II.5
Upaya miinimasi limbah kopi dapat
dibagi menjadi dua, upaya minimasi limbah padat kopi dan upaya minimasi limbah
cair kopi.
1.
Upaya
minimasi limbah padat kopi
Berikut
adalah beberapa cara untuk meminimalisasi limbah padat kopi yang banyak terdiri
dari kulit luar dan kulit dalam kopi:
a. Limbah
kopi untuk pengganti briket batubara
Limbah kopi dapat dijadikan sebagai
pengganti briket batubara. Hal ini telah dilakukan oleh PT Sari Incoofood di
Pematang Siantar, Sumatera Utara. Dari 1 kilogram ampas kopi yang dihasilkan
dalam proses pengolahan biji kopi dapat dihasilkan sebanya 4 ons briket.
Pengolahan itu dilakukan dengan mengambil ampas biji kopi. Proses pengolahan cukup
sederhana yaitu dilakukan dengan cara mengeringkan limbah kopi. Selanjutnya, limbah dijadikan arang dan kemudian
dicetak. Briket dari limbah kopi itu siap dipakai dalam bentuk cetakan bulat,
sebesar buah kemiri. Cara memanfaatkannya sama dengan briket batu bara.
b. Limbah
kopi untuk biodiesel
Pengolahan limbah kopi untuk
biodiesel ini diproses dengan cara meng-ekstraksi kandungan minyak biodiesel
yang ada dalam limbah kopi. Limbah kopi mengandung biodiesel sebesar 10% sampai
dengan 20%. Dari total kapasitas produksi kopi dunia yang hampir mencapai angka
16 milyar pon per tahun, diperkirakan berpotensi menghasilkan biodiesel sebesar
340 juta galon.
c. Limbah
kopi untuk pakan ternak
Limbah kopi yang dipakai untuk pakan
ternak berasal dari kulit kopi. Formula pakan seimbang dengan menggunakan
limbah kulit kopi untuk penggemukan ada takarannya. . Cara pembuatannya adalah
campurkan air dengan gula pasir, urea, NPK dan campur dengan Asperigillus Niger
kemudian diaerasi 24-36 jam, dan setiap beberapa jam buihnya dibuang.
Larutan Asperigillus siap dipakai. limbah kopi dicampur
dengan larutan Asperigillus yang siap pakai lalu didiamkan selama 5 hari, maka
jadilah limbah kopi terfermentasi. Kemudiaan limbah ini dikeringkan, setelah
limbah tersebut kering giling sehingga menjadi tepung limbah kering yang siap
menjadi makanan ternak. Hasil yang didapat dari penggunaan limbah kopi ini
sangat baik yaitu dapat menghasilkan pertambahan bobot badan kambing dengan
menggunakan terapan tehnologi itu rata-rata 108 gram per hari.
2.
Upaya
Minimalisasi Limbah Cair Kopi
Kandungan COD dan BOD yang tinggi dalam limbah cair kopi
dapat dikurangi dengan penyaringan dan pemisahan pulp. Pada cara ini kandungan
COD dan BOD menjadi jauh lebih rendah, yaitu mencapai 3429-5524 mg/l untuk COD
dan 1578-3248 mg/l untuk BOD
Bahan-bahan organik padat yang berupa pektin dapat diambil
langsung dari air. Jika pektin tidak diambil, maka akan ada kenaikan pH dan
COD. Untuk memaksimalkan proses anaerobik pada limbah cair tersebut, maka
diperlukan tingkat pH sebesar 6,5-7,5, sementara tingkat pH limbah cair kopi
adalah 4, yang merupakan tingkat pH sangat asam. Hal ini bisa diatasi dengan
penambahan kalsium hidroksida (CaOH2) kepada limbah
cair kopi. Hasilnya, tingkat solubilitas pektin dapat meningkat serta
peningkatan COD dari rata-rata 3700 mg/l kepada rata-rata 12650 mg/l.
The Central Pollution Control Board (CPCB) India telah
menyarankan sebuah solusi tekhnis yang berdasarkan desain National
Environmental Engineering Research Institute (NEERI) untuk mengoolah limbah
kopi. Saran dari CPCB ini terdiri dari 3 fase: fase pertama adalah fase
netralisasi di mana limbah yang bersifat asam dinetralkan dengan kapur, lalu
diikuti dengan pengolahan anerobik dalam laguna dan yang terakhir adalah fase
aerobik. Tujuan pengolahan ini adalah untuk menyusaikan BOD dan COD sesuai
dengan tingkat yang tak membahayakan.
Biogas
reaktor atau bioreaktor juga bisa menjadi alternatif pilihan untuk mengolah
limbah cair kopi dengan cara anaerobik.
No comments:
Post a Comment