Jogiyanto (2008) mendefinisikan volatility sebagai fluktuasi pada periode tertentu dari suatu sekuritas atau portofolio. Kemudian Brigham dan Houston (2006) menjelaskan bahwa volatility terbagi menjadi dua yakni volatility harga saham dan volatility keuntungan. Volatility harga saham merupakan risiko investasi sedangkan volatility keuntungan tidak selalu diartikan sebagai risiko investasi. Harga saham yang memiliki volatility rendah maka pergerakan sahamnya pun sangat rendah, oleh karena itu biasanya investor dalam jangka pendek tidak dapat memperoleh keuntungan dan jika investor ingin mendapatkan keuntungan maka harus memegang sahamnya dalam jangka panjang.
Terdapat gerak naik dan turun atau fluktuasi pada tiap satuan waktu dalam siklus pergerakan harga saham. Selisih antara harga terendah dan harga tertinggi dalam suatu satuan waktu dari sebuah harga saham dapat diterjemahkan dalam konsep volatilitas harga. Sedangkan stock price volatility dapat didefinisikan sebagai rentang jarak antara harga tertinggi dengan harga terendah suatu saham dalam pasar modal pada periode tertentu. (Hashemijoo, 2012)
Volatilitas dari suatu saham sangat penting untuk dimengerti oleh para investor. Hal ini dimaksudkan untuk dapat meminimalisir resiko yang akan mereka hadapi. Tingkat volatilitas yang semakin tinggi maka semakin tinggi pula tingkat ketidakpastian dari imbal hasil (return) saham yang dapat diperoleh. Salah satu dari sepuluh prinsip manajemen keuangan menyatakan bahwa investor tidak akan mau mengambil risiko yang lebih tinggi kecuali apabila dapat memperoleh imbalan berupa return yang lebih tinggi (high risk, high return) (Keown et al.,2010). Menurut Chan dan Fong (2000) investor yang berinvestasi untuk jangka panjang biasanya menyukai volatility yang rendah sedangkan investor yang berinvestasi jangka pendek biasanya menyukai saham dengan volatility yang tinggi dan volume perdagangan secara signifikan akan berpengaruh positif terhadap volatility harga.
Implikasi dasar dari noise trader menurut Brown (1999) bahwa investor irasional secara jelas bertindak pada saat sinyal noise yang menyebabkan risiko sistematis. Apabila noise traders dapat mempengaruhi harga maka singal noise merupakan sentimen dan risiko dari noise traders yang dapat memunculkan volailtity, oleh karena itu sentimen seharusnya berkorelasi dengan volatility. Volatility dapat dihitung dengan menggunakan standar deviasi dari return (Sayim et al, 2013). Return pada hari ke-i dikurangi rata-rata aritmatika return kemudian dikuadratkan. Kemudian dijumlahkan dan dibagi banyaknya hari dikurangi satu dan selanjutnya diakar pangkat dua.
No comments:
Post a Comment