Friday, September 6, 2024

Manajemen Risiko

 


Secara umum, risiko akan muncul karena kondisi yang tidak pasti
atau adanya kondisi ketidakpastian. Ketidakpastian menyebabkan
munculnya risiko. Risiko dapat muncul sewaktu-waktu, ada dimana-mana
dan sulit dihindari. Apabila suatu organisasi ditimpa risiko, maka organisasi
tersebut bisa mengalami kerugian (Hanafi, 2016).
Secara umum, risiko digolongkan menjadi dua tipe (Hanafi, 2016),
yaitu:
a. Risiko murni
Risiko murni terjadi ketika suatu risiko terjadi akan berpotensi
menimbulkan kerugian dan ketika tidak terjadi maka tidak akan
menimbulkan keuntungan. Contoh risiko murni adalah banjir.
Terdapat sebanyak dua hal yang dapat diakibatkan risiko murni,
yaitu kerugian dan break event. Risiko murni juga dikelompokkan
menjadi tiga risiko, yakni:
1) Risiko aset fisik
Terjadi karena kejadian tertentu yang mengakibatkan
kerugian aset fisik organisasi. Risiko aset fisik diilustrasikan
dengan gudang atau bangunan yang dilanda kebakaran dan
banjir yang berdampak pada kerusakan pada bangunan dan
peralatan.
2) Risiko karyawan
Terjadi karena peristiwa yang dapat merugikan karyawan
dalam organisasi. Risiko karyawan diilustrasikan dengan
kecelakaan kerja yang mengakibatkan karyawan mengalami
cidera dan kegiatan operasional di perusahaan terganggu.
3) Risiko legal
Terjadi karena kontrak tidak selaras dengan apa yang
diharapkan dan dokumentasi tidak benar. Risiko ini
diilustrasikan dengan terjadinya pertikaian yang
menyebabkan perusahaan lain menuntut ganti rugi yang
signifikan.
b. Risiko spekulatif
Risiko spekulatif adalah risiko yang berpotensi dapat
menimbulkan kerugian dan keuntungan. Contohnya adalah
kegiatan usaha bisnis yang diharapkan mendapat keuntungan
namun ada potensi kerugian dalam menjalankan usaha bisnis
tersebut. Terdapat sebanyak tiga hal yang dapat diakibatkan
risiko spekulatif yaitu kerugian, keuntungan dan break event.
Risiko spekulatif juga digolongkan menjadi empat risiko, yakni:
1) Risiko pasar
Risiko pasar merupakan risiko yang terjadi karena volatilitas
atau perubahan harga pasar (kenaikan atau penurunan) yang
akan merugikan organisasi. Kerugian disebabkan oleh harga
saham bergerak ke arah yang kurang menguntungkan (saat
saham mengalami penurunan).
2) Risiko kredit
Risiko kredit merupakan risiko yang terjadi karena pihak lain
tidak bisa atau gagal memenuhi kewajiban perusahaan
(wanprestasi).
3) Risiko likuiditas
Risiko likuiditas merupakan risiko yang terjadi karena
perusahaan tidak bisa memenuhi kebutuhan kas, risiko tidak
bisa menjual dengan cepat atau gangguan pasar. Dengan
kata lain, perusahaan sulit membayar kewajiban jangka
pendek.
4) Risiko operasional
Risiko operasional merupakan risiko yang terjadi karena
kegagalan dari kegiatan di dalam dan di luar perusahaan yang
tidak berjalan lancar, kegagalan mengelola manusia, dan
kegagalan sistem. Kegagalan risiko internal yang berkaitan
dengan kagagalan proses atau prosedur internal organisasi.
Kegagalan dari proses ekternal berkaitan dengan kejadian
yang bersumber dari luar organisasi dan di luar pengendalian
organisasi. Kegagalan mengelola manusia berkaitan dengan
kinerja atau kesalahan karyawan dalam perusahaan,
kecelakaan kerja karena kecerobohan karyawan yang kurang
berpengalaman. Kegagalan sistem berkaitan dengan
ketergantungan perusahaan teknologi.
Manajemen risiko didefinisikan sebagai usaha untuk mengetahui,
menganalisis, mengendalikan risiko di dalam setiap kegiatan perusahaan.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kegiatan di perusahaan menjadi
lebih efisien dan efektif (Tampubolon, 2015). Selain itu, manajemen risiko
bertujuan untuk mengelola risiko agar organisasi bisa bertahan (Hanafi,
2016).
Manajemen risiko merupakan proses yang melibatkan semua pihak
dalam organisasi untuk merancang, menerapkan, memonitor, meninjau,
memperbaiki secara berkelanjutan melalui pelaksanaan identifikasi,
pengukuran, pemetaan, pemantauan, kontrol, serta pelaporan risiko. Hal ini
dilakukan untuk meningkatkan tercapainya sasaran organisasi
(Djohanputro, 2019)

No comments:

Post a Comment