Limbah kopi mengandung beberapa zat kimia beracun seperti
alkaloids, tannins, dan polyphenolics. Hal ini membuat lingkungan degradasi
biologis terhadap material organik lebih sulit. Limbah kopi
yang berupa kulit termasuk limbah organik sehingga mudah terdegradasi oleh lingkungan.
Limbah hasil pengolahan kopi yaitu berupa daging buah yang secara fisik
komposisi mencapai 48%, terdiri dari kulit buah 42% dan kulit biji 6%
(Zainuddin et al, 1995).
Dampak sederhana yang ditimbulkan
adalah bau busuk yang cepat muncul. Hal ini karena kulit kopi masih memiliki
kadar air yang tinggi, yaitu 75-80% (Simanihuruk et al., 2010)
sehingga sangat mudah ditumbuhi oleh mikroba pembusuk. Tentunya, hal ini akan
menggangu lingkungan sekitar jika dalam jumlah besar karena dapat mencemari
udara. Selain itu, kulit kopi yang terbengkalai juga dapat menjadi media tumbuh
bakteri pathogen mengingat kandungan nutrisinya yang masih cuku tinggi.
Akibatnya, penyakit yang ditimbulkan dapat menjadi wabah karena dibawa angin
atau lalat yang hinggap.
Dampak
lingkungan berupa polusi organik limbah kopi yang paling berat adalah pada
perairan di mana effluen kopi dikeluarkan. Dampak itu berupa pengurangan
oksigen karena tingginya BOD dan COD. Substansi organik terlarut dalam air
limbah secara amat lamban dengan menggunakan proses mikrobiologi dalam air yang
membutuhkan oksigen dalam air. Karena terjadinya pengurangan oksigen terlarut,
permintaan oksigen untuk menguraikan organik material melebihi ketersediaan
oksigen sehingga menyebabkan kondisi anaerobik. Kondisi ini dapat berakibat
fatal untuk makhluk yang berada dalam air dan juga bisa menyebabkan bau, lebih
jauh lagi, bakteri yang dapat menyebabkan masalah kesehatan dapat meresap
ke sumber air minum.
No comments:
Post a Comment