Cheng at al. (2000) mengemukakan bahwa
kesuksesan kemitraan dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu :
1) Keahlian manajemen yang mencakup komunikasi efektif
dan revolusi konflik.
a. Komunikasi efektif.
Dikarenakan oleh adanya perbedaan
budaya, tujuan, sasaran akhir yang dikehendaki oleh masing-masing mitra akan
terjadi konflik dan mengakibatkan terjadinya pertentangan dan hubungan antar
mitra. Keahlian komunikasi yang efektif akan membantu organisasi untuk memfasilitasi
pertukaran ide dan gagasan yang akan mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan
kepercayaan antar anggota mitra. Termasuk di dalam pembentukan saluran
komunikasi yang efektif yang dapat digunakan untuk memotivasi anggota mitra
untuk ikut berpartisipasi dalam perencanaan, menentukan sasaran akhir dan usaha
korporasi untuk menciptakan harapan yang sesuai. (Mohr dan Spekman, 1994).
b. Resolusi konflik
Dampak dari penyelesaian suatu
konflik dapat mengakibatkan peningkatan produktifitas tetapi kadang juga dapat
merusak hubungan antar mitra dan semua itu tergantung pada teknik yang
digunakan oleh masing-masing mitra dalam menyelesaikan konflik yang terjadi.
(Mohr dan Spekman 1994).
Dalam kemitraan penyelesaian konflik
selalu mencari solusi yang saling menguntungkan dan memuaskan diantara kedua
belah pihak. masing-masing mitra disarankan untuk mengadopsi teknik resolusi
pemecahan konflik yang produktif seperti pemecahan masalah secara bersama-sama.
Terutama dalam lingkungan yang tidak pasti dan dinamis, pemecahan masalah
secara bersama-sama merupakan strategi yang harus dilakukan dalam kemitraan.
Selama dalam pemecahan masalah secara bersama-sama mitra saling berbagi tentang
pandangan mereka tentang isu konflik yang terjadi dan teknik penyelesaiannya.
Tingkat partisipasi yang tinggi antar anggota mitra akan membantu dalam
menciptakan komitmen pada solusi yang di setujui. Kerja sama yang baik antar
mitra dalam penyelesaian konflik akan memberikan keuntungan dan kesuksesan jangka
panjang dalam kemitraan. (Mohr dan Spekman,
1994). Keahlian konseptual yang terdiri dari sumber daya yang memadai,
dukungan top manajemen, saling percaya, komitmen jangka panjang, koordinasi dan
kreatifitas.
2) Keahlian konseptual yang mencakup sumber
daya yang memadai dan dukungan top
manajemen
a. Sumber daya yang memadai
Sumber daya yang kompetitif
merupakan keuntungan tersendiri bagi perusahaan. Pada umumnya sumber daya suatu
perusahaan tidak dapat saling menggunakan atau berbagai antar perusahaan lain
tetapi dengan kemitraan dalam proyek konstruksi sebuah perusahaan mungkin untuk
saling berbagi sumber daya yang dimiliki dengan perusahaan lain. (Cheng et al.
2000). Dalam proyek konstruksi pada umumnya memerlukan berbagai teknologi dan
ketrampilan sehingga perlu melibatkan mitra yang mempunyai latar belakang yang
berbeda-beda (arsitek, mekanikal, elektrikal, struktur dan lain-lain). Jika
keahlian yang dimiliki masing-masing mitra diatur secara efektif dalam sebuah
hubungan kemitraan yang menekankan interaksi timbal balik maka hal tersebut
dapat memperkuat daya saing dan meningkatkan kemampuan.
b. Dukungan top manajemen.
Komitmen dan dukungan dari manajemen
puncak merupakan hal yang sangat penting untuk memulai dan membentuk suatu hubungan
kemitraan yang sukses dalam proyek konstruksi. Selain merumuskan aktifitas,
arah dan strategi bisnis dari perusahaan, senior manajemen juga harus mempunyai
komitmen dan dukungan penuh dalam memulai
dan memimpin kemitraan yang dirumuskannya. (Cheng et al. (2000).
Chan at et (2003) mengemukakan
bahwa komitmen dan dukungan top manajemen merupakan prasyarat kesuksesan
kemitraan dalam sebuah proyek.
c. Saling percaya.
Suatu kemitraan tidak akan berhasil
kecuali bila ada kepercayaan timbal balik antar anggota mitra dan kepercayaan
timbal balik ini akan tercapai bila masing-masing mitra bertindak secara
konsisten terhadap sasaran hasil yang dituju untuk mencapai kesuksesan kemitraan
dalam proyek konstruksi anggota mitra lainnya. Dengan adanya kepercayan yang timbal
balik dan saling terbuka antar mitra akan meningkatkan kemampuan beradaptasi
dan saling tukar menukar informasi untuk memecahkan permasalahan secara
bersama-sama untuk mencapai hasil yang lebih baik. (Mohr dan Spekman, 1994).
d. Komitmen jangka panjang.
Komitmen jangka panjang antar mitra
dapat ditujukan dengan adanya kesediaan mitra untuk dilibatkan dan secara terus
menerus bersama-sama dalam memecahkan masalah yang tidak diantisipasi sebelumnya.
Dengan adanya komitmen dalam hubungan kemitraan diharapkan terjadi keseimbangan
pencapaian sasaran jangka pendek dan sasaran jangka panjang dari masing-masing
mitra dan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan secara bersama-sama tanpa
adanya rasa takut akan perilaku oportunis (Mohr dan Speakman, 1994). Sedangkan
Thomas et. al. (2007) mengemukakan bahwa tanpa adanya komitmen diantara mitra
ada kemungkinan pelaksanaan proyek akan terjadi perselisihan, perdebatan yang
berakhir pada pengadilan sehingga kalau hal tersebut terjadi maka semua yang
terlibat dalam proyek akan rugi.
e. Koordinasi
Koordinasi merupakan salah satu forum
untuk melakukan komunikasi formal, pemecahan masalah, evaluasi kemajuan pekerjaan
yang telah dicapai dan direncana dan strategi yang akan dilakukan.
Menurut Mohr dan Spekman(1994), koordinasi
mencerminkan harapan mitra dengan masing-masing mitra lain dalam melaksanakan suatu
pekerjaan. Sedangkan Chan et al. (2003), mengemukakan bahwa koordinasi yang
efektif akan menghasilkan stabilitas dalam lingkungan yang tidak pasti ini,
meningkatkan hubungan serta meningkatkan pertukaran informasi antar mitra.
Koordinasi yang buruk akan mengakibatkan hilangnya komitmen dan kepercayaan
yang akan menimbulkan permusuhan dalam kemitraan.
f. Kreatifitas.
Dalam proyek konstruksi yang sangat kompleks,
mitra harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan strategi penyelesaian pekerjaan, mengusulkan
ide-ide yang mendukung dalam pelaksanaan proyek serta kemampuan untuk
memberikan solusi tentang pemecahan permasalahan baik dalam pelaksanaan maupun
permasalahan hubungan kemitraan yang dilaksanakan sehingga proyek dapat
diselesaikan sesuai dengan mutu, waktu dan biaya yang telah ditentukan. Dengan
adanya kreativitas dari masing-masing mitra akan dapat menghindari permusuhan
dalam hubungan kemitraan dan menghindari adanya penyelesaian perselisihan di
pengadilan. Apabila hubungan kemitraan sudah dapat dikembangkan menjadi fungsi
strategis maka hal ini akan dapat membantu meningkatkan tujuan organisasi serta
dapat meningkatkan pertumbuhan yang berkelanjutan. Kreativitas menjadi bagian
pokok yang dapat mendorong mitra menjadi lebih inovatif dalam melaksanakan
pekerjaan dan praktek manajemen.
( Cheng et. al. 2000).
Keberhasilan upaya pengembangan kemitraan
antara Pemerintah dan swasta dalam pelayanan publik sangat ditentukan oleh
banyak faktor antara lain :
1) Kemitraan hanya akan bisa berjalan secara
efektif kalau diikuti oleh perubahan sikap
dan orientasi pejabat birokrasi pemerintah.
2)
Pemerintah
perlu terus mengembangkan dan memberikan fasilitas untuk pengembangan sektor
swasta.
3)
Pemerintah
perlu mengurangi keterlibatannya dalam operasional pelayanan publik kalau sektor
swasta sudah bisa melakukannya.
4)
Pengalihan
peran Pemerintah kepada swasta hendaknya dilakukan secara transparan dan terbuka.
5)
Pemberian
kekuasaan yang lebih besar kepada sektor swasta perlu di ikuti oleh perbaikan efektifitas
kontrol birokratik dan politik.
(Dwiyanto, 1995)
Selanjutnya Royat S. (1993)
berpendapat bahwa kemitraan dapat mencapai pembangunan kota yang efisien,
efektif dan berkelanjutan dengan syarat :
a.
Diperlukannya
kebijaksanaan dan arah-arah pembangunan yang jelas dan terbuka.
b.
Penentuan
prioritas pembangunan yang konsisten sehingga semua pihak dapat menentukan
sampai seberapa besar tingkat investasinya pada mekanisme pasar yang ada.
c.
Pola
kemitraan dalam pelaksanaan harus dengan mekanisme yang transparan/keterbukaan.
d.
Pola kemitraan
atas dasar saling menguntungkan antara Pemerintah dan swasta.
Menurut Israel et al (1998), terdapat beberapa faktor yang menghambat
dan faktor yang menunjang kemitraan. Faktor penghambat adalah hambatan dalam mengembangkan
dan memelihara kemitraan yaitu :
1) Ketidakpercayaan dan kurangnya respek.
2)
Ketidak samaan
distribusi kekuasaan dan kontrol.
3)
Konflik
yang berhubungan dengan perbedaan perspektif, prioritas, asumsi, nilai-nilai dan bahasa.
4)
Konflik
yang berhubungan dengan perbedaan tugas.
5)
Konflik
keuangan.
Sedangkan faktor pendukung adalah
faktor yang dapat digunakan untuk membentuk dan memelihara kemitraan yang
efektif yaitu :
1) Mengembangkan aturan operasional bersama.
2)
Identifikasi
tujuan dan sasaran bersama.
3)
Kepemimpinan
yang demokratis.
4)
Keterlibatan
staf atau tim pendukung.
5)
Penelusuran
peran, keahlian dan kompetensi.
Syarat bagi keberhasilan kemitraan
antara pemerintah dengan swasta menurut Kouwenhoven seperti dijelaskan oleh Purwoko
(2004) yaitu :
1.
Ada
kepercayaan bersama (saling percaya).
2.
Ada penjelasan
mengenai tujuan dan strategi kemitraan.
3.
Kejelasan
biaya dan resiko.
4.
Kejelasan
pada pembagian tanggung jawab dan kewenangan.
5.
Tahap-tahap
pelaksanaan proyek yang jelas.
6.
Pengaturan
konflik.
7.
Aspek
legal.
8.
Perlindungan
terhadap kepentingan dan hak pihak ketiga yang terlibat.
9.
Dukungan dan
fasilitas kontrol yang cukup.
10. Harus ada kesamaan konsep berfikir dan tindakan
bahwa kerja sama tersebut komersial sehingga ada profesionalisme pengelolaan.
11. Adanya koordinasi internal.
12. Organisasi proyek yang memadai dan jelas.
No comments:
Post a Comment