Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (2002) dampak berarti pengaruh kuat yang mendatangkan akibat,
baik yangnegatif maupun positif. Sedangkan psikologis berarti sesuatu yang berkenaan
dengan psikologi atau bersifat kejiwaan. Jadi dampak psikologis dapat diartikan
sebagai pengaruh kuat yang mendatangkan akibat negatif maupun positif dalam
kejiwaan seseorang. Dalam tinjauan psikologi sosial, dampak psikologis dapat
dikaitkan dengan tindakan dan efek. Jones dan Davis (Sarwono, 1995) menyatakan
bahwa tindakan (act) berarti keseluruhan respon (reaksi) yang mencerminkan
pilihan perilaku dan yang mempunyai akibat (efek) terhadap lingkungannya.
Sementara efek diartikan sebagai perubahan nyata yang dihasilkan oleh tindakan.
Dalam keterkaitan antara stimulus dan respon yang mendorong seseorang
bertingkah laku, maka dampak psikologis dapat dipandang sebagai hasil dari
adanya stimulus dan respon yang bekerja dalam diri seseorang (Watson dalam
Sarwono,1995).
Dampak psikologis
adalah konsekuensi psikologis sebagai hasil dari adanya stimulus dan respon
yang bekerja dalam diri seseorang oleh faktor internal maupun eksternal.
Malpani dan Heider (Sears, 1992,) mendefinisikan bentuk-bentuk dampak
psikologis secara umum sebagai berikut :
a. Kecemasan
Merupakan perasaan
campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang
tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut (Chaplin, 1997, h. 32). Kecemasan merupakan
suatu keadaan yang tidak dapat dipisahkan dari manusia, artinya tidak ada
manusia yang tidak mengalami kecemasan. Buclew (dalam Handayani, 2001, h. 32)
mengungkapkan adanya gejala kecemasan yang dibagi menjadi 2 tingkatan, yaitu :
1. Tingkatan
Fisiologis
Kecemasan pada tingkat ini sudah mempengaruhi atau
berwujud pada gejala-gejala fisik terutama pada fungsi saraf, diantaranya tidak
dapat tidur, perut mual dan keringat dingin berlebihan.
2. Tingkatan
Psikologis
Pada tingkat ini kecemasan berupa gejala kejiwaan,
seperti khawatir, bingung, sulit konsentrasi, dan tegang.
b. Rasa
malu
Merupakan suatu emosi
dengan ciri khas adanya perasaan bersalah, hal yang memalukan dan penghindaran
(Chaplin, 1997). Goffman (Harre & Lambs, 1996) mengemukakan bahwa apa yang
dihasilkan rasa malu ialah pengakuan bahwa diri yang disokong seseorang dalam
sebuah interaksi sosial telah terganggu oleh sesuatu yang dilakukannya atau
suatu kenyataan pribadi yang terlepas. Ditambahkan pula ungkapan kekuatan rasa
malu berasal dari interaksi-interaksi sosial.
c. Ketidakberdayaan
Petri (dalam Handayani,
2001) mengungkapkan bahwa penyebab suatu rasa ketidakberdayaan dalam pengalaman
terdiri dari keikutsertaan dalam pemecahan masalah, respon yang lamban terhadap
stress, penyebab perasaan depresi dan rendahnya upaya untuk
keberhasilan-keberhasilan menyelesaikan tugas-tugasnya. Menurut Lau (dalam
Smeth, 1994 ) menyatakan bahwa ketidakberdayaan merupakan suatu kondisi yang
didapat dari adanya gangguan motivasi, proses kognisi maupun emosi.
d. Amarah
Berkowitz (2003, h. 27)
menyatakan bahwa pada diri seseorang yang mengalami reaksi fisiologis dapat
muncul suatu ekspresi emosional tidak disengaja yang disebabkan oleh kejadian
yang tidak menyenangkan (masalah) atau mungkin juga dipengaruhi oleh pikiran
oleh pikiran dan ingatan yang muncul pada sewaktu-waktu.
e. Kesedihan
Menurut Poerwadarminta
(1998, h. 230) kesedihan adalah perasaan sedih, duka cita, kesusahan hati. Kesedihan
merupakan perasaan hati yang lebih emosional, menjurus ke kesedihan yang ditandai
dengan kepasifan relatif, keadaan otot yang merosot dengan keluhan tidak jarang
mencucurkan air mata.
No comments:
Post a Comment