Efisiensi maupun produktivitas keduanya dapat digunakan sebagai bahan untuk mengukur kinerja suatu unit kegiatan ekonomi, meskipun secara prinsip kedua pengukuran tersebut berbeda. Konsep efisiensi lebih berkaitan dengan seberapa jauh suatu proses mengkonsumsi masukan untuk menghasilkan keluaran tertentu, sementara konsep produktivitas berkaitan dengan seberapa jauh suatu proses menghasilkan keluaran dengan mengkonsumsi masukan tertentu (Mulyadi, 2000:437). Efisiensi dan produktivitas merupakan suatu ukuran tentang seberapa efisien suatu proses mengkonsumsi masukan dan seberapa produktif suatu proses menghasilkan keluaran. Efisiensi merupakan rasio antara keluaran dengan masukan suatu proses, dengan fokus perhatian pada konsumsi masukan. Produktivitas merupakan rasio antara masukan dengan keluaran, dengan fokus perhatian pada keluaran yang dihasilkan oleh suatu proses.
Efisiensi ekonomi terdiri dari efisiensi teknis (technical effisiency) dan efisiensi alokasi (allocative effisiency). Efisiensi teknis merupakan kombinasi antara kapasitas dan kemampuan unit kegiatan ekonomi untuk memproduksi sampai tingkat output maksimum dari input-input dan teknologi yang tetap. Efisiensi alokasi merupakan kemampuan dan kesediaan unit ekonomi untuk beroperasi pada tingkat nilai produk marjinal (marginal value product) sama dengan biaya marjinal (marginal cost). Ada tiga kegunaan mengukur efisiensi. Pertama, sebagai tolak ukur untuk memperoleh efisiensi relatif, mempermudah memperbandingkan antara unit ekonomi satu dengan lainnya. Kedua, apabila terdapat variasi tingkat efisiensi dari beberapa unit ekonomi yang ada maka dapat dilakukan penelitian untuk menjawab faktor-faktor apa yang menentukan perbedaan tingkat efisiensi. Ketiga, informasi mengenai efisiensi memiliki implikasi kebijakan karena manajer dapat menentukan kebijakan perusahaan secara tepat.
Efisiensi teknis sebenarnya mencerminkan seberapa tinggi tingkat teknologi dalam proses produksi. Pada umumnya teknologi yang dipergunakan dalam proses produksi dapat digambarkan dengan mempergunakan kurva isokuan (isoquand), fungsi produksi (production function), fungsi biaya (cost function), dan fungsi keuntungan (profit function).
Menurut Teori Neoklasik, seluruh perusahaan yang beroperasi sepanjang kurva batas produksi (production frontier) FF’ dikatakan secara teknis efisien (memenuhi kriteria efisien secara teknis). Apakah perusahaan secara ekonomis efisien, tergantung pada harga input yang dipergunakan. Dengan informasi harga input seperti garis PP’, maka efisiensi ekonomis dicapai apabila perusahaan beroperasi pada titik B. Misalnya, titik B menunjukkan penggunaan input x1, output y1, dan tingkat laba h1. Dengan beroperasi di titik B, perusahaan telah mengalokasikan input secara efisien. Apabila perusahaan beroperasi di sepanjang batas produksi, selain titik B, maka perusahaan tidak mengalokasikan input secara efisien (allocation inefficient). Secara umum, istilah efisiensi ekonomis mencerminkan alokasi input yang efisien, karena perusahaan dianggap selalu beroperasi pada garis batas produksi (efisien secara teknis). Apabila perusahaan beroperasi di titik A, dengan input x2, produksi y2, dan laba h2, maka tingkat efisiensi perusahaan tersebut adalah (h2/h1), kurang dari 1.
Konsisten dengan teori neoklasik, efisiensi harus diukur berdasarkan batas kemampuan produksi FF’. Dengan demikian bagi perusahaan yang beroperasi di titik C, efisiensi ekonomisnya sebesar h3/h1. Efisiensi teknis sebesar y3/y2, dengan demikian perusahaan beroperasi secara tidak efisien yang bersumber dari tidak efisien secara teknis dan secara alokasi input. Pada titik C, kerugian total dari efisiensi ekonomis sebesar h1 - h3 dan kerugian dari efisiensi teknis sebesar h2 - h3, dan kehilangan efisiensi alokasi h1 - h2.
No comments:
Post a Comment