Klasifikasi kecerdasan emosional terdiri dari pedoman individu untuk
mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari, yang menurut Goleman
(2000) mencakup: a. kesadaran diri, b. pengaturan diri, c. memotivasi diri, d.
empati, e. keterampilan sosial.
Kesadaran diri adalah pengetahuan yang dirasakan pada suatu saat dan
dapat digunakannya dalam memandu mengambil keputusan sendiri, memiliki
tolak ukur yang realistis atas kemampuan dan kepercayaan diri yang kuat. Secara
rasional kesadaran diri memungkinkan memberikan informasi penting untuk
menyingkirkan suasana hati yang tidak menyenangkan. Pada saat yang bersamaan
kesadaran diri dapat membantu seseorang untuk mengelola dirinya sendiri dan
menjalin hubungan antar personal serta menyadari emosi dan pikirannya sendiri.
Semakin tinggi kesadaran diri maka akan semakin cerdas seseorang menangani
perilaku negatif.
Menurut Goleman (dalam Triatna dan Kharisma, 2008) kesadaran diri
adalah kewaspadaan terhadap suasana hati, pikiran tentang suasana hati. Jika
kurang waspada, seorang individu akan mudah larut dalam airan emosi dan
dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi,
tetapi ia merupakan salah satu syarat penting untuk mengendalikan emosi,
sehingga individu mudah menguasai emosinya.
Kemampuan mengenali emosi diri adalah kemampuan seorang individu
untuk mengenai perasaannya sendiri pada saat perasaan atau emosi itu muncul.
Hal ini acap kali dikatakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional Seorang
individu dapat mengenali emosinya sendiri jika ia memiliki kepekaan atas
perasaannya yang sesungguhnya dan selanjutnya dapat mengambil keputusan
yang mantap. Selanjutnya Sawaf (dalam Goleman, 2000) menyatakan bahwa
kecerdasan emosional bukan berasal dari perenungan intelektual yang jarang
digunakan, melainkan dari hati manusia. Ia merupakan sumber energi untuk
menjadikannya nyata dan memotivasi untuk mengenali potensi serta tujuan hidup.
Dalam hal ini ada empat yang berkaitan dengan kesadaran emosi yakni: (1)
kejujuran emosi, (2) energi emosi, (3) umpan balik emosi, (4) intuisi praktis.
Pengaturan diri adalah menangani emosi agar dapat berdampak positif
terhadap pelaksanaan tugas, peka terhadap hati dan sanggup menunda kenikmatan
sebelum tercapai suatu tujuan dan mampu menetralisir tekanan emosi. Pengaturan
diri ini mencegah kesalahan-kesalahan dan keterlibatan dalam masalah.
Kemampuan ini bisa mengendalikan kemarahan, ketergesaan dan kemungkinan
berpikir sebelum mengambil tindakan. Dalam hal ini Goleman (2000) menyatakan
bahwa pengaturan diri merupakan kemampuan untuk menghadapi gejolak
emosional. Suasana hati akan cenderung mencerminkan kesejahteraan batin
seseorang pada umumnya. Goleman (2000) selanjutnya menyatakan bahwa aspekaspek yang terkait dengan kemampuan mengelola emosi adalah (1) pengendalian
amarah, (2) menangani kesedihan, (3) bertahan terhadap situasi yang sulit.
Selanjutnya ditegaskan bahwa cara yang ampuh dalam mengatasi amarah adalah
berpikir dalam kerangka baru yang lebih positif tergadap suatu situasi. Untuk
menghilangkan kesedihan perlu dilakukan rekayasa suatu kepuasan untuk
melakukan susuatu yang mudah diselesaikan.
Memotivasi diri adalah hasrat yang paling dalam dalam menggerakkan
dan menuntun menuju sasaran, membantu mengambil inisiatif, bertindak secara
efektif dan mampu bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi. Kunci dari
motivasi adalah memanfaatkan emosi, sehingga mendukung kesuksesan hidup
seseorang. Goleman (2000) menyebutkan bahwa motivasi diri adalah motivasi
positif yang meliputi kumpulan perasaan antusias, gairah, dan keyakinan diri
dalam mencapai prestasi. Semua ini terkait dengan emos yaitu emosi-emosi yang
mendorong untuk berprestasi. Dalam pengertian inilah kecerdasan emosional
dikatakan sebagai suatu kecakapan utama, yaitu sebagai kemampuan yang secara
mendalam mempengaruhi semua kemampuan lainnya baik yang bersifat
memperlancar maupun menghambat.
Empati merupakan kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain
serta mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling
percaya dan menyelaraskan diri dengan orang lain. Empati memungkinkan
individu mengetahui pikiran dan perasaan orang lain. Jika pengembangan empati
yang dibangkitkan oleh pemahaman dan kekecewaan, perasaan dan pikiran orang
lain, maka seseorang akan mampu melihat sesuatu secara sesuai dari perspektif
yang lebih luas. Kemampuan mengenali emosi orang lain atau berempati
dibangun atas kesadaran diri, jika seseorang terbuka pada emosi dirinya sendiri, ia
akan terampil membaca dan memahami perasaan orang lain dan lingkungan
sosialnya. Kemampuan berempati berguna untuk mengetahui bagaimana perasaan
orang lain dan sikap empati akan selalu terlihat dalam pertimbanganpertimbangan moral. Donne (dalam Goleman, 2000) menyatakan empati sangat
berhubungan dengan kepedulian, sedangkan Mill (dalam Goleman, 2000)
menegaskan bahwa empati mendasari banyak segi tindakan dan pertimbangan
moral.
Keterampilan sosial dimaksudkan sebagai kemapuan mengendalikan
emosi dengan baik ketika berubungan dengan orang lain, cepat membaca situasi,
berinteraksi dengan lancar, memahami dan bertindak bijaksana dalam
berhubungan antar personal. Trondike (dalam Goleman, 2000) menyatakan bahwa
keterampilan sosial adalah kemampuan memahami dan mengelola orang lain yaitu
keterampilan yang dibutuhkan setiap individu untuk hidup secara lebih baik.
Jelas bahwa individu akan berhasil dalam pergaulan karena mampu
berkomunikasi secara lancar dengan orang lain. Ia akan populer dalam
lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya
berkomunikasi.
No comments:
Post a Comment