Sunday, September 8, 2024

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Stres Kerja

 



Munandar Asih, Widhiastuti dan Dewi (2018) mengungkapkan
bahwa faktor pembuat stres dalam lingkungan kerja adalah sebagai
berikut:

  1. Faktor-faktor intrinsik dalam pekerjaan, diantaranya:
    a. Tuntutan fisik (bising, paparan, getaran, dan hygiene). Tuntutan
    fisik diartikan sebagai kondisi fisik kerja yang mempunyai pengaruh
    terhadap kondisi psikologis dan fisiologis diri seorang tenaga kerja.
    Kondisi fisik merupakan penyebab stres (stressor) yang meliputi:
    1) Bising yang dapat menimbulkan gangguan sementara atau
    tetap pada alat pendengaran, juga dapat merupakan sumber
    stres yang menyebabkan peningkatan dari kesiagaan dan
    ketidakseimbangan psikologis.
    2) Paparan (exposure) terhadap bising berkaitan dengan rasa
    lelah, sakit kepala lekas tersinggung, dan ketidakmampuan
    untuk berkonsentrasi.
    3) Getaran yang merupakan sumber stres yang kuat yang
    menyebabkan peningkatan taraf catecholamine dan perubahan
    dari berfungsinya seseorang secara psikologikal dan
    neurological.
    4) Hygiene yang merupakan lingkungan yang kotor dan tidak sehat
    merupakan penyebab stres, hal ini dinilai oleh para pekerja
    sebagai faktor tinggi penyebab stres.
    b. Tuntutan tugas (shift kerja,lamanya seseorang bekerja dan beban
    kerja berlebih ataukah sedikit)
    1) kerja shift kerja malam yang merupakan sumber utama dari
    stres kerja yang berpengaruh secara emosional dan biological
    2) Beban kerja terbagi atas dua macam yaitu beban kerja yang
    berlebihan (overload) dan beban kerja yang kurang
    (underoverload). Beban kerja yang berlebihan dapat dilihat
    melalui kondisi dari banyaknya pekerjaan yang harus
    dikerjakan dalam waktu yang terbatas/ ditentukan atau suatu
    pekerjaan yang sulit untuk dikerjakan karena kurangnya
    kemampuan, sedangkan beban kerja yang kurang diakibatkan
    adanya pekerjaan yang secara rutin/ monoton, yang pada
    akhirnya mengakibatkan kebosanan pada pekerja
    3) Paparan terhadap risiko dan bahaya yang dikaitkan dengan
    kelompok jabatan tertentu yang dianggap memiliki risiko tinggi
    dan merupakan sumber stres. Makin besar kesadaran akan
    bahaya dalam pekerjaannya makin besar depresi dan
    kecemasan pada pekerja
  2. Peran individu dalam organisasi, meliputi:
    a. Konflik peran. Stres timbul karena ketidakcakapannya untuk
    memenuhi tuntutan dan berbagai harapan terhadap dirinya. Konflik
    peran yang menimbulkan stres juga karena ketidakjelasan peran
    dalam bekerja dan tidak tahu yang diharapkan oleh manajemen,
    akibatnya sering muncul ketidakpuasan kerja, ketegangan,
    menurunnya prestasi hingga akhirnya timbul keinginan untuk
    meninggalkan pekerjaan.
    b. Ambiguitas peran (role ambiguity). Ambiguitas peran (role
    ambiguity) disarankan jika seorang pekerja tidak memiliki cukup
    informasi untuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak mengerti
    atau merealisasi harapan yang berkaitan dengan peran tertentu.
    Faktor-faktor yang dapat menimbulkan kebingungan peran antara
    lain ketidakjelasan dari sasaran/ tujuan kerja, kesamaran tentang
    tanggung jawab, ketidakjelasan tentang prosedur kerja, kesamaran
    tentang apa yang diharapkan oleh orang lain, dan kurang adanya
    timbal balik atau ketidakpuasan tentang pekerjaan.
  3. Pengembangan karier. Pengembangan karier merupakan penyebab
    stres potensial yang mencakup ketidakpastian pekerjaan, promosi
    berlebih, dan promosi yang kurang. Promosi merupakan salah satu
    cara perusahaan dalam meningkatkan kemampuan pekerjaannya.
  4. Hubungan dalam pekerjaan. Hubungan yang baik dengan kelompok
    kerja dianggap sebagai faktor utama dalam menjaga kesehatan
    organisasi. Hubungan kerja yang tidak baik terungkap dalam gejala-
    gejala adanya kepercayaan yang rendah, taraf pemberian support
    yang rendah, dan minat yang rendah dalam pemecahan masalah
    dalam organisasi.
  5. Struktur dan iklim organisasi. Pekerja mempersepsikan kebudayaan,
    kebiasaan, dan iklim organisasi adalah penting dalam memahami
    sumber-sumber stres potensial sebagai hasil dari beradanya mereka
    dalam organisasi. Faktor stres yang ditemukan dalam kategori ini
    terpusat pada sejauh mana tenaga kerja dapat terlibat atau berperan
    serta dalam organisasi.
  6. Tuntutan dari luar pekerjaan. Kategori penyebab stres potensial ini
    mencakup segala unsur kehidupan seseorang yang berinteraksi
    dengan peristiwa-peristiwa kehidupan dan kerja di dalam satu
    organisasi, dan dengan demikian memberikan tekanan pada individu,
    Isu-isu tentang keluarga, krisis kehidupan, kesulitan keuangan,
    keyakinan pribadi dan organisasi yang bertentangan, konflik antara
    tuntutan keluarga dan tuntutan perusahaan, semuanya dapat
    merupakan tekanan pada individu dalam pekerjaannya.
  7. Karakterisitik individu
    a. Umur. Bertambahnya umur maka akan meningkat pula kemampuan
    membuat keputusan, berpikir rasional, semakin bijaksana, mampu
    mengendalikan emosi, lebih toleran, dan terbuka dengan
    pandangan atau pendapat orang lain. Hal tersebut akan terlihat
    saat individu sedang dalam tekanan atau ketika beban kerja
    meningkat, yang bisa memicu terjadinya stres kerja.
    b. Jenis kelamin. Jenis kelamin berhubungan dengan karakteristik
    fisik, psikologis dan sosial antara laki-laki dan perempuan. Tidak
    ada perbedaan yang konsisten antara pada laki-laki dan
    perempuan dalam hal kemampuan berfikir, menyelesaikan
    masalah, menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, motivasi,
    keterampilan dan analisis. Jadi baik laki-laki maupun perempuan
    bisa saja mengalami stres kerja, tergantung kemampuannya
    menyesuaikan diri dengan dunia kerja dan mekanisme koping.
    Namun, jika dikaitakan dengan peran ganda, pada perempuan
    yang bekerja dan sudah berkeluarga, tentunya tanggung jawabnya
    menjadi lebih besar, tuntutannya lebih tinggi, sehingga bisa
    menyebabkan stres, dan dipengaruhi dengan kemampuan
    beradaptasi dan mekanisme koping dari individu tersebut.
    c. Tingkat pendidikan. Pendidikan merupakan pengalaman seseorang
    dalam mengembangkan kemampuan dan meningkatkan
    intelektualitas, yang artinya semakin tinggi tingkat pendidikan maka
    semakin tinggi tingkat pengetahuan dan keahliannya dalam
    menyelesaikan masalah yang dihadapi, mengatasi tekanan atau
    beban kerja yang dihadapinya, mampu menyesuaikan diri terhadap
    pekerjaanya, dan pada akhirnya mampu mengontrol stres yang
    dialaminya.
    d. Status perkawinan. Status perkawinan mempunyai hubungan
    dengan tanggung jawab dan kinerja pegawai, bagi yang sudah
    menikah, pekerjaan menjadi hal yang lebih utama dibandingkan
    bagi yang belum menikah. Individu yang sudah menikah jika
    mendapat dukungan dari keluarga, ada pasangan untuk bertukar
    pikiran dan berbagi tentang masalah pekerjaannya, tentunya dapat
    mengurangi stresnya di tempat kerja. Jadi, dukungan keluarga
    bermanfaat untuk menurunkan stres kerja seseorang.
    e. Lama kerja atau masa kerja. Lama kerja berkaitan dengan
    pengalaman kerja, yaitu berbagai peristiwa yang dialami seseorang
    selama bekerja dan hal tersebut bisa dijadikan pelajaran untuk
    meningkatkan kualitas pekerjaan. Pengalaman kerja yang lebih
    lama, akan meningkatkan keterampilan seseorang dalam bekerja,
    semakin mudah menyesuaikan dengan pekerjaannya, sehingga
    mampu menghadapi tekanan dalam bekerja

No comments:

Post a Comment