Etika berasal dari kata Yunani ethos (bentuk tunggal) yang berarti: tempat tinggal,
padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, watak, perasaan, sikap, cara berfikir. Bentuk
jamaknya adalah ta etha, yang berarti adat istiadat. Dalam hal ini etika pengertiannya
sama dengan moral. Moral berasal dari kata latin mos (bentuk tunggal), atau mores
(bentuk jamak) yang berarti adat istiadat, watak, kebiasaan, kelakuan, tabiat, akhlak dan
juga cara hidup (Bertens, 2007). Secara keseluruhan etika merupakan suatu nilai-nilai
atau norma-norma moral yang baik dipraktekkkan maupun tidak dipraktekkan, akan
lebih baiknya dipraktekkan. Dalam hal ini etika sebagai bentuk refleksi pemikiran moral.
Agama merupakan salah satu sumber nilai dan norma yang paling penting.
Menurut Lidigdo dan Machfoeds (1999), menjelaskan tentang etika yang
seharusnya dilakukan seseorang dalam lingkup tertentu, dalam proses tersebut meliputi
penyeimbangan dari berbagai pertimbangan sisi dalam (iner) dan sisi luar (outer) yang
berdasarkan sifat dan juga kondisi yang baik untuk pengalaman maupun pembelajaran
setiap individu. Tamara (2002) menjelasakan tentang hal-hal yang membedakan etika
berdasarkan syariah dengan etika lainnya kaitannya terletak pada niat cara meraih
tujuannya, serta sumber penentuan nilai.
Etika kerja Islam merupakan suatu tujuan yang dapat mempengaruhi dan
membentuk partisipasi serta karakteristik seseorang ditempat kerja. Menurut Beekun
(1997), etika kerja Islam merupakan satu kesatuan dalam moral dan prinsip kebaikan,
yang membedakan diantara keduanya terletak pada praktik yang benar (pekerjaan) dari
yang salah. Etika kerja Islam merupakan aset berharga bagi kehidupan manusia dalam
hal pekerjaan dan pendekatan kerja (Rizk, 2008).
Dalam hal ini, etika kerja Islam memandang seseorang bekerja untuk
meningkatkan kepentingan diri secara ekonomi, sosial dan psikologis, serta untuk
memajukan kesejahteraan masyarakat dan menegaskan kembali tentang iman. Pada
dasarnya konsep ini berasal dari Al-Quran dan Sunnah atau perkataan nabi Muhammad
SAW.
Etika kerja Islam menekankan kerjasama dalam bekerja, konsultasi dilihat sebagai
salah satu cara untuk menghindari kesalahan. Didalam tempat kerja hubungan sosial
dipercaya dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan seseorang serta dapat
meningkatkan kehidupan sosial dan individunya. Bekerja dalam etia kerja islam
merupakan kebebasan yang dapat meningkatkan personal growth, tanggung jawab
sosial, pemenuhan kebutuhan pribadi dan kepuasan. Sumber kebahagiaan dari etika kerja
Islam yaitu dengan bekerja keras secara efektif dan kreatif, dalam hal ini etika kerja Islam
dilihat dari tujuan pada suatu pekerjaan dibandingkan dengan hasil pekerjaan tersebut.
Selain itu menekankan pada kejujuran dan kebaikan ditempat kerja yang merupakan
sesuatu yang penting untuk menciptakan kesejahteraan sosial.
Oleh sebab itu, manusia adalah makhluk yang diarahkan dan terpengaruh oleh
keyakinan yang mengikatnya (Asifudin, 2004). Didalam keyakinan tersebut benar dan
salah akan mengikuti perilaku orang yang bersangkutan. Adapun selain dorongan
kebutuhan dan aktualisasi diri, nilai-nilai yang telah dianut, dan juga keyakinan yang
telah diajarkan oleh agama dapat menjadi sesuatu yang berperan dalam proses
terbentuknya sikap hidup yang mendasar. Dalam sikap hidup tersebut akan menjadi dasar
komitmen yang membentuk karakter, kebiasaan atau budaya kerja.
Etika kerja Islam memberikan pengaruh yang baik dalam perilaku seseorang dalam
bekerja karena dengan begitu dapat memberikan stimulus untuk sikap kerja yang positif
. Dengan adanya sikap kerja yang positif dalam diri seseorang akan menghasilkan
keuntungan yang baik seperti bekerja keras, komitmen dan dedikasi terhadap pekerjaan
atau sikap kerja lainnya yang akan memberikan keuntugan bagi individu itu sendiri
maupun organisasi (Yousef, 2001). Adapun menurut (Asifudin, 2004) perbedaan antara
etika kerja non agama dengan etika kerja Islam, yaitu:
b. Etika kerja non agama:
1) Tidak ada iman.
2) Etika kerja berdasarkan akal atau pandangan hidup terhadap nilai-nilai yang dianut.
3) Motivasi yang timbul karena adanya sikap hidup mendasar terhadap kerja. Dalam hal
ini motivasi tidak berkaitan dengan iman, agama, atau niat ibadah).
4) Sikap hidup mendasar terhadap kerja ditimbulkan dari hasil kerja akal atau nilai-nilai
yang dianut (tidak bertolak belakang dengan iman keagamaan yang dianut).
c. Etika kerja Islam:
1) Sikap hidup mendasar dalam hal ini berkaitan dengan sistem keimanan atau aqidah
islam yang berkanaan dengan kerja atas dasar pemahaman yang bersumber pada AlQuran dan Sunnah sehingga dapat bekerja secara proporsional.
2) Motivasi disini timbul dan bertolak dari sistem keimanan dan aqidah Islam berkenaan
dengan ajaran wahyu dan akal yang saling bekerjasama. Dalam hal ini motivasi
berangkat dari niat ibadah karena Allah.
3) Iman eksis terbentuk sebagai pemahaman terhadap wahyu. Dalam hal ini akal selain
berfungsi sebagai alat, juga berpeluang menjadi sumber. Disamping menjadi acuan
etika kerja Islam juga sekaligus menjadi acuan dalam motivasi kerja Islam.
4) Etika kerja berdasarkan keimanan terhadap ajaran wahyu berkaitan dengan etika kerja
dan hasil pemahaman akal yang dapat membentuk sistem keimanan atau aqidah Islam
berhubungan dengan kerja.
Dari beberapa penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa etika kerja Islam
merupakan suatu prinsip-prinsip, sistem nilai maupun orientasi yang dipegang organisasi
dalam menentukan perilaku kerja serta dalam pengambilan keputusan bisnis yang benar
maupun yang salah berdasarkan syariah yaitu Al-Quran dan Hadits nabi Muhammad
SAW
No comments:
Post a Comment