Friday, September 6, 2024

Manajemen Rantai Pasok

 


Manajemen rantai pasok adalah koordinasi seluruh kegiatan dalam
rantai pasokan yang dimulai dari sumber bahan baku hingga sampai
kepada pengguna dengan memperhatikan kepuasan pelanggan.
Manajemen rantai pasok melibatkan pemasok, perusahaan-perusahaan
manufaktur, perusahaan distributor, penyedia jasa serta pengecer atau
grosir yang mengantarkan produk atau jasa kepada konsumen akhir (Heizer
dan Render, 2006).
Pengertian lainnya dari manajemen rantai pasokan yaitu sebagai
suatu kegiatan atau aktivitas untuk memberikan nilai tambah pada suatu
barang dan jasa melalui integrasi dari berbagai pihak. Kegiatan tersebut
berguna untuk memenuhi permintaan konsumen dengan cara yang paling
efektif dan efisien (Azis, 2017).
Ada tiga aliran yang berperan penting di dalam rantai pasok, yaitu
aliran barang dari hulu ke hilir atau upstream, aliran uang dari hilir ke hulu
atau downstream dan aliran informasi yang mengiringi kedua aliran
tersebut. Aliran informasi menjadi sangat penting dalam kegiatan supply
chain agar terjalin komunikasi antar pihak yang berkepentingan dalam
memonitor (Pujawan, 2009). Ada enam kegiatan utama dalam rantai pasok
(Solehah et al., 2019), yaitu:
a. Pengembangan produk;
b. Pengadaan bahan baku;
c. Perencanaan dan pengendalian produk;
d. Operasi atau produksi;
e. Pengiriman/distribusi, dan
f. Pengembalian produk.
Manajemen risiko rantai pasok, dalam bahasa inggris yakni Supply
Chain Risk Management (SCRM) adalah gabungan antara manajemen
rantai pasok dan manajemen risiko. Ada tiga tahap dalam pengelolaan
manajemen risiko dalam rantai pasok global. Tahap pertama yaitu
identifikasi risiko. Tahap selanjutnya yaitu penilaian/prioritas risiko, dan
tahap terakhir yaitu mitigasi risiko (Dittmann, 2014).
a. Identifikasi risiko (risk identification) merupakan langkah pertama
dalam manajemen risiko termasuk identifikasi aspek-aspek risiko
yang terkait dengan pengadaan dan pasokan.
b. Penilaian risiko (risk prioritization). Penilaian berkaitan dengan
proses pengadaan rantai pasok.
c. Mitigasi risiko (risk mitigation). Tindak lanjut setelah proses
penilaian risiko (risk assessment). Penilaian risiko dapat
menunjukan hasil berbagai kategori risiko di setiap risiko dan
akan mendapatkan tindakan mitigasi dalam tahap berikutnya.
SCRM juga dilakukan agar dapat meningkatkan inovasi produk,
kecepatan pengiriman bahan baku, keunggulan kualitas produksi barang,
dan layanan purna jual (Pujawan, 2009).

No comments:

Post a Comment