polisi, ahli terapi, dokter,
pekerja sosial, petugas pengawasan pembebasan bersyarat dan lain-lain. 4 (empat)
faktor yang pada umumnya merupakan kontributor penting terhadap burnout
yaitu: tingkat beban kerja yang tinggi, pekerjaan (karir) yang buntu, birokrasi dan
pekerjaan tulis menulis yang berlebihan, dan komunikasi serta umpan-balik yang
buruk, terutama berkenaan dengan kinerja pekerjaan (Ivancevich, Konopaske dan
Matteson, 2007:307).
Menurut Luthans (2003:396) burnout is concerned, some stres researchers
contend that burnout is a type of stres and others treat it as having a number of
components. Menurut De Cenzo dan Robbins (1999:443) Faktor yang mendukung
terjadinya burnout adalah karakteristik organisasi, persepsi organisasi,
karakteristik individu dan akibat, organisasi mengurangi tingkat stres karyawan
sebelum terjadi burnout dengan melakukan identifikasi, pencegahan, mediasi dan
pemulihan. - Dampak Organisasi
Stres menyebabkan suatu organisasi mengeluarkan banyak uang. Organisasi harus
menanggung biaya akibat dampak stres yang dialami karyawannya. Seperti klaim
asuransi, biaya pengobatan, absen yang meningkat, sabotase dan waktu kerja yang
hilang. Stres memiliki dampak yang dapat dilihat secara langsung maupun tidak
langsung. Dampak stres pada pekerja dapat dilihat dari 3 (tiga) gejala, yaitu
psikologis, phisiologis dan perilaku (Dessler, 2000:587).
Menurut De Cenzo dan Robbins (1999:40) dikatakan bahwa secara psiologis
adalah sakit kepala, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Dampak dari
psikologis yang dialami seseorang yang mengalami stres adalah kegelisahan,
depresi, dan menurunnya kepuasan kerja. Dan dampak terhadap organisasi adalah
berupa produktivitas, beban pemeliharaan kesehatan, penurunan prestasi kerja
secara kualitas dan kuantitas, kemangkiran dan turnover.
No comments:
Post a Comment