Goleman (2000) membagi aspek-aspek kecerdasan emosional antara lain:
a. Pengenalan diri (self-awareness) mampu mengenali emosi untuk
mengevaluasi dirinya sendiri dan mendapatkan informasi untuk
melakukan suatu tindakan. Hal ini merupakan kemampuan seseorang
untuk mengenal apa yang ia rasakan pada suatu saat dan menggunakannya
sebagai pemandu dalam pengambilan keputusan bagi diri sendiri.
Kesadaran diri ini membantu melepaskan suasanan emosi yang tidak
menyenangkan, mengelola diri serta menyadari emosi dan pikiran sendiri.
b. Pengaturan diri (self-regulation) seseorang yang mempunyai pengenalan
diri yang baik dapat lebih terkontrol dalam membuat tindakan agar lebih
berhati-hati. Individu juga akan berusaha untuk tidak impulsif. Seorang
Namun, perlu diingat, hal ini bukan berarti bahwa orang tersebut
menyembunyikan emosinya, melainkan memilih untuk tidak diatur oleh
emosinya. Hal ini merupakan kemampuan seorang individu untuk
menangani emosinya sendiri, sehingga berdampak positif terhadap
pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati, sanggup menunda kenikmatan
sebelum tercapainya suatu sasaran, dan mampu pulih kembali dari tekanan
emosi. Pengaturan emosi dapat mencegah kesalahan dalam mengambil
keputuisan yang mendorongnya untuk berpikir sebelum bertindak. Jelas
pula bahwa mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan
dimaksud dapat terungkap dengan tepat, dan ini merupakan kecakapan
yang sangat tergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil
dikelola jika ia mampu menghibur diri ketika diterpa kesedihan, dengan
itu ia dapat melepas kecamasan, kemurungan atau ketersinggungan dan
bangkit kembali dengan cepat dari keadaan semua itu. Sebaliknya, seorang
individu yang tidak mampu mengelola emosi akan senantiasa bertarung
melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang
merugikan dirinya sendiri.
c. Motivasi diri (self-motivation) ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan
rencana, individu yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan
mampu memotivasi dirinya sendiri menuju sasaran, membantu diri
sendiri/inisiatif dan bertindak sangat efektif untuk bertahan menghadapi
kegagalan dan prestasi. Hal ini merupakan kemampuan menggunakan
hasrat yang paling dalam yang menggerakkan dan menuntun menuju
sasaran, berinisiatif dan bertindak efektif. Dengan itu ia mampu bertahan
mengahadapi kegagalan dan frustasi. Kualitas motivasi diri dapat
ditelusuri melalui hal-hal berikut: (1) cara mengendalikan dorongan hati,
(2) derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang,
(3) kekuatan berpikir positif, (4) optimis, (5) keadaan flow (mengikuti
aliran), yaitu keadaan ketika perhatian sepenuhnya tercurah kepada apa
yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek, (6)
dengan kemampuan memotivasi diri seseorang akan cenderung memiliki
pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi pada
dirinya.
d. Hubungan yang efektif (efektive relationship) dengan adanya empat
kemampuan tersebut, seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain
secara efektif, kemampuan untuk memecahkan masalah bersama-sama
lebih ditekankan dan bukan pada konfrontasi yang tidak penting, yang
sebenarnya dapat dihindari. Orang yang mempunyai kecerdasan emosional
yang tinggi, mempunyai tujuan yang konstruktif dalam pikirannya. Hal ini
merupakan kemampuan untuk mengendalikan emosi dengan baik ketika
berhubungan sosial dengan cermat dapat berinteraksi dengan lancar,
menggunakan keterampilan ini untuk mempengaruhi, memimpin,
bermusyawarah, menyelesaikan permasalahan dan bekerjasama dengan
orang lain.
Stone, dkk (dalam Goleman, 2000) membagi kecerdasan emosional
menjadi enam aspek, antara lain:
a. Kesadaran diri yang baik
b. Mampu mengelola perasaan
c. Mampu menangani stres
d. Mampu menerima diri sendiri
e. Tanggung jawab pribadi yang tinggi
f. Mampu menyelesaikan konflik
No comments:
Post a Comment