Engagement (keterikatan)
adalah ikatan yang kuat antara diri sendiri dan tanggung jawab pekerjaan di
mana orang sepenuhnya mengekspresikan diri secara fisik, kognitif dan emosional
di tempat kerja (Wildermuth, 2008). Dan meskipun istilah keterikatan karyawan
berasal dari sebuah studi moral tahun 1920-an, tetapi konsep itu hanya
diposisikan dengan jelas oleh Kahn pada tahun 1990 (Tiwari, 2011) dan akhirnya,
kemudian di publikasikan dengan luas oleh Gallup Organization (Little dan
Little, 2006). Ada banyak definisi yang berbeda dari keterikatan karyawan yang digunakan
oleh para peneliti dan dalam kurun waktu tertentu, situasi atau konteks,
definisi dan penggunaan keterikatan karyawan telah menjadi satu kebingungan antar
para ahli (Welch, 2011), terutama bila berkaitan dengan situasi yang menuntut
kepatuhan tertentu dalam lingkungan yang berbeda atau melibatkan prediktor lain
atau dalam hubungan dengan variabel lainnya.
Misalnya, pada
tahun 2009, survei perilaku telah melaporkan bahwa, dalam satu organisasi
tunggal, ada dua puluh model keterikatan karyawan yang berbeda. Sehingga istilah
keterikatan karyawan dapat digunakan berbeda tergantung pada ruang lingkup dan
konsep penelitian ang berbeda, oleh karena itu perlu untuk membatasi perspektif
dasar dari keterikatan karyawan (Robinson, Perryman dan Hayday, 2004). Menurut
Kahn (1990), keterikatan karyawan adalah konstruk multi dimensi yang bahwa karyawan
dapat terikat secara emosional, kognitif dan fisik. Beberapa peneliti baru-baru
ini membuktikan gagasan bahwa keterikatan karyawan adalah konsep yang valid dan
dapat diandalkan (Hassan dan Ahmed, 2011).
Secara teori,
ada empat (4) pendekatan utama yang didefinisikan sebagai bentuk dari keterikatan
karyawan: (a) Pendekatan Kebutuhan-Memuaskan oleh Kahn pada tahun 1990 (b) Pendekatan Antitesis Burnout, oleh Maslach
et al. pada tahun 2001, (c) Pendekatan Kepuasan-Keterikatan oleh Harter et al.
pada tahun 2002, dan (d) Pendekatan Multidimensional oleh Saks pada tahun 2006
(Shuck, 2011).
Terdapat juga
empat (4) model keterikatan karyawan yang dapat digunakan oleh organisasi yaitu
Model Retensi dan Keteriaktan oleh Gebauer pada tahun 2008, Model Towers Perrin
oleh Perrin pada tahun 2003, Model SEM Keterikatan leh Langford, Parkes dan
Metcalf pada tahun 2006 dan Model High Performance Model oleh Vance pada tahun
2006 (Muller, 2009). keempat (4) pendekatan dan empat (4) model telah banyak diperdebatkan.
Sebagian besar
peneliti telah mencoba untuk mengkorelasikan faktor yang menyebabkan keterikatan
karyawan dan mengajukan model yang bisa membawa keluar solusi terbaik bagi
manajemen puncak untuk berurusan dengan karyawan yang ada baik karyawan lama
maupun baru. Manajemen perlu menganalisis target mereka untuk menentukan
faktor-faktor atau pendorng yang akan meningkatkan tingkat keterikatan karyawan
(Markos dan Sridevi, 2010). Robinson, Perryman dan Hayday (2004) telah
menunjukkan bahwa komitmen karyawan merupakan pendorong yang lebih baik, namun,
pendorong terkuat adalah rasa perasaan dihargai dan terikat terutama dalam
pengambilan keputusan (Perrin, 2003). Dalam hal organisasi dan tingkat
manajerial, kepemimpinan yang luar biasa merupakan faktor pendorong yang kuat
pula (Wellins, Bernthal dan Phelps, 2011), reputasi yang baik sebagai pengusaha
dan peduli banyak tentang kepuasan pelanggan memberikan kontribusi bagi
peningkatan keterikatan karyawan (Perrin, 2003).
Ada juga tiga
(3) dimensi keterikatan baik secara kognitif (Shuck dan Herd, 2012) atau
psikologis (Ferguson, 2010;. Ghafooret al, 2011; Shuck, 2011) yaitu dimensi kebermaknaan,
keamanan dan ketersediaan (Saks 2006); keterikatan emosional yang melibatkan
keyakinan, kemauan dan investasi (Shuck dan Herd, 2012) dan keterikatan
perilaku (Ram dan Prabhakar, 2011; Shuck dan Herd, 2012)
Berdasarkan
studi tahun 2004, ditemukan bahwa dalam aspek kondisi psikologis, seperti
kebermaknaan, keamanan dan ketersediaan, kondisi mereka yang positif dan
signifikan terkait dengan keterikatan karyawan. Dan dari tiga (3) kondisi ini,
kebermaknaan terbukti memiliki hubungan tertinggi dengan keterikatan karyawan.
Pada tahun 2008,
komitmen organisasi akhirnya ditentukan sebagai parameter penting untuk
penilaian keterikatan karyawan dalam suatu organisasi. Dari hasil penyelidikan,
disimpulkan bahwa peningkatan tingkat komitmen organisasi mempengaruhi secara
positif kinerja pegawai serta efektivitas organisasi yang mengurangi ketidakhadiran
serta perputaran karyawan (Mohapatra dan Sharma, 2010).
Hal penting yang
harus disorot di sini adalah bahwa konsep keterikatan karyawan telah berkembang
sejak dua puluh tahun terakhir (Mohapatra dan Sharma, 2010; Shuck dan Herd,
2012). Dan untuk itu, setiap aspek keterikatan karyawan, terutama, dalam
kaitannya dengan konstruksi lain seperti gaya kepemimpinan, perilaku warga
organisasi, komitmen karyawan (Drake, Blake dan Walet 2009) dan keseimbangan
kehidupan kerja (Wildermuth dan Pauken, 2008), harus, dari waktu ke waktu,
dieksplorasi dan diuji sebagai variabel yang berbeda (independen, dependen,
moderator atau mediasi).
No comments:
Post a Comment