Menurut Asih, Widhiastuti dan Dewi (2018) mengutip dari Waluyo,
(2009:163), pada umumnya stress kerja lebih banyak merugikan karyawan
maupun perusahaan atau organisasi. Pada diri karyawan, konsekuensi
tersebut dapat berupa menurunnya gairah kerja, kecemasan yang tinggi,
frustasi dan sebagainya. Konsekuensi pada karyawan ini tidak hanya
berhubungan aktivitas kerja saja, akan tetapi dapat meluas ke aktivitas
lain di luar pekerjaan. Seperti tidak dapat tidur dengan tenang, selera
makan berkurang, kurang mampu berkonsentrasi, dan sebagainya.
Menurut Pangestuningsih (2018), kerugian yang sering dilaporkan akibat
aktivitas kerja, yang berdampak langsung pada produktivitas adalah:
- Psikologis: depresi, kelelahan, kegelisahan kronis, konflik pribadi yang
meningkat akibat pikiran negatif, ketidaksabaran, apatis, amarah, dan
permusuhan, keletihan (capek, depresi, menarik dirim dan
ketidakpedulian). - Fisik: naiknya tekanan darah dan masalah sistem kardiovaskular,
aktivitas pencernaan yang berlebih-kadar asam yang berlebih, tukak
lambung, usu pedih, diare, sakit kepala, ruam, gatal-gatal, kelelahan
yang tidak dapat dijelaskan, infeksi yang semakin parah karena sistem
kekebalan melemah, masalah kesehatan gigi, karena gigi dan rahang
terkatup rapat - Perilaku (masalah pribadi): reaksi irasional terhadap pernyataan atau
tindakan rekan, sifat suka memerintah, temperamental, rawan
kecelakaan karena kurang konsentrasi, penggunaan zat penenang
alkohol dan rokok, tertawa yang berlebih - Bagi organisasi atau tempat kerja: angka absensi tinggi, produktifitas
kerja menurun, kualitas layanan dan tingkat kepuasan berkurang,
penurunan omset/pendapatan, komitmen organisasi dan loyalitas
berkurang
No comments:
Post a Comment