Pada kondisi seharusnya, individu yang memiliki harga
diri normal tidak perlu meminta pengaguman dan pemujaan diri dari orang lain mengenai
sikap, perilaku, prestasi, dan kehebatannya. Orang yang merasakan adanya
hal-hal positif dalam dirinya sendiri tentu saja akan menyukai diri sendiri dan
mengembangkan perasaan bahwa dirinya berharga. Hal ini memberikan ketenangan
batin dan merupakan sumber bagi kesehatan mental. Jadi, mengagumi diri sendiri
dalam batas tertentu justru merupakan indikasi kesehatan mental.
Pada kondisi sebaliknya, individu dengan kecenderungan
narsisme sebenarnya memiliki harga diri yang rendah (Robins, 2001). Oleh karenanya fenomena yang terjadi pada remaja
yang menggunakan media social untuk bernarsis secara berlebihan sebenarnya
berangkat dari kecenderungan meminta pengaguman dan pemujaan diri dari orang
lain mengenai suka memamerkan kelebihan, kehebatan yang dimilikinya, memiliki
hubungan interpersonal yang dangkal dengan teman-temannya serta kurang
perhatiannya dengan temannya
Dengan menggaris bawahi berbagai faktor di atas maka
pihak orangtua dan lingkungan dapa membantu remaja dalam masa perkembangannya untuk
mengenali jati diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, berpikir
positif dan realistis, bersosialisasi dengan tetangga atau lingkungan terdekat,
dan menghargai hasil yang telah dihasilkannya meskipun hanya sederhana. Pengembangan
kemampuan diri sendri dalam menghargai diri sendiri dan menjalin interaksi
social yang sehat bisa menjadi salah satu upaya yang dianggap ikut menurunkan
kecenderungan narsisme pada remaja.
No comments:
Post a Comment