Munandar Asih, Widhiastuti dan Dewi (2018) mengungkapkan
bahwa faktor pembuat stres dalam lingkungan kerja adalah sebagai
berikut:
- Faktor-faktor intrinsik dalam pekerjaan, diantaranya:
a. Tuntutan fisik (bising, paparan, getaran, dan hygiene). Tuntutan
fisik diartikan sebagai kondisi fisik kerja yang mempunyai pengaruh
terhadap kondisi psikologis dan fisiologis diri seorang tenaga kerja.
Kondisi fisik merupakan penyebab stres (stressor) yang meliputi:
1) Bising yang dapat menimbulkan gangguan sementara atau
tetap pada alat pendengaran, juga dapat merupakan sumber
stres yang menyebabkan peningkatan dari kesiagaan dan
ketidakseimbangan psikologis.
2) Paparan (exposure) terhadap bising berkaitan dengan rasa
lelah, sakit kepala lekas tersinggung, dan ketidakmampuan
untuk berkonsentrasi.
3) Getaran yang merupakan sumber stres yang kuat yang
menyebabkan peningkatan taraf catecholamine dan perubahan
dari berfungsinya seseorang secara psikologikal dan
neurological.
4) Hygiene yang merupakan lingkungan yang kotor dan tidak sehat
merupakan penyebab stres, hal ini dinilai oleh para pekerja
sebagai faktor tinggi penyebab stres.
b. Tuntutan tugas (shift kerja,lamanya seseorang bekerja dan beban
kerja berlebih ataukah sedikit)
1) kerja shift kerja malam yang merupakan sumber utama dari
stres kerja yang berpengaruh secara emosional dan biological
2) Beban kerja terbagi atas dua macam yaitu beban kerja yang
berlebihan (overload) dan beban kerja yang kurang
(underoverload). Beban kerja yang berlebihan dapat dilihat
melalui kondisi dari banyaknya pekerjaan yang harus
dikerjakan dalam waktu yang terbatas/ ditentukan atau suatu
pekerjaan yang sulit untuk dikerjakan karena kurangnya
kemampuan, sedangkan beban kerja yang kurang diakibatkan
adanya pekerjaan yang secara rutin/ monoton, yang pada
akhirnya mengakibatkan kebosanan pada pekerja
3) Paparan terhadap risiko dan bahaya yang dikaitkan dengan
kelompok jabatan tertentu yang dianggap memiliki risiko tinggi
dan merupakan sumber stres. Makin besar kesadaran akan
bahaya dalam pekerjaannya makin besar depresi dan
kecemasan pada pekerja - Peran individu dalam organisasi, meliputi:
a. Konflik peran. Stres timbul karena ketidakcakapannya untuk
memenuhi tuntutan dan berbagai harapan terhadap dirinya. Konflik
peran yang menimbulkan stres juga karena ketidakjelasan peran
dalam bekerja dan tidak tahu yang diharapkan oleh manajemen,
akibatnya sering muncul ketidakpuasan kerja, ketegangan,
menurunnya prestasi hingga akhirnya timbul keinginan untuk
meninggalkan pekerjaan.
b. Ambiguitas peran (role ambiguity). Ambiguitas peran (role
ambiguity) disarankan jika seorang pekerja tidak memiliki cukup
informasi untuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak mengerti
atau merealisasi harapan yang berkaitan dengan peran tertentu.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan kebingungan peran antara
lain ketidakjelasan dari sasaran/ tujuan kerja, kesamaran tentang
tanggung jawab, ketidakjelasan tentang prosedur kerja, kesamaran
tentang apa yang diharapkan oleh orang lain, dan kurang adanya
timbal balik atau ketidakpuasan tentang pekerjaan. - Pengembangan karier. Pengembangan karier merupakan penyebab
stres potensial yang mencakup ketidakpastian pekerjaan, promosi
berlebih, dan promosi yang kurang. Promosi merupakan salah satu
cara perusahaan dalam meningkatkan kemampuan pekerjaannya. - Hubungan dalam pekerjaan. Hubungan yang baik dengan kelompok
kerja dianggap sebagai faktor utama dalam menjaga kesehatan
organisasi. Hubungan kerja yang tidak baik terungkap dalam gejala-
gejala adanya kepercayaan yang rendah, taraf pemberian support
yang rendah, dan minat yang rendah dalam pemecahan masalah
dalam organisasi. - Struktur dan iklim organisasi. Pekerja mempersepsikan kebudayaan,
kebiasaan, dan iklim organisasi adalah penting dalam memahami
sumber-sumber stres potensial sebagai hasil dari beradanya mereka
dalam organisasi. Faktor stres yang ditemukan dalam kategori ini
terpusat pada sejauh mana tenaga kerja dapat terlibat atau berperan
serta dalam organisasi. - Tuntutan dari luar pekerjaan. Kategori penyebab stres potensial ini
mencakup segala unsur kehidupan seseorang yang berinteraksi
dengan peristiwa-peristiwa kehidupan dan kerja di dalam satu
organisasi, dan dengan demikian memberikan tekanan pada individu,
Isu-isu tentang keluarga, krisis kehidupan, kesulitan keuangan,
keyakinan pribadi dan organisasi yang bertentangan, konflik antara
tuntutan keluarga dan tuntutan perusahaan, semuanya dapat
merupakan tekanan pada individu dalam pekerjaannya. - Karakterisitik individu
a. Umur. Bertambahnya umur maka akan meningkat pula kemampuan
membuat keputusan, berpikir rasional, semakin bijaksana, mampu
mengendalikan emosi, lebih toleran, dan terbuka dengan
pandangan atau pendapat orang lain. Hal tersebut akan terlihat
saat individu sedang dalam tekanan atau ketika beban kerja
meningkat, yang bisa memicu terjadinya stres kerja.
b. Jenis kelamin. Jenis kelamin berhubungan dengan karakteristik
fisik, psikologis dan sosial antara laki-laki dan perempuan. Tidak
ada perbedaan yang konsisten antara pada laki-laki dan
perempuan dalam hal kemampuan berfikir, menyelesaikan
masalah, menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, motivasi,
keterampilan dan analisis. Jadi baik laki-laki maupun perempuan
bisa saja mengalami stres kerja, tergantung kemampuannya
menyesuaikan diri dengan dunia kerja dan mekanisme koping.
Namun, jika dikaitakan dengan peran ganda, pada perempuan
yang bekerja dan sudah berkeluarga, tentunya tanggung jawabnya
menjadi lebih besar, tuntutannya lebih tinggi, sehingga bisa
menyebabkan stres, dan dipengaruhi dengan kemampuan
beradaptasi dan mekanisme koping dari individu tersebut.
c. Tingkat pendidikan. Pendidikan merupakan pengalaman seseorang
dalam mengembangkan kemampuan dan meningkatkan
intelektualitas, yang artinya semakin tinggi tingkat pendidikan maka
semakin tinggi tingkat pengetahuan dan keahliannya dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi, mengatasi tekanan atau
beban kerja yang dihadapinya, mampu menyesuaikan diri terhadap
pekerjaanya, dan pada akhirnya mampu mengontrol stres yang
dialaminya.
d. Status perkawinan. Status perkawinan mempunyai hubungan
dengan tanggung jawab dan kinerja pegawai, bagi yang sudah
menikah, pekerjaan menjadi hal yang lebih utama dibandingkan
bagi yang belum menikah. Individu yang sudah menikah jika
mendapat dukungan dari keluarga, ada pasangan untuk bertukar
pikiran dan berbagi tentang masalah pekerjaannya, tentunya dapat
mengurangi stresnya di tempat kerja. Jadi, dukungan keluarga
bermanfaat untuk menurunkan stres kerja seseorang.
e. Lama kerja atau masa kerja. Lama kerja berkaitan dengan
pengalaman kerja, yaitu berbagai peristiwa yang dialami seseorang
selama bekerja dan hal tersebut bisa dijadikan pelajaran untuk
meningkatkan kualitas pekerjaan. Pengalaman kerja yang lebih
lama, akan meningkatkan keterampilan seseorang dalam bekerja,
semakin mudah menyesuaikan dengan pekerjaannya, sehingga
mampu menghadapi tekanan dalam bekerja
No comments:
Post a Comment