Menurut Baroto (2002), perencanaan agregat
merupakan perencanaan produksi jangka menengah. Horizon perencanaannya biasanya
berkisar antara 1 sampai 24 bulan. Horizon waktu ini tergantung pada
karakteristik produk dan jangka waktu produksi. Pada dasarnya perencanaan
produksi agregat merupakan suatu proses penetapan tingkat output/kapasitas
produksi secara keseluruhan guna memenuhi tingkat permintaan yang diperoleh
dari peramalan dan pesanan dengan tujuan meminimalkan total biaya produksi.
Menurut Kusuma (2004), perencanaan agregat
bertujuan untuk merencanakan jadwal induk produksi untuk beberapa periode
mendatang, merencanakan kondisi optimal ketersediaan sumber daya terhadap
ekspektasi permintaan produk serta pengembangan strategi penggunaan sumber daya
itu. Tujuan perencanaan agregat ialah menggunakan sumber daya manusia dan
peralatan secara produktif. Kata agregat menunjukan bahwa perencanaan dilakukan
di tingkat kasar dan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan total seluruh produk
dengan menggunakan seluruh sumber daya manusia dan peralatan yang ada pada
fasilitas produksi tersebut. Namun menurut Kusuma (2004), perlu diperhatikan
bahwa satuan agregat hanya digunakan pada beberapa produk yang menggunakan
fasilitas produksi yang sama. Jika terdapat dua produk yang menggunakan dua
fasilitas produksi yang berlainan. Hal itu berarti bahwa kedua produk itu tidak
perlu dikonversikan ke dalam satuan agregat.
Beberapa fungsi perencanaan agregat yaitu :
a.
Menjamin rencana penjualan dan rencana produksi konsisten
terhadap rencana strategi perusahaan.
b.
Alat ukur performansi proses perencanaan produksi.
c.
Menjamin kemampuan produksi terhadap rencana produksi.
d.
Memonitor hasil produksi aktual terhadap rencana produksi
dan membuat penyesuaian.
e.
Mengatur persediaan produk jadi untuk mencapai target dan
membuat penyesuaian.
f.
Mengarahkan penyusunan dan pelaksanaan jadwal induk
produksi.
Machfud dalam Hadi (2005) berpendapat bahwa
perencanaan produksi agregat berkaitan dengan permasalahan ketidakseimbangan
antara permintaan dan kemampuan produksi pada setiap periode perencanaan. Hal
ini secara umum tingkat permintaan produk selalu tidak sama antar periode satu
ke periode lainnya. Menurut Hill dalam Hadi (2005), karakteristik
perencanaan produksi agregat adalah sebagai berikut :
a. Tingkat agregat permintaan akan produk terdiri dari satu
atau beberapa kategori produk. Permintaan diasumsikan berfluktuasi, tidak pasti
atau musiman.
b. Kemungkinan berubahnya variabel pasokan dan permintaan
c. Fasilitas dianggap tetap dan tidak dapat diperluas.
Perencanaan agregat juga merupakan suatu keputusan
mengenai kapasitas jangka menengah. Perencanaan agregat merupakan langkah awal
aktivitas perencanaan produksi yang dipakai sebagai pedoman untuk langkah
selanjutnya, yaitu penyusunan Jadwal Induk Produksi (Baroto, 2002).
No comments:
Post a Comment