Monday, January 16, 2023

Psikologi Investor (skripsi,tesis,disertasi)

 


Penelitian (Rystorm dan Benson, 1989) mengenai pengaruh hari
perdagangan terhadap return saham yang dapat dilihat dari pendekatan
psikologis. Pendekatan tersebut mengamati perilaku dari pergerakan dan
perubahan harga saham yang dikarenakan tindakan dari investor. Rystorm dan
Benson berpendapat bahwa investor sangat dipengaruhi oleh perilaku yang tidak
rasional seperti emosi, kebiasaan psikologis tertentu dan mood investor
individual.
a. Bias – Bias Kognitif
Manusia dalam kehidupannya sehari – hari melakukan kesalahan
dalam memproses informasi untuk membuat keputusan. Suasana hati dan
emosi membuat manusia kehilangan kendali diri, rasa percaya diri, yang 
berlebihan atau bahkan sangat pesimis, sehingga terkadang keputusan
yang diambil menjadi kurang tepat. Berikut adalah beberapa pola yang
terjadi sehubungan dengan perilaku manusia dalam kehidupan sehari –
hari maupun dalam berbisnis (Harjito, 2009).
1. Heuristik (Heurictics)
Heuristik merupakan metode untuk meneliti atau menyelidiki suatu
masalah menggunakan pemahaman pribadi peneliti itu sendiri.
Heuristik sering disebut rules of thumb, (aturan yang sederhana seperti
menghitung jari) membuat keputusan menjadi lebih mudah. Metode ini
kadang – kadang membawa pada bias psikologi, terutama ketika
segalanya berubah. Akibatnya, metode ini dapat membawa pada
keputusan yang kurang optimal.
2. Overconfidence
Overconfidence (terlalu percaya diri) menunjukkan perilaku seseorang
(investor) yang sangat percaya terhadap kemampuan memprediksi
keberhasilan dirinya dalam melakukan investasi. Orang – orang
semacam ini terlalu percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri
tanpa banyak memperhatikan peranan orang lain.
3. Mental dalam perhitungan
Konsep mental accounting mengacu pada tendensi seseorang untuk
memisahkan uang mereka kedalam kriteria – kriteria subjektif yang
terpisah, seperti sumber uang dan maksud penggunaannya dipisah
sendiri – sendiri dengan tujuan dan fungsinya. 
4. Framing
Framing merupakan ide atau pikiran tentang bagaimana suatu konsep
ditujukan untuk masalah – masalah individual. Psikologi kognitif ini
berlaku pada para pebisnis ketika akan melakukan investasi.
Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para pebisnis akan
berbeda – beda meskipun keadaan yang dihadapi adalah sama.
Preferensi mereka terhadap risiko merupakan salah satu faktor penting
ketika seseorang investor akan menentukan media investasinya.
5. Representatif ( Keterwakilan )
Konsep keterwakilan suatu peristiwa mengacu pada kejadian –kejadian
yang telah berlangsung berulang – ulang dalam jangka waktu relatif
lama. Orang – orang terlalu mudah untuk mengambil kesimpulan
bahwa suatu peristiwa akan berlaku jangka panjang. Mereka
cenderung memberi bobot penilaian yang terlalu tinggi terhadap
peristiwa atau pengalaman baru yang terjadi.
6. Konservatif
Orang ingin hidup secara mapan atau stabil dan tidak berubah – ubah.
Ketika segala sesuatunya berubah, orang – orang cenderung merespon
perubaha tersebut secara perlahan – lahan. Mereka akan melihat
berbagai arah, mempertimbangkan untung rugi atas perbuatan tersebut,
dan akhirnya membuat keputusan yang memaksimumkan manfaat atau
keuntungan dan meminimalkan risiko yang mungkin terjadi. Namun 
sifat ini bisa mengakibatkan kesimpulan yang bias karena pengambilan
keputusan yang kurang tegas, sehingga terjadi bahwa keputusan yang
diambil tidak mewakili semua pihak yang terkena akibat keputusan
tersebut.
7. Efek Disposisi (Disposition Effect)
Setiap orang memiliki watak yang rasional. Semua orang ingin
mendapatkan keuntungan atau return sesuai dengan yang diharapakan.
Mereka cenderung menghindari risiko kerugian yang mungkin
diderita, perilaku dan jalan pikiran seperti ini merupakan efek disposisi
atau watak umum seseorang. Efek disposisi ini mengacu pada pola –
pola dimana orang –orang menghindari kenyataan adanya kerugian
dalam penjualan saham dan berusaha mencari return saham tersebut.
b. Overreaction
Overreaction merupakan salah satu anomali yang ditemukan
adanya respon berlebihan dari investor atau overreacted yang dipicu
karena adanya overconfidence dari investor akibat memperoleh informasi
tertentu yang berifat khusus (Daniel,et al 1998). Dalam penelitian De
Bondt dan Thaler (1985) menyatakan bahwa adanya informasi tertentu
yang membuat pergerakan harga saham terjadi kenaikan secara ekstrim
pada harga saham pada waktu tertentu kemudian diikuti penurunan
ekstrim dikenal dengan istilah price reversal. Hal terebut terjadi karena
adanya respon karena adanya tindakan berlebihan dari investor yang
memebrikan sinyal bahwa terjadi overreaction. Winner adalah sebutan 
untuk saham yang mengalami kenaikan ekstrim, sementara loser adalah
sebutan untuk penurunan harga saham secara ekstrim. Fenomena
overreaction dapat terjadi disebabkan investor memberi penilaian terlalu
tinggi pada berita baik (good news) dan sebaliknya menetapkan harga
terlalu rendah terhadap berita yang dinilai buruk (bad news) (Prastiyo,
2012). Pada akhirnya, hal tersebut dapat membuat saham-saham yang
kinerjanya baik di waktu tertentu dapat menjadi berkinerja buruk pada
waktu selanjutnya (Fischer dan Jordan, 1995)

No comments:

Post a Comment