Sunday, September 8, 2024

Dampak stres

 


Seperti yang dikatakan Ivancevich, Konopaske dan Matteson (2003:303), stres
memiliki dampak yang bervariasi. Stres yang berdampak positif, seperti motivasi
diri dan stimulasi untuk memuaskan tujuan individu. Sedangkan stres yang
memiliki dampak negatif bersifat merusak, kontraproduktif dan bahkan secara
potensial berbahaya. Stres digolongkan menjadi 2 (dua jenis) berdasarkan
perbedaan model stres antara yang dihasilkan antara dan individu dan organisasi,
yaitu:

  1. Dampak Individu
    Dampak stres pada individu memiliki 4 (empat) sifat yaitu: bersifat kognitif,
    bersifat perilaku dan fisiologis.
    a. Bersifat kognitif
    Dampak stres yang bersifat kognitif mencakup konsentrasi yang buruk,
    ketidakmampuan untuk mengambil keputusan yang benar atau sama sekali
    tidak dapat mengambil keputusan, hambatan mental, dan penurunan tentang
    perhatian.
    b. Bersifat perilaku
    Seperti kecendrungan untuk mengalami kecelakaan, perilaku impulsif,
    penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang.
    c. Bersifat fisiologis
    Mencakup detak jantung yang meningkat, naiknya tekanan darah, keringat
    yang berlebihan, rasa panas dingin dan tingkat glukosa serta produksi gas
    asam lambung yang meningkat.
    Dalam dampak psikologis dikenal suatu istilah bernama burnout (Ivancevich,
    Konopaske dan Matteson, 2007:307). Burnout merupakan proses psikologis yang
    dihasilkan oleh stres pekerjaan yang tidak terlepaskan dan menghasilkan
    kelelahan emosi, perubahan kepribadian, dan perasaan pencapaian yang menurun.
    Burnout cenderung menjadi masalah tertentu di antara orang yang pekerjaannya
    memerlukan kontak yang mendalam dengan/atau memiliki tanggung jawab atas
    orang lain. Burnout berpusat pada profesi yang melayani masyarakat, dan individu
    yang berkomitmen pada pekerjaan mereka seperti guru, polisi, ahli terapi, dokter,
    pekerja sosial, petugas pengawasan pembebasan bersyarat dan lain-lain. 4 (empat)
    faktor yang pada umumnya merupakan kontributor penting terhadap burnout
    yaitu: tingkat beban kerja yang tinggi, pekerjaan (karir) yang buntu, birokrasi dan
    pekerjaan tulis menulis yang berlebihan, dan komunikasi serta umpan-balik yang
    buruk, terutama berkenaan dengan kinerja pekerjaan (Ivancevich, Konopaske dan
    Matteson, 2007:307).
    Menurut Luthans (2003:396) burnout is concerned, some stres researchers
    contend that burnout is a type of stres and others treat it as having a number of
    components. Menurut De Cenzo dan Robbins (1999:443) Faktor yang mendukung
    terjadinya burnout adalah karakteristik organisasi, persepsi organisasi,
    karakteristik individu dan akibat, organisasi mengurangi tingkat stres karyawan
    sebelum terjadi burnout dengan melakukan identifikasi, pencegahan, mediasi dan
    pemulihan.
  2. Dampak Organisasi
    Stres menyebabkan suatu organisasi mengeluarkan banyak uang. Organisasi harus
    menanggung biaya akibat dampak stres yang dialami karyawannya. Seperti klaim
    asuransi, biaya pengobatan, absen yang meningkat, sabotase dan waktu kerja yang
    hilang. Stres memiliki dampak yang dapat dilihat secara langsung maupun tidak
    langsung. Dampak stres pada pekerja dapat dilihat dari 3 (tiga) gejala, yaitu
    psikologis, phisiologis dan perilaku (Dessler, 2000:587).
    Menurut De Cenzo dan Robbins (1999:40) dikatakan bahwa secara psiologis
    adalah sakit kepala, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Dampak dari
    psikologis yang dialami seseorang yang mengalami stres adalah kegelisahan,
    depresi, dan menurunnya kepuasan kerja. Dan dampak terhadap organisasi adalah
    berupa produktivitas, beban pemeliharaan kesehatan, penurunan prestasi kerja
    secara kualitas dan kuantitas, kemangkiran dan turnover.

No comments:

Post a Comment