Menurut De Cenzo dan Robbins (1999:440) ada dua faktor yang mempengaruhi
stres, yaitu:
- Individual: faktor individual bisa disebut sebagai faktor pribadi atau internal
seseorang. Meliputi masalah keluarga, masalah ekonomi dan masalah
kepribadian karyawan. - Organisasional: berhubungan langsung dengan pekerjaan individu tersebut.
Seperti beban kerja, tuntutan tugas, waktu kerja, kompensasi, konflik antar
karyawan dan lain-lain.
Sedangkan menurut Robbins (2003: 578), kondisi-kondisi yang menyebabkan
stres disebut stressor. Ada tiga faktor utama yang menyebabkan stres, yaitu:
a. Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu dapat menyebabkan pengaruh
pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat terhadap karyawan. Dalam
faktor lingkungan terdapat tiga hal yang dapat menimbulkan stres pada karyawan
yaitu ekonomi, politik dan teknologi. Perubahan yang sangat cepat membuat
karyawan harus dapat beradaptasi mengimbangi keadaan tersebut, dimana ketiga
hal tersebut membuat karyawan akan cepat mengalami stres. Hal ini dapat terjadi,
misalnya perubahan teknologi yang sangat cepat.
Perubahan yang baru terhadap teknologi akan membuat keahlian seseorang dan
pengalamannya tidak terpakai karena hampir semua pekerjaan dapat terselesaikan
dalam waktu yang cepat, sehingga karyawan mengalami tingkat kecemasan
dikarenakan ancaman untuk tidak dipakai lagi tenaganya atau di PHK. Keadaan
politik seperti pelanggaran UU No. 13 tahun 2003 yang berisi tentang paraturan
terhadap tenaga kerja Indonesia. Contoh-contoh pelanggaran yang sering terjadi di
Indonesia terutama wanita meliputi: perusahaan tidak menyediakan antar jemput
bagi pekerja wanitanya, waktu bekerja melebihi 7 jam dalam 1 hari, kurangnya
transparansi dalam pengupahan, tidak adanya jaminan kehidupan, tidak adanya
perlindungan dan lain-lain. Sedangkan dalam indikator ekonominya, stres pekerja
dipicu jika keadaan ekonomi tidak stabil. Keadaan ekonomi yang tidak stabil
menimbulkan gejolak sosial yang membuat keadaan lingkungan sekitar menjadi
tidak aman. Seperti terjadinya demo, tuntutan turunnya harga sembako yang
menutup jalan umum sehingga para pekerja terhambat dalam menjalankan
tugasnya.
b. Faktor Organisasi
Di dalam organisasi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan stres, yaitu
role demands (tuntutan peran), interpersonal demands (tuntutan antar
perseorangan), interpersonal demands (struktur organisasi) dan organizational
leadership (kepemimpinan organisasi).
Pengertian dari masing-masing faktor organisasi tersebut adalah sebagai berikut: - Role demands (tuntutan peran): Tuntutan peran memicu tekanan pada pekerja
jika peran dan fungsi pekerja dalam pekerjaannya tidak jelas. Role conflicts
(peran konflik) menimbulkan harapan-harapan yang mungkin susah untuk
didamaikan. Role overload (peran berlebih) adalah berpengalaman ketika
pekerja diminta untuk melakukan sesuatu yang lebih. Role ambiguity (peran
ambigu) timbul saat pengharapan peran tidak dimengerti dan pekerja tidak
yakin akan apa yang mereka lakukan (Robbins, 2003: 579). - Interpersonal demands (tuntutan antar perseorangan): Tekanan yang
diciptakan oleh karyawan lainnya dalam organisasi. (Robbins, 2003: 580).
Hubungan komunikasi yang tidak jelas antara karyawan satu dengan
karyawan lainnya akan dapat menyebabkan komunikasi yang tidak sehat.
Sehingga pemenuhan kebutuhan dalam organisasi terutama yang berkaitan
dengan kehidupan sosial akan menghambat perkembangan sikap dan
pemikiran antara karyawan satu dengan karyawan lainnya. - Interpersonal demands (struktur organisasi): Mengartikan tingkat perbedaan
dalam organisasi dimana keputusan tersebut dibuat dan jika terjadi
ketidakjelasan dalam struktur pembuat keputusan atau peraturan maka akan
dapat mempengaruhi kinerja seorang karyawan dalam organisasi (Robbins,
2003: 580). - Organizational leadership (kepemimpinan organisasi): Berkaitan dengan
peran yang akan dilakukan oleh seorang pimpinan dalam suatu organisasi.
Karakteristik pimpinan menurut The Michigan Group (Robbins, 2001: 316)
dibagi dua yaitu karakteristik pemimpin yang lebih mengutamakan atau
menekankan pada hubungan yang secara langsung antara pemimpin dengan
karyawannya serta karakteristik pemimpin yang hanya mengutamakan atau
menekankan pada hal pekerjaan saja. - Task demands (tututan tugas): Faktor-faktor yang berhubungan langsung ke
pekerjaan yang meliputi desain pekerjaan, kondisi pekerjaan, dan tata ruang
pekerjaan. (Robbins, 2003: 579). Job design (desain pekerjaan) menurut
Stoner, dkk (1996: 55) desain pekerjaan adalah pembagian kerja sebuah
organisasi di antara para karyawannya. Sedangkan menurut James W. Walker
(1992:261) work design involves specification of the activities, methodand
relationship of jobs in order to satisfy performance requirement. Maksud dari
dilakukannya desain pekerjaan adalah meningkatkan tantangan dan otonomi
bagi karyawan yang melakukannya atau memberdayakan karyawan untuk
melakukannya
No comments:
Post a Comment