Pendidikan sebagai proses
pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, mempunyai peranan yang sangat
penting yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam
aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani.
Pendidikan jasmani merupakan
pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas fisik sebagai media utama mencapai
tujuan. Bentuk-bentuk aktivitas fisik yang lazim digunakan oleh anak SD, sesuai
dengan muatan yang tercantum dalam kurikulum adalah bentuk gerak-gerak olahraga,
sehingga pendidikan jasmani memuat cabang-cabang olahraga.
Jadi pendidikan jasmani
merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis,
keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, dan penghayatan nilai-nilai
serta pembiasaan pola hidup sehat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan
kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Yang membedakan antara pendidikan
jasmani dengan mata pelajaran lain adalah alat yang digunakan yaitu gerak
insani atau manusia yang bergerak secara sadar.
Untuk mencapai tujuan
tersebut, guru pendidikan jasmani harus dapat merancang dan melaksanakan
pembelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan
karakteristik anak SD. Memodifikasi alat pembelajaran merupakan salah satu
upaya yang dapat dilakukan guru pendidikan jasmani SD, agar siswa dapat
mengikuti pelajaran dengan baik. Rusly Lutan dalam modul pengembangan media
Penjaskes oleh Departemen Pendidikan Nasional (1994:3) menyatakan, modifikasi
dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan, dengan tujuan agar :
1) Siswa memperoleh kepuasan
dalam mengikuti pelajaran.
2) Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi.
3) Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.
Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada di dalam
kurikulum dapat disajikan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor anak, sehingga
pembelajaran pendidikan jasmani di SD dapat dilakukan secara intensif.
Modifikasi digunakan sebagai
salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SD
dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Menurut Ngasmain dan Soepartono dalam
modul pengembangan media Penjaskes oleh Departemen Pendidikan Nasional (1994:4)
alasan utama perlunya modifikasi adalah :
1) Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, kematangan fisik dan
mental anak belum selangkap orang dewasa.
2) Pendekatan pembelajaran pendidikan jasamani selam ini kurang efektif,
hanya bersifat lateral dan monoton.
3) Sarana dan prasarana pembelajaran
pendidikan jasmani yang ada sekarang, hampir semuanya didesain untuk orang
dewasa. Aussie dalam modul pengembangan media Penjaskes oleh Departemen
Pendidikan Nasional (1994:4) mengembangkan modifikasi di Australia dengan
pertimbangan :
1) Anak-anak belum memiliki kematangan fisik
dan emosional seperti orang dewasa.
2)
Berolahraga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan menguragi
cidera pada anak.
3)
Olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan keterampilan anak lebih
cepat disbanding dengan peralatan yang standar untuk orang dewasa.
4)
Olahraga yang dimodifikasi menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan pada
anak-anak dalam situasi kompetitif.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
pendekatan modifikasi dapat
digunakan sebagai suatau alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani di
SD, karena pendekatan ini mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan
karakteristik anak, sehingga anak akan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani
dengan senang dan gembira.
Dengan melakukan modifikasi,
guru penjas akan lebih mudah menyajikan materi pelajaran yang sulit akan
menjadi lebih mudah dan disederhanakan tanpa harus takut kehilangan makna dari
apa yang ia berikan. Anak akan lebih banyak bergerak dalam berbagai situasi dan
kondisi yang dimodifikasi. Komponen-komponen penting dalam pembelajaran
pendidikan jasmani dan kesehatan yang dapat dimodifikasi menurut Aussie
meliputi :
1) Ukuran, berat atau bentuk peralatan yang dipergunakan.
2) Lapangan permainan.
3) Waktu bermain atau lamanya permainan.
4) Peraturan permainan.
5) Jumlah pemain.
Dari pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa komponen-komponen yang dapat dimodifikasi sebagai pendekatan
dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SD adalah :
1) Ukuran, berat atau bentuk
peralatan yang dipergunakan.
2) Ukuran lapangan.
3) Lamanya waktu bermain atau lamanya permainan.
4) Peraturan permainan yang digunakan.
5) Jumlah pemain atau jumlah siswa yang dilibatkan dalam suatu
permainan.