Gizi
buruk merupakan istilah teknis yang biasanya digunakan oleh kalangan gizi,
kesehatan dan kedokteran.Gizi buruk adalah kondisi seseorang yang nutrisinya di
bawah rata-rata. Hal ini merupakan suatu bentuk terparah dari proses terjadinya
kekurangan gizi menahun.
1.
Pengukuran Gizi Buruk Pada Balita
Gizi
buruk ditentukan berdasarkan beberapa pengukuran antara lain:
a.
Pengukuran klinis : metode ini penting
untuk mengetahui status gizi balita tersebut gizi buruk atau tidak. Metode ini
pada dasarnya didasari oleh perubahan-perubahan yang terjadi dan dihubungkan
dengan kekurangan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel
sepertikulit, rambut atau mata. Misalnya pada balita marasmus kulit akan
menjadi keriput sedangkan pada balita kwashiorkor kulit terbentuk bercak-bercak
putih atau merah muda (crazy pavement
dermatosis).
b.
Pengukuran antropometrik : pada metode
ini dilakukan beberapa macampengukuran antara lain pengukuran tinggi
badan,berat badan, dan lingkarlengan atas. Beberapa pengukuran tersebut, berat
badan, tinggi badan,lingkar lengan atas sesuai dengan usia yang paling sering
dilakukan dalamsurvei gizi. Di dalam ilmu gizi, status gizi tidak hanya
diketahui dengan mengukur Berat
Badan (BB) atau Tinggi Badan (TB) sesuai dengan umur secara
sendiri-sendiri,tetapi juga dalam bentuk indikator yang dapat merupakan kombinasi
dari ketiganya.
Indikator
Berat- badan / Usia (BB/U) menunjukkan secara sensitif status gizi
saat ini (saat diukur) karena mudah berubah, namun tidak spesifik karena berat
badan selain dipengaruhi oleh umur juga dipengaruhi oleh tinggi badan. Indikator
ini dapat dengan mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat umum, sensitif
untuk melihat perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek; dan dapat
mendeteksi kegemukan (Soekirman, 2000).
Indikator
TB/U dapat menggambarkan status gizi masa lampau atau masalah gizi kronis.
Seseorang yang pendek kemungkinan keadaan gizi masa lalu tidak baik. Berbeda
dengan berat badan yang dapat diperbaiki dalam waktu singkat, baik pada anak
maupun dewasa, maka tinggi badan pada usia dewasa tidak dapat lagi dinormalkan.
Kemungkinan untuk mengejar pertumbuhan tinggi badan optimal pada anak balita
masih bisa sedangkan anak usia sekolah sampai remaja kemungkinan untuk mengejar
pertumbuhan tinggi badan masih bisa tetapi kecil kemungkinan untuk mengejar
pertumbuhan optimal. Secara normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan
bertambahnya umur. Pertambahan TB relatif kurang sensitif terhadap kurang gizi
dalam waktu singkat. Pengaruh kurang gizi terhadap pertumbuhan TB baru terlihat
dalam waktu yang cukup lama.Indikator ini juga dapat dijadikan indikator
keadaan sosial ekonomi penduduk (Soekirman, 2000).
Indikator
BB/TB merupakan pengukuran antropometri yang terbaik karena dapat menggambarkan
secara sensitif dan spesifik status gizi saat ini atau masalah gizi akut. Berat
badan berkorelasi linier dengan tinggi badan, artinya dalam keadaan normal
perkembangan berat badan akan mengikuti pertambahan tinggi badan pada
percepatan tertentu. Hal ini berarti berat badan yang normal akan proporsional
dengan tinggi badannya. Ini merupakan indikator yang baik untuk menilai status
gizi saat ini terutama bila data umur yang akurat sering sulit diperoleh. WHO
& Unicef merekomendasikan
menggunakan indikator BB/TB dengan cut of point < -3 SD dalam kegiatan
identifikasi dan manajemen penanganan bayi dan anak balita gizi buruk akut
(Depkes RI, 2000).
Indikator
Indeks Masa Tubuh/Usia (IMT/U) merupakan indikator yang paling baik
untuk mengukur keadaan status gizi yang menggambarkan keadaan status gizi masa
lalu dan masa kini karena berat badan memiliki hubungan linear dengan tinggi
badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan
tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Indeks ini tidak menimbulkan kesan underestimate pada anak yang overweight dan obese serta kesan
berlebihan pada anak gizi kurang.(WHO, 2005).
Panduan
tata laksana penderita Kurang Energi
Protein (KEP) (Depkes,
2000) menyebutkan bahwa gizi buruk diartikan sebagai keadaan kekurangan gizi
yang sangat parah yang ditandai dengan berat badan menurut umur kurang dari 60
% median pada baku WHO-NCHS atau terdapat tanda-tanda klinis seperti marasmus,
kwashiorkor dan marasmikkwashiorkor. Agar penentuan klasifikasi dan penyebutan
status gizi menjadi seragam dan tidak berbeda maka Menteri Kesehatan (Menkes)
RI mengeluarkan Keputusan Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar
Antropometri Penilaian Status Gizi Anak . Keluarnya SK tersebut mempermudah
analisis data status gizi yang dihasilkan baik untuk perbandingan ,
kecenderungan maupun analisis hubungan (Depkes, 2016).
Berdasarkan
Berat Badan menurut Umur diperoleh kategori :
a.
Tergolong gizi buruk jika hasil ukur lebih
kecil dari -3 SD.
b.
Tergolong gizi kurang jika hasil ukur -3
SD sampai dengan < -2 SD.
c.
Tergolong gizi baikjika hasil ukur -2 SD
sampai dengan 2 SD.
d.
Tergolong gizi lebih jika hasil ukur
> 2 SD.
Berdasarkan
pengukuran Tinggi Badan (24 bulan-60 bulan) atau Panjang badan (0 bulan-24
bulan) menurut umur diperoleh kategori :3
1. Sangat pendek jika hasil ukur lebih
kecil dari -3 SD.
2. Pendek jika hasil ukur -3 SD
sampai dengan < -2 SD.
3. Normal jika hasil ukur -2 SD
sampai dengan 2 SD.
4. Tinggi jika hasil ukur > 2 SD.
Berdasarkan
pengukuran Berat Badan menurut Tinggi badan atau Panjang Badan:
1. Sangat kurus jika hasil ukur lebih
kecil dari -3 SD.
2. Kurus jika hasil ukur – 3 SD
sampai dengan < -2 SD.
3. Normal jika hasil ukur -2 SD
sampai dengan 2 SD.
4. Gemuk jika hasil ukur > 2 SD.
Balita dengan gizi buruk akan diperoleh hasil BB/TB
sangat kurus,sedangkan balita dengan gizi baik akan diperoleh hasil normal.
2.
Kelompok Rawan Pangan Dan Gizi.
Kelompok
masyarakat yang rawan (vunerable)
terhadap pangan dan gizi dapat dibedakan sesuai dengan:
a. Lokasi tempat tinggalnya, disebut rawan ekologis,
misalnya daerah terpencil.
b.Kedudukan/ posisinya di masyarakat, disebut rawan
sosio-ekonomis, misalnya kelompok miskin.
c. Umur dan jenis kelamin, disebut
rawan biologis.
Secara
biologis kelompok yang paling rawan terhadap kekurangan pangan atau gizi adalah
bayi, balita dan anak sekolah, wanita hamil dan menyusui, penderita penyakit
dan orang yang sedang dalam penyembuhan, penderita cacat, mereka yang
diasingkan dan para jompo. Semua golongan ini sering kali dijumpai pada
masyarakat miskin dan tidak memliki lahan pangan.
Disektor
pertanian, terdapat proporsi rumah tangga miskin yang sangat besar (72,0%)
dibandingkan dengan sektor lainnya (Irawan & Romdiati, 2000). Kemiskinan
inilah yang menjadi akar permasalahan dari ketidak mampuan keluarga untuk
menyediakan pangan dalam jumlah, mutu, dan ragam yang sesuai dengan kebutuhan
setiap individu untuk memenuhi asupan kebutuhan karbohidrat, protein, lemak,
vitamin dan mineral yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan, serta
kesehatan jasmani maupun rohani.
No comments:
Post a Comment