Sunday, January 15, 2023

Dividen (skripsi,tesis,disertasi)

 


Pengertian dividen menurut Haryono Jusup (1995:317) dalam Kurniawan
(2009) adalah bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang
saham. Apabila dewan komisaris mengumumkan pembagian dividen, maka
pemegang saham preferen akan mendapat sejumlah dividen tahunan tertentu
sebelum ditentukan dividen untuk pemegang saham biasa.
Selain capital gain, keuntungan yang diharapkan oleh para investor saham
adalah dividen. Namun biasanya untuk mendapatkan dividen seorang investor harus
bersedia untuk menahan saham tersebut selama beberapa waktu. Besarnya dividen
yang akan dibagikan suatu perusahaan tergantung dari laba yang diperoleh oleh
perusahaan dan juga hasil dari rapat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Pengumuman yang menyatakan bahwa suatu perusahaan memutuskan
untuk melakukan pembayaran dividen akan diartikan oleh penanam modal sebagai
berita baik, karena dividen perusahaan yang lebih tinggi menunjukkan bahwa
perusahaan yakin arus kas pada masa mendatang akan cukup besar untuk
menanggung tingkat dividen yang tinggi ((Weston and Copeland, 1997:145) dalam
Kurniawan (2009)). Inilah yang menunjukkan bahwa dividen mempunyai kandungan
informasi yang cukup kuat tentang kondisi internal dan masa depan suatu
perusahaan sehingga dapat menimbulkan reaksi pasar dan mempengaruhi
perubahan harga saham.
Menurut John E. Junarsin dalam Anindhita 2010, ketika sebuah perusahaan
memperoleh laba bersih (net income) dan tingkat cash flows pada suatu periode
tertentu, manajemen dihadapkan pada keputusan pemanfaatan laba tersebut. Dua
alternatif penggunaan utama laba adalah: (1) dibagikan sebagai dividen atau (2)
ditahan sebagai laba ditahan (retained earnings). Keputusan inilah yang dikenal
sebagai kebijakan dividen, yaitu menentukan seberapa besar atau proporsi laba
yang akan dibagikan sebagai dividen. Dalam mendesain dan mengimplementasikan
kebijakan tersebut, terdapat trade-off yang harus diperhatikan.
Jika perusahaan meningkatkan dividen, pemegang saham atau pemilik
perusahaan akan memperoleh cash flows namun pertumbuhan perusahaan
berpotensi menurun karena cash flows tersebut semestinya dapat digunakan untuk
reinvestasi. Di sisi lain, jika perusahaan mengurangi dividen, pertumbuhan
perusahaan mungkin akan meningkat namun pemegang saham akan menerima
cash flows yang lebih sedikit sehingga secara sekilas kemakmuran pemegang
saham juga terpengaruh. Penurunan nilai nominal dividen dapat membawa
konsekuensi positif dan negatif bagi harga saham perusahaan, tergantung dari sudut
pandang dan keadaan perusahaan.
Dalam dunia keuangan, pada dasarnya terdapat tiga konsep tentang
kebijakan dividen (John E. Junarsin dalam Anindhita 2010), yaitu:
1. Irrelevance theory. Teori ini menganggap bahwa kebijakan dividen tidak
membawa dampak apa-apa bagi nilai perusahaan. Jadi, peningkatan atau
penurunan dividen oleh perusahaan tidak akan mempengaruhi nilai
perusahaan.
2. Bird-in-the-hand theory.Teori ini berpendapat bahwa investor menyukai
dividen karena kas di tangan lebih bernilai daripada kekayaan dalam bentuk
lain. Konsekuensinya, harga saham perusahaan akan sangat ditentukan oleh
besarnya dividen yang dibagikan. Dengan demikian, semakin tinggi dividen
yang dibagikan, semakin tinggi pula nilai perusahaan.
3. Tax preference theory. Menurut teori ini, investor tidak terlalu menyukai
dividen karena dividen tidaklah tax deductible.
Teori dividen yang relevan untuk digunakan dengan adanya pengumuman
pembayaran dividen adalah signalling theory. Seperti yang dijelaskan oleh Doddy
Setiawan dan Jogianto Hartono (2003:133) dalam Kurniawan (2010) bahwa manajer
mengetahui prospek perusahaan di masa depan, sedangkan investor tidak. Manajer
dapat menggunakan dividen, yang merupakan sinyal yang baik, untuk mengurangi
kesenjangan informasi. Inilah salah satu penyebab kenapa pengumuman
pembayaran dividen dapat mempengaruhi harga saham. Ide dasar dalam model ini
adalah bahwa perusahaan melakukan penyesuaian dividen untuk menunjukkan
sinyal akan prospek perusahaan. Yang membuat metode ini menjadi kompleks
adalah kenyataan bahwa dividen yang meningkat oleh suatu perusahaan dapat
diterjemahkan sebagai sinyal positif, namun dapat pula diartikan sebagai sinyal
negatif. Dimulai dari sinyal positif terlebih dahulu, pembayaran dividen dapat
digunakan sebagai sinyal bahwa perusahaan telah menunjukkan kinerjanya dengan
baik dan penurunan dividen menunjukkan kinerja perusahaan yang buruk.
Argumen ini dapat menjelaskan mengapa perusahaan membayarkan dividen
yang disesuaikan dengan laba bersih. Pada dasarnya, perusahaan cenderung
meningkatkan dividen jika terdapat tingkat profitabilitas yang tinggi di masa depan
dan menurunkan dividen jika manajemen yakin bahwa tidak terdapat cash flows
yang dapat mendukung pembayaran dividen. Perubahan pembayaran dividen ini
mengandung informasi yang memungkinkan investor merevisi prediksi mereka
tentang prospek perusahaan dan akibatnya terjadi penyesuaian harga saham ketika
perubahan dividen diumumkan. Di sekitar tanggal pengumuman dividen,
peningkatan dividen secara umum menimbulkan abnormal return yang positif bagi
investor. Hal ini disebabkan karena pada umumnya peningkatan dividen
diinterpretasi sebagai sebuah kebijakan yang mengandung informasi baik dalam
kaitannya dengan prospek perusahaan di masa mendatang.
Namun demikian, peningkatan dividen dapat pula menjadi sinyal negatif bagi
investor. Perusahaan yang meningkatkan pembayaran dividen dapat dianggap
sebagai perusahaan yang sudah tidak berprospek di masa mendatang. Karena
dividen pada dasarnya adalah sisa dana yang dibagikan karena kebutuhan
reinvestasi sudah terpenuhi, maka dividen yang tinggi dapat mengandung arti tidak
adanya investasi yang prospektif di masa mendatang.
Dalam kondisi perekonomian normal, tindakan manajemen yang
menyebabkan pendapatan dividen meningkat (changes in expected return) akan
20
meningkatkan nilai saham. Sebaliknya, tindakan manajemen yang dapat
meningkatkan risiko (changes in risk) akan meningkatkan required return dan
menurunkan nilai saham dan sebaliknya. Karena keputusan manajemen, terutama
yang berkaitan dengan masalah finansial perusahaan, seringkali mempengaruhi baik
risiko maupun return secara bersamaan, maka dampak terhadap nilai saham
tergantung kepada ukuran besar-kecilnya perubahan variabel-variabel tersebut.
Dampak lain yang ditimbulkan oleh kebijakan dividen adalah bahwa kebijakan
tersebut secara langsung akan berpengaruh negatif dengan leverage keuangan
perusahaan (Pujiono, 2002) dalam Haryanto. Artinya, debt to equity ratio akan
meningkat sesuai dengan proporsi dividen yang akan dibagikan. Meningkatnya nilai
leverage maka penilaian terhadap perusahaan menjadi buruk yang selanjutnya akan
mempengaruhi harga saham di pasar

No comments:

Post a Comment