Friday, January 11, 2019

Rumah Tradisional Jawa (skripsi dan tesis)



            Rumah adat jawa dibedakan menjadi lima yaitu (Prijotomo, 1995 )  Panggang-pe, Kampung, Limasan, Tajug dan Joglo. Pada awalnya bentuk Rumah Tradisional Jawa adalah bentuk Panggangpe yang merupakan bentuk bangunan yang paling sederhana, karena hanya terdiri dari satu ruang. Panggang Pe sering digunakan sebagai gardu ronda, maupun  kios.bangunan tipe ini kurang layak untuk dijadikan tempat tinggal permanen. Varian dari rumah bentuk Panggang pe yaitu Panggang Pe Trajumas, Panggang Pe Pokok, Panggang Pe Gedang Selirang, Panggang Pe Gedang Setangkep, Panggang Pe bentuk warung / kios.
Kemudian dari panggang Pe tersebut mengalami modifikasi menjadi bentuk Kampung yang memiliki ruang lebih dari satu. Rumah ini umumnya dimiliki oleh rakyat biasa. Bangunan ini tidak terlalu komplek dan tidak semahal rumah tipe joglo.sembilan ( 9 ) tipe bentuk bangunan Kampung yaitu Kampung Sinom, Kanpung Srotongan, Kampung Dara Gepak, Kampung Jompongan, Kampung Gajah Ngombe, Kampung Pacul Gowang, Kampung Semar Tinandu, Kampung Trajumas, dan Kampung Gedang Selirang
Selanjutnya Limasan  yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari bentuk Kampung. Hampir sama dengan tipe Kampung, Rumah tipe Limasan ini umumnya dimiliki oleh rakyat biasa. Limasan sendiri memiliki varian yang paling banyak yaitu Limasan Srotongan, Limasan Semar Tinandu, Limasan Pacul Gowang, Limasan Gajah Mungkur, Limasan Gajah Ngombe, Limasan Trajumas, Limasan Klabang Nyander, Limasan Sinom, Limasan Bapangan, Limasan Apitan, Limasan Ceblokan, Limasan Awaken, Limasan Gajah Nyerang, Limasan Cere Gancet, Limasan Gotong Mayit, Limasan Semar Pinondong, Limasan Apitan, Limasan Lambang Sari, Limasang Trajumas Lambang Gantung, Limasan Trajumas Lambang Teplok, Limasan Lambang Teplo, Limasan Empyak Setangkep, Limasan Sinom Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang, dan Limasan Sinom Lambang Gantung Rangka Kutuk Manglung.
Bentuk Limasan Semar Tinandu sendiri memiliki sub varian  yaitu Limasan Semar Tinandu Tumpeng, Limasan Semar Tinandu Prapatan Tunggal, Limasan Semar Tinandu Gembengan, Limasan Semar Tinandu Kedas, Limasan Semar Tinandu Pedasan, Limasan Semar Tinandu Hargo, Limasan Semar Tinandu Puspo. Untuk rumah adat dengan tipe Tajug terdiri atas  Tajug Ceblokan, Tajug Semar Tinandu, Tajug Mangkurat, Tajug Lambang Gantung, Tajug Lambang Sari, Tajug Lambang Teplok, Tajug Sinom Semar Tinandu, Tajug Tawon Boni
Tajug adalah tipe dasar yang menjadi pangkal dari acuan pengembangan Joglo ( Lihat gambar 3.1). Nama joglo sendiri berasal dari kata Tajug loro ( dua buah tajug). Bentuk joglo sendiri berasal dari dua buah bangunan tajug yang dirapatkan menjadi satu, dan kemudian mengganti atau yang lebih tepatnya menyambungkan kucup dari atap bangunan tajug menjadi satu (Lihat gambar .2). Penggabungan kuncup dari tajug ini menggunakan sebuah kayu panjang dan biasa disebut molo. Apabila dipandang dari segi kekomplekan sistem struktur dan sistem sambungan, Joglo dan Tajug adalah bentuk yang paling rumit dan lengkap (Prihatmaji, 2002).
            Bentuk joglo mempunyai ciri bahwa perbandingan panjang blandar dengan panjang suwunan tidak terlalu menyolok sehingga bentuk atap kelihatan terlalu tinggi dan tanpa ander ( Wiryoprawiro 1985). Atap tersebut disangga oleh 4 tiang utama yang disebut saka guru. Bentuk joglo dapat dipakai untuk pendapa ataupun rumah tinggal. Di keempat sisi atap diberi tambahan emper sehiga memerlukan tambahan tiang. 

Bentuk rumah joglo sendiri ada beberapa macam ( Dakung, 1987 ) yaitu Joglo Lawakan, Joglo Sinom, Joglo Pangrawit, Joglo Mangkurat, Joglo Hageng, Joglo Semar Tinandhu, dan Joglo Jompongan. Dari ke tujuh bentuk joglo tersebut, yang paling banyak digunakan oleh para bangsawan dan para abdi dalem kraton adalah Joglo Mangkurat, Joglo Semar tinandu, dan Joglo Hageng ( lihat gambar 3.2). Sedangkan jenis jenis joglo yang lainnya biasanya digunakan oleh rakyat biasa seperti Joglo Lawakan, Joglo Sinom, Joglo Pangrawit, dan Joglo Jompongan.

Kinerja Proyek (skripsi dan tesis)



Kinerja Proyek dalam penelitian ini yang terdiri dari kinerja biaya, kinerja mutu, kinerja waktu, kinerja pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3), dan kinerja lingkungan. Masing-masing kriteria kinerja proyek tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a)      Kinerja biaya
Biaya merupakan pertimbangan utama dari suatu proyek konstruksi, karena bagaimana dan berapa lama suatu proyek konstruksi yang akan dibuat tergantung pada biaya yang tersedia. Pada umumnya biaya yang dibutuhkan dalam suatu proyek konstruksi sangat besar. Ketidak tepatan yang terjadi dalam penyediaanya akan berakibat terganggunya kinerja proyek secara keseluruhan. Oleh karena itu pembiayaan perlu di anggarkan untuk selanjutnya dituangkan ke dalam jadwal pekerjaan dan rencana sepesifikasi. (Ervianto, 2005)
b)      Kinerja mutu
Mutu proyek konstruksi adalah kesesuaian pekerjaan di lapangan dengan spesifikasi dari suatu proyek konstruksi. Spesifikasi merupakan dokumen legal yang harus dipenuhi dan merupakan bagian dari sebuah kontrak antara pemilik proyek dengan kontraktor. Tujuan utama dari spesifikasi adalah menyamakan persepsi antara pengguna jasa dengan penyedia jasa. (Ervianto, 2004)
c)      Kinerja waktu
Kinerja waktu dalam suatu proyek berkaitan dengan penundaan waktu proyek dari yang seharusnya direncanakan. Penundaan (delay) adalah sebagian waktu pelaksanaan yang tidak dapat dimanfaatkan sesuai dengan rencanan, sehingga menyebabkan beberapa kegiatan yang mengikuti menjadi tertunda atau tidak dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan. (Ervianto, 2004)
Keterlambatan atau penambahan durasi proyek dari yang direncanakan dalam proyek konstruksi secara umum biasanya disebabkan oleh perbedaan kondisi lokasi, perubahan desain, pengaruh cuaca, tidak terpenuhinya kebutuhan pekerja, material atau peralatan, kesalahan perencanaan, dan keterlibatan pemilik proyek. Keterlambatan akan menyebabkan bertambahnya biaya konstruksi. 
d)     Kinerja pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3)
Proses pembangunan proyek konstruksi pada umumnya merupakan kegiatan yang banyak mengandung bahaya. Oleh karena itu keselamatan kerja mutlak diperhatikan karena menyangkut permasalahan, perikemanusiaan, biaya dan manfaat ekonomi, aspek hukum, pertanggung jawaban serta citra organisasi itu sendiri.
Secara umum faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja dapat dibedakan menjadi (1) faktor pekerja itu sendiri/kehati-hatian pekerja (2) faktor metode konstruksi (3) peralatan K3 yang tersedia (4) keputusan manajemen. Sedangkan usaha-usaha pencegahan kecelakaan kerja yang dapat dilakukan adalah (1) pengelompokan pekerjaan berdaarkan resiko kerja (2) pelatihan keselamatan kerja bagi pekerja konstruksi (3) pengawasan intensif terhadap pelaksanaan pekerjaan (4) ketersediaan alat K3 (5) pelaksanaan pengaturan di lolasi proyek konstruksi (Ervianto, 2005)
e)      Kinerja lingkungan.
Lingkungan merupakan pendukung dasar dari semua sistem yang ada, oleh karena itu daya dukung lingkungan perlu sangat diperhatikan. Pelaksanaan proyek konstruksi pada hakekatnya adalah merupakan upaya penyediaan infrastruktur yang dapat mendukung kegiatan ekonomi dan sosial manusia. Jika pelaksanaan proyek konstruksi tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, maka akan menyebabkan kerusakan alam yang pada hakekatnya akan merugikan manusia termasuk makhluk hidup yang lain. (Kodoatie, 2005)
Kesesuaian antara pembangunan suatu proyek konstruksi dengan daya dukung alam, dituangkan dalam dokumen AMDAL yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. Oleh karena itu dokumen ini wajib dimiliki oleh suatu proyek konstruksi, apalagi yang berskala besar. 

Kinerja Manajer Proyek (skripsi dan tesis)



Peran utama manajer proyek sebagai pemimpin adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam perjalanannya selama memimpin organisasi, kinerja manajer proyek selalu diamati, dievaluasi oleh anggotanya baik secara formal maupun informal. Penilaian bahwa pemimpin “lemah” apabila kinerjanya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sebagian besar anggotanya yang dapat menyebabkan proyek berjalan ke arah yang kurang tepat. (Ervianto, 2005)
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kinerja secara umum adalah apa yang dicapai atau prestasi kerja yang terlihat. Kinerja yang dalam bahasa inggrisnya disebut dengan performance, diartikan sebagai daya guna, prestasi atau hasil. Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan dan waktu.
Menurut Dale Timpe (1992), kinerja adalah tingkat prestasi seseorang atau karyawan dalam suatu organisasi atau perusahaan yang dapat meningkatkan produktifitas. Kinerja menurut Meiner (1965) adalah sebagai kesuksesan yang dicapai individu di dalam melakukan pekerjaannya di mana ukuran kesuksesan yang dicaoai individu tidak dapat disamakan dengan individu yang lain. Kesuksesan yang dicapai individu berdasarkan ukuran yang berlaku dan disesuaikan dengan jenis pekerjaannya.
Menurut Flippo (1984) bahwa agar seseorang mencapai kinerja yang tinggi tergantung pada kerjasama, kepribadian, kepandaian yang beranekaragam, kepemimpinan, keselamatan, pengetahuan pekerjaan, kehadiran, ketangguhan dan inisiatif. Salah satu teori harapan (expectancy theory) yang dikembangkan oleh Vromm menyatakan bahwa kinerja (performance) adalah fungsi dari motivasi (motivation) dan kemampuan (ability) yang dapat dituliskan sebagai berikut : P = f(M x A). dengan demikian jelas apabila motivasi dari suatu organisasi ditingkatkan maka kinerjanya akan meningkat pula. Dari salah satu riset yang dilakukan di Yogyakarta diperoleh faktor yang dominan mempengaruhi motivasi mandor kontruksi yaitu apabila diberikan stimulus yang dapat meningkatkan stimulus meningkatkan taraf kehidupan dan kesehjateraan sosial yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok (primer) dan pemberian bonus diyakini dapat meningkatkan kinerja mandor (Ervianto, 2005).
Untuk mengukur kinerja, terlebih dahulu harus ditetapkan kriterianya. Menurut Jossup dan Jessup dalam Moh. As’ad (1997) yang diperlukan pertama dalam hal ini adalah ukuran mengenai sukses dan yang kedua adalah bagian-bagian mana yang dianggap penting sekali dalam suatu pekerjaan. Yang menjadi masalah sekarang bahwa ukuran sukses tersebut sulit dilakukan karena kompleksnya suatu pekerjaan. Tetapi secara ringkas dapat dikatakan bahwa pengukuran tentang job performance atau kinerja itu tergantung kepada jenis pekerjaan dan tujuan organisasi.
Randal S. Shuller dan Susan E. Jackson (1999) mengatakan bahwa penilaian kinerja adalah mengukur siapa mengerjakan apa dengan baik. Dalam hal ini penilaian kinerja mengacu pada suatu sistem formal dan terstruktur yang mengukur, menilai, dan mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan, perilaku dan hasil termasuk tingkat ketidak hadiran. Fokusnya dalah untuk mengetahui seberapa produktif seorang pegawai dan apakah ia bisa berkinerja sama atau lebih efektif pada masa yang akan datang, sehingga pegawai, organisasi dan masyarakat semuanya memperoleh manfaat.
Beach (1990) menyebutkan bahwa penilaian kinerja seseorang dapat didasarkan pada beberapa indikator yaitu:
a.       kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan,
b.      kesungguhan dalam menyelesaikan pekerjaan,
c.       kemampuan memberikan layanan pada masyarakat,
d.      tanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan,
e.       kejujuran dalam bekerja,
f.       kemampuan bekerjasama,
g.      pengetahuan dan keterampilan kerja,
h.      kemampuan mengambil keputusan.
Menurut Dale Timpe (1992), terdapat dua faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang, yaitu:
a.       Faktor internal, yaitu faktor yang berhubungan dengan sifat-sfifat seseorang, meliputi sikap, sifat-sifat kepribadian, sifat fisik, keinginan atau motivasi, umur, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman kerja, latar belakang budaya dan variabel-variabel lainnya.
b.      Faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan, meliputi kebijaksanaan organisasi, kepemimpinan, tindakan rekan kerja atau bawahan, sistem upah dan lingkungan sosial.
Dalam hal pengukuran kinerja seseorang, menurut As’ad (2004) dapat dilakukan dengan tiga pendekatan berikut:
a.      Subjective Prosedur
Prosedur ini meliputi pertimbangan penilaian ataupun pertimbangan terhadap kinerja seseorang yang dilakukan oleh atasan, bawahan, rekan kerja, atau diri sendiri. Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah adanya human error atau faktor manusia yang memang cenderung subyektif.
Galat tersebut disebabkan karena kebanyakan dari para penilai tidak menyadari bahwa mereka melakukan suatu kesalahan sehingga mereka tidak bisa memperbaiki pertimbangan-pertimbangannya. Namun di sisi lain metode pengukuran ini sangat mudah dan cepat untuk dilakukan.
b.      Direct Measures
Dalam hal ini kinerja diukur secara langsung dari hasil kerja orang tersebut (produktifitasnya) misalnya diukur dari jumlah produk yang dihasilkan dalam waktu tertentu, diukur dari jumlah produk yang tidak dapat dipakai dan juga jumlah kejadian yang tidak diinginkan selama jangka waktu tertentu. Sehingga kinerja untuk masing-masing jenis pekerjaan sangatlah berbeda, untuk itu penilaian ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) yang berhubungan dengan produksi yang menyangkut unit-unit yang diproduksi dan kualiats produksi dan kualitas produk (2) yang berhubungan dengan personal information, yang meliputi: absentiesme, ketepatan datang, keluhan-keluhan dari karyawan, dan waktu yang dipergunakan untuk mempelajari suatu pekerjaan dan sebagainya.
c.       Proficiency Testing
Tes proficiency merupakan suatu pendekatan dengan mengetest keterampilan karyawan dan pengetahuan yang dimilikinya berupa te di lingkungan pekerjaan secara langsung, maupun tes berupa simulasi.Cara lain dari tes proficiency adalah dengan melakukan tes tulis. Tes ini berguna untuk mengetahui potensi yang dimiliki oleh seorang karyawan dan untuk mengevaluasi apakah seorang karywan dapat dikembangkan untuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih sulit.
Dalam setiap proyek konstruksi, pengelolaan proyek dilakukan oleh sekelompok orang yang mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Setiap proyek dikelola oleh tim yang terdiri dari manajer proyek (project manajer), site manajer, teknik, administrasi kontrak, personalia dan keuangan. Koordinasi anggota tim proyek dilakukan sepenuhnya oleh manajer proyek.
Manajer proyek dapat didefinisikan sebagai seseorang yang bertanggung jawab terhadap organisasi induk proyeknya sendiri, dan tim yang bekerja dalam proyeknya. Adapun kinerja manajer proyek dapat dilihat dari kriteria-kriteria sebagai berikut: (Ervianto, 2005)
a.       Kemampuan mengusahakan sumber daya yang memadai
b.      Kemampuan memotivasi sumber daya manusia
c.       Kemampuan membuat keputusan yang tepat
d.      Kemampuan memandang timnya secara berimbang (adil)
e.       Kemampuan berkomunikasi dengan baik
f.       Kemampuan dalam bernegosiasi

Kepemimpinan Manajer Proyek (skripsi dan tesis)



Salah satu karakteristik proyek konstruksi adalah adanya organisasi. Setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan di mana di dalamnya terlibat sejumlah individu dengan ragam kehlian, ketertarikan, kepribadian dan juga ketidak pastian. Langkah awal manajer proyek sebagai pimpinan organisasi proyek konstruksi bertugas menyatukan visi menjadi satu tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.(Ervianto, 2005) Menurut Soehardi Sigit (2003), kepemimpinan merupakan upaya untuk memepngaruhi orang lain untuk melakukan perbuatan ke arah yang dikehendaki. Kepemimpinan dalam proyek konstruksi adalah kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya 5 M (men, machines, mathods, materials, money) untuk dapat menyelesaikan masalah dan menentukan arah tujuan tercapainya proyek konstruksi yang tepat biaya, tepat mutu, dan tepat waktu.
Dalam pandangan tradisional, pemimpin dianggap sebagai hero. Pengertian pahlawan di sini menurut Yukl (1989) adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menentukan takdir organisasi yang dipimpinnya. Jadi apa yang dilakukan dan diputuskan oleh seorang pemimpin akan mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan. Hal ini seringkali disebut sebagai romantisme kepemimpinan yang menurut Thomas (1988), “Convensional leadership have generally assumed that leader have significant and crucial impact on the performance of organization they lead”. Pandangan ini kemudian disebut Thomas sebagai pandangan ‘Individualis’, yang mengandung makna bahwa individu merupakan figus yang berarti bagi kehidupan organisasi.
Salah satu elemen prinsip dalam konsep romantisme, menurut Meindl, Ehlirch dan Dukerich (1985) adalah pandangan bahwa kepemimpinan merupakan pusat dari proses organisasi dan kekuatan utama dalam skema aktivitas dan kejadian dalam organisasi.
Dalam realitasnya pandangan ini dianggap positif oleh pemimpin, bahkan memanfaatkan padangangan tersebut untuk kepentingan politisnya dengan melakukan manipulasi terhadap kinerja. Hal tersebut ditengarai oleh Yukl (1989a),
The attributional biases about leader are exploited by many political leader and top executives who seek to create the impression that are in control of events. Symbol and rituals, such as elaborate inagural ceremonies, reinforce the percieved importance of leaders (Pfeffer). Successes are announced and celebrated; filure are suppresed or downplayed”  

Namun di sisi lain, hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang negatif bagi pertumbuhan organisasi. Anggapan bahwa pemimpin adalah segalanya dan apapun yang dilakukan dan diputuskan membawa dampak bagi kehidupan dapat menjadi bumerang bagi pemimpin dan organisasi yang dipimpinnya, yakni bila pemimpin menjadi cenderung berhati-hati, menghindari resiko dan mengambil langkah aman. Hal tersebut tentunya dapat menghambat pertumbuhan organisasi.
Seorang pemimpin yang baik harus mempunyai sifat-sifat yang baik dan terpuji sehingga menjadi teladan bagi bawahannya. Menurut Mulia Nasution (1994) kepmimpinan yang baik harus memiliki sifat-sifat yaitu:
a.       Mempunyai kemampuan melebihi orang lain. Seorang pemimpin tidak mau menjadi nomor dua, juga mempunyai keinginan mengatasi dann mengungguli orang lain. Seorang pemimpin harus penuh inisiatif dan sanggup bekerja keras serta ulet untuk mencapai tujuan.
b.      Mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Seorang pemimpin tidak akan pernah merasa takut untuk memikul tanggung jawab terhadap orang lain, atau pekerjaan yang sukara sekalipun.
c.       Mau bekerja keras. Seorang pemimpin akanselalu sanggup bekerja keras dan tidak kenal lelah, ia mempunyai daya tahan yang kuat untuk bekerja keras dakan jangka waktu yang lama. Hal ini untuk dapat memberi contoh atau motivasi bawahannya.
d.      Pandai bergaul, seorang pemimpin yang baik, selalu pandai bergaul dengan teman sejawat. Ia akan berusaha mengnal baik temannya serta memahami segala persoalannya.
e.       Memberi contoh bekerja dengan semangat pada bawahan. Seorang pemimpin selalu menjadi pelopor dan selalu menjadi contoh bagaimana cara bekerja keras dan bersemangat, sehingga bawahan dengan sendirinya termotivasi untuk ikut bekerja dengan semangat.
f.       Memiliki rasa integritas. Pemimpin harus mempunyai rasa bersatu padu dengan kelompok yang ada di dalam organisasinya.


Definisi Proyek (skripsi dan tesis)



Untuk menunjang pesatnya pembangunan, pemerintah melakukan pembangunan disegala bidang baik, fisik maupun mental spiritual. Sampai saat ini pemerintah masih menetapkan program fisik sebagai program paling dominan yang sering dikenal sebagai istilah proyek. Proyek didefinisikan sebagai suatu sistem yang kompleks yang melibatkan koordinasi dari sejumlah bagian yang terpisah dari organisasi dan di dalamnya terdapat skedul dan syarat-syarat dimana kita harus bekerja (Sukanto, 1997)
Proyek konstruksi berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia dan kemajuan teknologi. Bidang-bidang kehidupan manusia yang semakin beragam menuntut industri jasa konstruksi, membangun proyek-proyek konstruksi yang sesuai dengan keragaman bidang tersebut. Secara umun klasifikasi berdasarkan jenis bangunan maka proyek konstruksi dapat dibagi menjadi:
1.   Proyek Konstruksi Bangunan Gedung (Building Construction)
Proyek bangunan gedung mencakup bangunan gedung, rumah sakit, rumah tinggal dan sebagainya. Dari segi biaya dan teknologi terdin dari yang berskala rendah, menengah, dan tinggi. Biasanya perencanaan untuk proyek bangunan gedung lebih lengkap dan detail. Untuk proyek-proyek pernerintah (di Indonesia) proyek bangunan gedung ini dibawah pengawasan atau pengelolaan DPU sub dinas Cipta Karya.

2.   Proyek Bangunan Perumahan atau. Pemukiman (Residental Construction/Real Estate)
Disini proyek pembangunan atau pernukiman (real estate) dibedakan dengan proyek bangunan gedung secara rinci yang didasarkan pada klase pernbangunan serempak dengan penyerahan prasaana-prasarana penunjagnya.Jadi memerlukan perencanaan infrastruktur dari Perumahan seperti jaringan transportasi, air,dan fasilitas lainnya lainnys. Proyek pembangunan pemukiman ini dari rumah yang sangat sederhana sampai rurnah megah sampai.
3. Proyek Konstruksi Teknik  Sipil
Umumnya proyek yang termasuk jenis ini adalah proyek bendungan, proyek jalan raya, jembatan, terowongan, jalan kereta api, pelabuhan dan lain-lain.Jenis proyek itu umumnya berskala besar dan membutuhkan teknologi tinggi.
4. Proyek Konstruksi Industri (Industrial Construction)
Proyek konstruksi yang termasuk jenis ini biasanya proyek industri yang membutuhkan spesifikasi dan persyaratan khusus, seperti untuk kilang minyak, industri berat atau industri dasar, pertambangan, sebagainya. Perencanaan dan pelaksanaan membutuhkan ketelitian dan keahlian atau teknologi yang spesifikasi.


Pelaksanaan suatu proyek merupakan proses yang panjang, dimana mekanismenya tersusun serta terdiri dari banyak sekali kegaiatan atau pekerjaan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan gabungan dari berbagai kepentingan dan tanggung jawab yang saling terkait dari pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan dan sesuai dengan kepentingan dan tanggung jawab individual tersebut direncanakan sebuah sistem. Sistem yang dimaksudkan adalah kumpulan komponen-komponen kegiatan yang saling berhubungan dan tergantung yang harus dikoordinasikan dan dikendalikan sedemikian rupa sehingga mejadi kesatuan yang menyeluruh. Pendekatan sistem tersebut tidaklah memperlakukan bagian-bagian organisasi secara terpisah-pisah akan tetapi menjadi keseluruhannya sebagai kesatuan koordinasi yang terpadu dan terintegrasi (Paulson Jr et al,  1987)
Banyak hal harus dipertimbangkan untuk membuat sistem pelaksanaan proyek termasuk diantaranya adalah mengkombinasikan dan mengkomposisikan hal-hal menyangkut unsur-unsur mutu atau kualitas, biaya dan waktu pelaksanaan. Perubahan dari unsur-unsur tersebut akan langsung berpengaruh terhadap keseluruhan tahapan-tahapan pelaksanaan pembangunan.
Tahapan dalam kegiatan proyek kontruksi dimulai sejak dikemukakan prakarsa dari Pemilik atau sejak pengembangan konsep sampai dengan tahap pengoperasian bagunan sesuai dengan tujuan fungional proyek. Walaupun setiap pelaksaaan proyek masing-masing berbeda tetapi secara garis besar tetap membentuk pola yang sama. Perbedaaan setiap proyek terletak pada alokasi rentang waktu dan penekanan untuk setiap tahapan. Hubungan antar tahapan dapat berurutan seperti halnya yang dilaksanakan secara tradisional, tataua bertumpang tindih sebatas yang dilakukan pada bagian-bagian tertentu demi untuk mencapai hasil optimal. Hasil optimal sebagai tujuan akhir dari  sistem pengendalian, pengawasan kualitas berkaitan dengan pemantauan kualitas hasil pekerjaan untuk menjamin tercapainya standar spesifikasi teknis seperti yang disepakati. Pengawasan kualitas harus sudah dilaksanakan sejak diterimanya masukan, diteruskan selama proses produksi dan berlangsung pada thap akhirnya. Pengawasan kualitas tidak hanya dapat dilakukan berdasarkan pada sampel statistik seperti yang berlaku dalam industri menufaktur pada umumnya.
Secara umum tahapan pokok dalam proyek kontruksi sebagai berikut : (Dipohusodo, 1996).
1.      Tahap Pengembangan Konsep
Pada tahap awal harus dapat mengungkapkan fakta-fakta keadaan di lokasi proyek baik berupa faktor-faktor yang mendukung ataupun menjadi kendala, antara lain pengenalan terhadap yuridiksi praktek kerja setempat, bersama dengan upaya untuk mengestimasi produksitivitas serta memperhitungkan ketersediaan tenaga kerja terampil (mendapatkan informasi standar upah/UMR), harga material utama bangunan dan lain-lain.
Berdasarkan mengenai keadaan di lokasi proyek maka dilakukan peninjauan tentang kriteria konsep, sistem perencanaan serta sistem perancangan detail yang akan diperlakukan. Penyusunan konsep dan kriteria pelaksanaan secara keseluruhan sedini mungkin untuk menumbuhkan kerja sama tim, menyamakan persepsi untuk mencapai tujuan dan memebentuk dasar-dasar perencanaan yang akan terus dikembangkan. Rencana kerja proyek biasanya mencakup kegiatan menyususn estimasi pendahuluan, rencana kerja jangka pendek, paket-paket pekerjaan, program rekayasa nilai dan perencanaan kontruksi. Selanjutnya adalah langkah-langkah dan jadwal rencana untuk mendasari upaya pelaksanaan proyek secara bertahap. Di samping itu perlu melakukan peninjauan kembali mengenai pendelegasiaan wewenang dari pemberi tugas kepada setiap unsur organisasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
2.      Tahap Perencanaan (Planning)
Keberhasilan proyek diawali dan sangat ditentukan dengan berhasil atau tidaknya untuk menyusun landasannya yaitu berupa perencanaan yang lengkap dan matang sehingga dengan sendirinya suatu perencanaan dapat mengakomodasikan seluruh kebutuhan dan kepentingan pelaksanaan kontruksi dari perencanaan meliputi hal-hal yang bersifat teknis, termasuk metode kerja sampai dengan dampak yang diakibatkan.
Proses perencanaan keseluruhan secara umum dibagi menjadi empat tahapan pelaksanan, yaitu tahap tanggapan terhadap Arahan Penugasan (TOR) atau seringkali disebut dengan tahap pengajuan proposal kemudian tahap survai dan investigasi, tahap penyusunan pra-rencana atau dikenal sebagai sketsa rencana, serta tahap perencanaan final atau perancangan detail. Pelaksanaan keempat tahapan tersebut secara berurutan, tidak bisa diubah dan kelengkapan dari masing-masing tahap sangat ditentukan dari hasil pada tahapan sebelumnya.
3.      Tahap Sketsa Rencana (Preliminary Design)
Inti daripada pra-rencana atau sketsa rencana ialah menuangkan konsep-konsep arsitektur, evaluasi terhadap beberapa alternatif proses teknologi, penetapan dimensi serta kapasitas ruangan-ruangan dan mengetengahkan studi-studi banding ekonomi pembangunan. Pada umunya penyusunan pra-rencana merupakan perkembangan langsung dari tahapan pengembangan konsep. Dalam sketsa rencna tersebut diakomodasi segala macam peraturan yang harus diperlakukan misalnya praturan pmbagian zoning, ketentuan batas roof dan syarat IMB lainnya. Juga ketentuan mengenai instalasi mekanikal dan elektrikal, standar keamanan dan sebagainya. Dengan tersusunnya para rencana yang dilengkapi dnegan sketsa-sketsa perencanaan sudah didapatkan gambaran mengenai ruang lingkup dan besar proyek. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dibuat estimasi biaya proyek sementara untuk tujuan pengendalian pendahuluan.
4.      Tahap Rancangan Detail (Detail Design)
Tahapan perancangan detail atau rancangan final mencakup kegaiatn menjabarkan seluruh perancangan termasuk rancangan elemen bagian terkecil secara sistematis dan berurutan. Masing-masing disertai gambar-gambar perencanaan, spesifikasi teknis dan syarat-syarat pelaksanaan pekerjaan Gambar-gambar detail dan spesifikasi teknis ditujukan untuk menjelaskan pekerjaan serta dipakai sebagai pedoman atau petunjuk agar semua pekerjaan dapat dilaksanakan dengan setepat-tepatnya. Dengan mendasarkan pada pola perancangan detail trsebut dapat dibuatkan rencana kerja final yang memuat penegelompokan pekerjaan dan kegiatan secara terperinci dengan tujuan membagi manjadi paket-paket jadwal yang lebih disempurnakan berupa jadwal bagan balok dan jaringan kerja yang lebih terperinci, kesepakatan sistem koordinasi dan pengendalian proyek yang dilengkapi dengan pembagian tugas dan tanggung jawab secara lengkap. Dengan kesiapan rencana kerja final tersebut berarti program rekayasa nilai sudah siap diterapkan. Pada dasarnya penyusunan rencana kerja final ditujukan pada dua sasaran pokok yaitu : Yang pertama sebagai pedoman pelaksaan pekerjaan maka biaya pelaksanaan kontruksi tidak melebihi anggaran dan yang kedua pekerjaan akan selesai dengan kualitas dan dalam rentang waktu yang direncanakan atau ditetapkan.
5.      Tahap Pelaksanaan (Operation)
Tahap pelaksanaan telah dimulai sejak ditetapkannya kontraktor serta penyerahan lapangan dengan segala keadaannya kepada kontraktor. Selanjutnya perlu segera mengembangkan jadwal kerja yang diajukan di dalam penawaran kontraktor menjadi jadwal tereperinci baik berupa bagan balok maupun jaringan kerja. Jadwal kerja disusun hanya berdasarkan asumsi yang sangat umum sehingga dapat dipastikan bahwa semenjak berhadapan dengan lapangan langsung selalu didapati hal-hal yang tidak tepat dengan asumsi yang dibuat sebelumnya.
Selama pelaksanaan proyek berjalan juga dilakukan pengendalian dengan selalu mengikuti laporan dan evaluasi pekerjaan termasuk jadwal rencana kerja yang disiapkan secara teratur dalam waktu periodik harian, mingguan, dan bulanan. (Dipohusodo, 1996).

Faktor – faktor Produksi Pertanian (skripsi dan tesis)



Menurut Daniel (2004), kegiatan pertanian dapat berhasil dengan baik apabila memenuhi persyaratan yang dibutuhkan oleh tanaman yang dibudidayakan. Persyaratan ini dikenal dengan faktor produksi pertanian. Faktor produksi pertanian terdiri dari empat komponen, yaitu: 1) tanah, 2) Modal, 3) Tenaga Kerja dan 4) Skill atau manajemen. Sejalan dengan pendapat Daniel, Suratiyah (2006), menjelaskan faktorfaktor yang bekerja dalam usahatani adalah:
a.         Faktor Alam
Faktor alam dibedakan menjadi dua, yakni faktor tanah dan lingkungan alam sekitarnya. Faktor tanah misalnya jenis tanah dan kcsuburan. Faktor alam sekitar yakni iklim yang berkaitan dengan  ketersediaan air, suhu, dan lain sebagainya.
Tanah sebagai faktor alam sangat menentukan baik dilihat dari sifat fisik (jenis, struktur dan tekstur tanah) serta sifat istimewa tanah yang bukan sebagai barang produksi, tidak dapat diperbanyak, dan  tidak dapat dipindahpindah. Oleh karena itu, tanah dalam usahatani mempunyai nilai terbesar.
Disamping itu, tanah mempunyai hubungan yang erat dengan manusia dimana terdapat tiga tingkat dari yang terkuat sampai yang terlemah yaitu hak milik, hak sewa dan hak bagi hasil (sakap).  Perbedaan hubungan tersebut akan berpengaruh pada kesediaan petani dalam meningkatkan  produksi, memperbaiki kesuburan tanah, dan intensifikasi.
b.        Tenaga kerja
Tenaga kerja adalah salah satu unsur penentu, terutama bagi usaha tani yang sangat tergantung musim. Kelangkaan tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehingga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk.
Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usaha tani keluarga, khususnya tenaga kerja petani beserta anggota keluarganya. Rumah tangga tani yang umumnya sangat terbatas kemampuannya dari segi modal, peranan tenaga kerja keluarga sangat menentukan. Jika masih dapat diselesaikan oleh tenaga kerja keluarga sendiri maka tidak perlu mengupah tenaga luar, yang berarti menghemat biaya.
c.         Modal.
Modal adalah syarat mutlak berlangsungnya suatu usaha, demikian pula dengan usahatani. Menurut Vink dalam Suratiyah (2006), benda-benda (termasuk tanah) yang dapat mendatangkan pendapatan dianggap sebagai modal. Namun, tidak demikian halnya dengan pendapat Koens dalam Suratiyah (2006) yang menganggap bahwa hanya uang tunai saja yang dianggap sebagai modal usahatani.
Penggolongan modal akan semakin rancu dalam usahatani keluarga karena dalam usaha tani keluarga cenderung memisahkan faktor tanah dari alat-alat produksi yang lain. Hal ini dikarenakan belum ada pemisahan yang jelas antara modal usaha dan modal pribadi.
Di dalam usaha tani modal dapat dibagi menjadi dua, yaitu land saving capital dan labour saving capital. Modal dikatakan land saving capital jika dengan modal tersebut dapat menghemat penggunaan lahan, tetapi produksi dapat dilipatgandakan tanpa harus memperluas areal. Contohnya pemakaian pupuk, bibit unggul, pestisida, dan intensifikasi. Modal dikatakan labour saving capital
jika dengan modal tersebut dapat menghemat penggunaan tenaga kerja. Contohnya pemakaian traktor untuk membajak, mesin penggiling padi untuk memproses padi menjadi beras, pemakaian thresher untuk penggabahan, dan sebagainya. Menurut Tohir dalam Suratiyah (2006), ditegaskan bahwa tanah bukan termasuk faktor produksi modal, tetapi masuk dalam faktor alam yang memiliki nilai modal.
Selanjutnya, Suratiyah (2006) secara ringkas menguraikan faktor-faktor internal petani yang mempengaruhi keberhasilan usaha tani, yaitu: 1) Umur petani 2) pendidikan, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan, 3) jumlah tenaga kerja keluarga, 4) luas lahan yang dimiliki dan 5) modal. Sedangkan menurut Hernanto (1991), secara ringkas menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha tani, yaitu:
1.        Faktor internal petani, meliputi:
a.       Petani pengelola
b.      Tanah garapan
c.       Tenaga kerja
d.      Modal
e.       Kemampuan penguasaan teknologi
f.       Kemampuan petani mengalokasikan penerimaan keluarga
g.      Jumlah anggota keluarga
2.        Faktor eksternal petani, meliputi:
a.       Tersedianya sarana transportasi dan komunikasi
b.      Aspek-aspek yang menyangkut pemasaran hasil dan bahan usaha tani (harga jual, harga sarana produksi/saprodi dan lain-lain)
c.       Fasilitas kredit
d.      Sarana penyuluhan bagi petani
Pengembangan usaha tani tidak terlepas dari berbagai faktor-faktor pembatas yang berkaitan dengan kegiatan usaha tani baik secara langsung maupun tidak langsung. Morril (1974) menguraikan faktor-faktor pembatas pengembangan usaha tani meliputi:
a.       Lokasi relatif terhadap pasar dan biaya transportasi sebagai pengaruh perbedaan jenis tanaman.
b.      Lingkungan, khususnya bentang lahan, tanah, suhu, kelembaban dan musim pertumbuhan tanaman.
c.       Setiap jenis tanaman memerlukan lokasi yang sesuai.
d.      Permintaan konsumen
e.       Karakteristik tanaman yang berpengaruh terhadap produktivitas tanaman sebagai respon terhadap input-input sarana pertanian seperti pupuk dan mekanisasi pertanian.
f.       Perbedaan wilayah kaitannya dengan kemampuan dan upah tenaga kerja, kepemilikan lahan, tekanan penduduk dan peluang alternatif usaha.
g.      Kebijakan pemerintah.
Konsep ini juga serupa dengan konsep pusat pelayanan perdesaan (rural centres) yang diuraikan dalam Guidelines for Rural Centre Planning (United Nation, 1979) yang mengartikan kawasan sebagai penyedia langsung kebutuhan dasar bagi peningkatan produksi baik dalam bentuk pelayanan sosial maupun ekonomi seperti sebagai berikut:
1.      Memasarkan / mengumpulkan hasil – hasil surplus pertanian
2.      Menyediakan / mendistribusikan input – input pertanian yang penting seperti pupuk, peralatan, kredit, fasilitas perbengkelan.
3.      Menyediakan fasilitas pengolahan yang hasilnya untuk dikonsumsi sendiri dan untuk dipasarkan kembali.
4.      Menyediakan pelayanan – pelayanan sosial.
Perbedaannya dengan urban centres walaupun memiliki fungsi yany relatif sama, tetapi lebih berorientasi pada pelayanan sektor tersier, sedangkan rural centres lebih berorientasi pada pelayanan untuk meningkatkan produksi sektor primer (pertanian) (United Nations, 1979). Konsep ini pada dasarnya sama yaitu asas pemenuhan kebutuhan di kawasaan dengan faktor – faktor yang dipengaruhi pengembangan dapat dipenuhi sehingga akan tercapai tujuan yang dikehendaki.
Dalam hubungannya dengan produktivitas pertanian, Partadireja (1990) menyatakan bahwa pengertian produktivitas lahan dalam sesuatu perhektar luasan lahan ditentukan oleh:
1.      Keadaan dan kesuburan lahan
2.      Modal yang mencakup varietas tanaman, penggunaan pupuk organik dan an organik, pestisida, tersedianya air dalam jumlah cukup dalam arti kualitas dan kuantitas serta alat – alat pertanian.
3.      Teknik bercocok tanam.
4.      Teknologi dalam artian organisasi, manajemen dan gagasan yang bersifat inisiatif dan inovatif.
5.      Tenaga kerja dalam arti kualitas dan kuantitas.
Diharapkan dengan adanya program agropolitan akan meningkatkan produksi pertanian, juga mendorong petani untuk menerapkan cara – cara dan manajemen bertani yang baik. Faktor – faktor ini berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas rata – rata lahan sawah.
Dalam produksi pertanian, produksi dihasilkan oleh bekerjanya beberapa faktor produksi, seperti tanah, tenaga kerja, irigasi, iklim, keterampilan bertani dan sarana produksi. Penggunaan input dalam produksi pertanian dibatasi oleh hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang (Mubaryanto, 1983). Hal tersebut menunjukkan bahwa luas lahan garapan dan pupuk merupakan faktor produksi yang menetukan dalam usaha meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Faktor produksi lainnya seperti bibit, tenaga kerja  dan obat anti hama penggunaannya sudah mencapai titik optimal sehingga jika dilakukan penambahan faktor tersebut akan menurunkan produksi.
Pada dasarnya pengembangan kawasan agropolitan merupakan suatu pola pemanfaatan ruang wilayah perdesaan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis pengembangan sektor pertanian. Karena itu pengembangan kawasan agropolitan harus didasarkan pada kesesuaian agroekologi di wilayah yang bersangkutan. Aspek kesesuian lahan menjadi penting dalam upaya mewujudkan hasil produksi yang optimal. Hasil produksi yang optimal ini akan tercapai apabila komoditas unggulan yang ditanam didukung oleh kapasitas lahan yang sesuai dengan syarat tumbuhnya.