Bentuk pola permukiman yang lain
dijelaskan oleh Sri Narni dalam Mulyati (1995) antara lain:
1.
Pola permukiman memanjang (linier satu sisi) di
sepanjang jalan baik di sisi kiri maupun sisi kanan saja
2.
Pola permukiman sejajar (linier dua sisi) merupakan
permukiman yang memanjang di sepanjang jalan
3.
Pola permukiman mengantong merupakan permukiman yang
tumbuh di daerah seperti kantong yang dibentuk oleh jalan yang memagarnya
4.
Pola permukiman curvalinier merupakan permukiman yang tumbuh
di daerah sebelah kiri dan kanan jalan yang membentuk kurva
5.
Pola permukiman melingkar merupakan permukiman yang
tumbuh mengelilingi ruang terbuka kota.
Permukiman tradisional sering
direpresentasikan sebagai tempat yang masih memegang nilai-nilai adat dan
budaya yang berhubungan dengan nilai kepercayaan atau agama yang bersifat
khusus atau unik pada suatu masyarakat tertentu yang berakar dari tempat
tertentu pula di luar determinasi sejarah.
Struktur
ruang permukiman digambarkan melalui pengidentifikasian tempat, lintasan, batas
sebagai komponen utama, selanjutnya diorientasikan melalui hirarki dan jaringan
atau lintasan, yang muncul dalam suatu lingkungan binaan baik secara fisik ataupun non fisik yang
tidak hanya mementingkan orientasi saja tetapi juga objek nyata dari
identifikasi. Identitas kawasan tersebut terbentuk dari pola lingkungan,
tatanan lingkungan binaan, ciri aktifitas sosial budaya dan aktifitas ekonomi
yang khas
(Amos Rapoport)
Permukiman
tradisional memiliki pola-pola mengenai sifat dari persebaran permukiman sebagai suatu
susunan dari sifat yang berbeda dalam hubungan antara faktor-faktor yang
menentukan persebaran permukiman. Terdapat kategori pola permukiman tradisional
berdasarkan bentuknya yang terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1.
Pola permukiman bentuk memanjang terdiri dari
memanjang sungai, jalan, dan garis pantai
2.
Pola permukiman bentuk melingkar
3.
Pola permukiman bentuk persegi panjang
4.
Pola permukiman bentuk kubus.
Pola permukiman tradisional
berdasarkan pada pola persebarannya juga dibagi menjadi dua, yaitu pola
menyebar dan pola mengelompok.
a.
Pola permukiman dengan cara tersebar berjauhan satu
sama lain, terutama terjadi dalam daerah yang baru dibuka. Hal tersebut
disebabkan karena belum adanya jalan besar, sedangkan orang-orang mempunyai
sebidang tanah yang selama suatu masa tertentu harus diusahakan secara terus
menerus
b.
Pola permukiman dengan cara berkumpul dalam sebuah
kampung/desa, memanjang mengikuti jalan lalu lintas (jalan darat/sungai), sedangkan tanah garapan
berada di belakangnya
c.
Pola permukiman dengan cara terkumpul dalam sebuah
kampung/desa, sedangkan tanah garapan berada di luar kampung
d.
Berkumpul dan tersusun melingkar mengikuti jalan. Pola
permukiman dengan cara berkumpul dalam sebuah kampung/desa, mengikuti jalan
yang melingkar, sedangkan tanah garapan berada di belakangnya.
Rumah merupakan bagian dari suatu
permukiman.Rumah saling berkelompok membentuk permukiman dengan pola tertentu.
Pengelompokan permukiman dapat berdasarkan :
·
Kesamaan golongan dalam masyarakat, misalnya terjadi
dalam kelompok sosial tertentu antara lain komplek kraton, komplek perumahan
pegawai
·
Kesamaan profesi tertentu, antara lain desa pengrajin,
perumahan dosen, perumahan bank
·
Kesamaan atas dasar suku bangsa tertentu, antara lain
Kampung Bali, Kampung Makasar, pemukiman suku bajo.
No comments:
Post a Comment