Menurut Goleman (2000) faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan
emosional yaitu:
a. Faktor bawaan atau genetik
Faktor yang bersifat bawaan atau genetik misalnya temperamen seperti:
pemberani, periang, penakut dan pemurung. Anak-anak yang pemberani
dan periang memiliki sirkuit emosi yang lebih sulit dibangkitkan bila
dibandingkan dengan anak-anak yang penakut dan pemurung. Pola emosi
bawaan atau temperamen dapat dirubah sampai pada tingkat tertentu
melalui pengalaman terutama pada masa kanak-kanak. Otak dapat
dibentuk melalui pengalaman untuk dapat belajar membiasakan diri secara
tepat anak diberi kesempatan untuk menghadapi sendiri masalah yang ada
kemudian dibimbing menangani kekecewaannya sendiri dan
mengendalikan dorongan hatinya dan berlatih empati.
b. Faktor lingkungan
Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama untuk mempelajari
emosi, dalam lingkungan yang akrab ini kita belajar bagaimana merasakan
perasaan kita sendiri dan bagaimana orang lain menanggapi perasaan kita,
bagaimana berpikir tentang perasaan ini dan pilihan-pilihan apa yang kita
miliki untuk bereaksi, serta bagaimana membaca dan mengungkap harapan
dan rasa takut. Pembelajaran emosi bukan hanya melalui hal-hal yang
diucapkan dan dilakukan oleh orang tua secara langsung pada anak anaknya melainkan juga melalui contoh-contoh yang mereka berikan
sewaktu menangani perasaan mereka sendiri atau perasaan yang bisa
muncul antara suami dan istri. Ada ratusan penelitian yang memperhatikan
bahwa cara orang tua memperlakukan anak-anaknya dengan disiplin yang
keras atau pemahaman yang empatik, dengan ketidakpedulian atau
kehangatan, dan sebagainya yang berakibat mendalam dan permanen bagi
kehidupan emosional anak.
Menurut Shapiro (dalam Goleman, 2000) membagi kecerdasan emosional
menjadi dua bagian, antara lain:
a. Peran orang tua
Peran orang tua sangat besar dalam mengajarkan dan memberikan teladan
pada anak untuk mempelajari perasaan-perasaannya dan mengajarkan
nilai-nilai moral dari perasaan tersebut, mengajarkan maupun mengatasi
masalahnya dan mampu menerima tentang pemecahan masalah,
mengajarkan keterampilan sosial dan mengajarkan cara mengungkapkan
kata-kata yang baik.
b. Komunikasi
Komunikasi dapat membantu anak masuk kedalam pengalaman yang baik
dengan seseorang ataupun kelompok, karena komunikasi meliputi
berbagai informasi pribadi, mengajukan pertanyaan kepada orang lain,
mengekspresikan minat penerimaan.
Goleman (2002) mengemukakan bahwa ada empat faktor yang turut
berpengaruh dalam kecerdasan emosional, yakni:
1. Pengalaman, kecerdasan emosional dapat meningkat sepanjang
perjalanan hidup seorang individu. Ketika individu belajar untuk
menanganai suasana hati, menangani emosi yang sulit, maka semakin
cerdaslah emosinya.
2. Usia, Semakin tua usia seorang individu, maka kecerdasan emosinya
akan lebih baik dibandingkan dengan orang yang berusia lebih muda.
Hal ini dipengaruhi oleh proses belajar yang dialami seiring dengan
pertambahan usia.
3. Jenis kelamin, tidak ada perbedaan antara kemampuan laki-laki dan
perempuan dalam meningkatkan kecerdasan emosionalnya, tetapi ratarata perempuan memiliki keterampilan emosi yang lebih baik
dibandingkan dengan laki-laki.
4. Jabatan, semakin tinggi jabatan seorang individu makan semakin tinggi
pula kecerdasan emosionalnya, karena semakin besar tuntutan
keterampilan atas dirinya dan membuatnya menonjol dibanding orang
lain yang tuntutan kerjanya lebih sederhana.
Patton (dalam Goleman, 2000) membagi faktor-faktor kecerdasan
emosional menjadi lima bagian, antara lain:
a. Keluarga
Keluarga merupakan alat perekat yang menyatukan struktur dasar dunia
kita agar satu kasih sayang dan dukungan kita temukan dalam keluarga
dan merupakan alat untuk mendapatka kekuatan dan menanamkan
kecerdasan emosional.
b. Hubungan-hubungan pribadi
Hubungan-hubungan pribadi terhadap seseorang dalam sehari-hari yang
memberikan penerimaan dan kedekatan emosional dapat menimbulkan
kematangan emosional pada seseorang dalam bersikap dan bertindak.
c. Hubungan dengan teman sekelompok
Hubungan dengan teman sekelompok dalam membangun citra diri sosial
diperlukan adanya hubungan denga teman sekelompok yang saling
menghargai, hal ini dapat mempengaruhi dalam pola pembentukan emosi
seseorang.
d. Lingkungan
Keadaan lingkungan individu, dimana mereka tinggal dan bergaul
ditengah-tengah masyarakat yang mempunya nilai-nilai atau norma-norma
tersendiri dalam berinteraksi sehingga dapat mempengaruhi pola
kehidupan seseorang.
e. Hubungan dengan teman sebaya
Pergaulan individu dengan teman sebaya yang saling mempengaruhi baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat membentuk emosi tersediri
No comments:
Post a Comment