Wednesday, January 16, 2019

Faktor Yang Berpengaruh Pada Produktivitas (skripsi dan tesis)



Semua faktor yang mempengaruhi produktivitas dipandang sebagai sub sistem untuk menunjukkan dimana potensi produktivitas dan cadangannya disimpan. Faktor-Faktor tersebut antara lain:
Menurut Kaming dalam Ervianto (2005) faktor yang mempengaruhi produktivitas proyek diklasifikasikan menjadi empat kategori utama, yaitu:
1.        Metode dan teknologi, terdiri atas faktor: Desain rekayasa, Metode Konstruksi, urutan kerja, pengukuran kerja.
2.        Manajemen lapangan, terdiri atas faktor: perencanaan dan penjadwalan, tata letak lapangan, komunikasi lapangan, manajemen material, manajemen peralatan, manajemen tenaga kerja.
3.        Lingkungan kerja, terdiri atas faktor: keselamatan kerja, lingkungan fisik, kualitas pengawasan, keamanan kerja, latihan kerja, partisipasi.
4.        Faktor Manusia, tingkat upah pekerja, kepuasan kerja, insentif, pembagian keuntungan, hubungan kerja mandor-pekerja, hubungan kerja antar sejawat, kemangkiran.
Menurut Muchdarsyah Sinungan dalam Eddy (2007)
1.        Kuantitas atau jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam suatu proyek
2.        Tingkat keahlian tenaga kerja
3.        Latar belakang kebudayaan dan pendidikan termasuk pengaruh faktor lingkungan dan keluarga terhadap pendidikan formal yang diambil tenaga kerja.
4.        Kemampuan tenaga kerja untuk menganalisis situasi yang terjadi dalam lingkup pekerjaannya dan sikap moral yang diambil pada keadaan tersebut.
5.        Minat tenaga kerja yang tinggi terhadap pekerjaan yang ditekuninya
6.        Struktur pekerjaan, keahlian dan umur (kadang-kadang jenis kelamin).
Disamping faktor tersebut diatas Soeharto (2004) mengatakan ada beberapa variabel yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja lapangan dapat dikelompokkan menjadi:
1.        Kondisi fisik lapangan dan sarana bantu
Kondisi fisik ini berupa iklim, musim, atau keadaan cuaca. Misalnya adalah temperatur udara panas dan dingin, serta hujan dan salju. pada daerah tropis dengan kelembaban udara yang tinggi dapat mempercepat rasa lelah tenaga kerja, sebaliknya di daerah dingin, bila musim salju tiba, produktivitas tenaga kerja lapangan akan menurun. Untuk kondisi fisik lapangan kerja seperti rawa-rawa, padang pasir atau tanah berbatu keras, besar pengaruhnya terhadap produktivitas. hal ini sama akan dialami di tempat kerja dengan keadaan khusus seperti dekat dengan unit yang sedang beroperasi, yang biasanya terjadi pada proyek perluasan instalasi yang telah ada, yang sering kali dibatasi oleh macam – macam peraturan keselamatan dan terbatasnya ruang gerak, baik untuk pekerja maupun peralatan. Sedangkan untuk kekurang lengkapnya sarana bantu seperti peralatan akan menaikkan jam orang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. sarana bantu diusahakan siap pakai dengan jadwal pemeliharaan yang tepat.
2.        Kepenyeliaan, perencanaan dan koordinasi
Yang dimaksud dengan supervisi atau penyelia adalah segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan tugas pengelolaan para tenaga kerja, memimpin para pekerja dalam pelaksanaan tugas, termasuk menjabarkan perencanaan dan pengendalian menjadi langkah – langkah pelaksanaan jangka pendek, serta mengkoordinasikan dengan rekan atau penyelia lain yang terkait. keharusan memiliki kecakapan memimpin anak buah bagi penyelia, bukanlah sesuatu hal yang perlu dipersoalkan lagi. melihat lingkup tugas dan tanggung jawab terhadap pengaturan pekerjaan dan penggunaan tenaga kerja, maka kualitas penyelia besar pengaruhnya terhadap produktivitas secara menyeluruh.
3.        Komposisi Kelompok Kerja
Pada kegiatan konstruksi seorang penyelia lapangan memimpin satu kelompok kerja yang terdiri dari bermacam-macam pekerja lapangan (labor craft), seperti tukang batu, tukang besi, tukang pipa, tukang kayu, pembantu (helper) dan lain-lain. Komposisi kelompok kerja berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja secara keseluruhan. yang dimaksud dengan komposisi kelompok kerja adalah:
● Perbandingan jam-orang penyelia dan pekerja yang dipimpinya.
● Perbandingan jam-orang untuk disiplin-disiplin kerja.
Perbandingan jam – orang penyelia terhadap total jam-orang kelompok kerja yang dipimpinya, menunjukkan indikasi besarnya rentang kendali yang dimiliki. untuk proyek pembangunan industri yang tidak terlalu besar komplek dan berukuran sedang keatas, perbandingan yang menghasilkan efisiensi kerja optimal dalam praktek berkisar antara 1:10-15. jam-orang yang berlabihan akan menaikkan biaya, sedangkan bila kurang akan menurunkan produtivitas.
4.        Kerja lembur
Sering kali kerja lembur atau jam kerja yang panjang lebih dari 40 jam per minggu tidak dapat dihindari, misalnya untuk mengejar sasaran jadwal, meskipun hal ini akan menurunkan efisiensi kerja.
5.        Ukuran besar proyek
6.        Pekerja langsung versus kontraktor
7.        Kurva pengalaman
8.        Kepadatan tenaga kerja


Produktivitas dalam Proyek Konstruksi (skripsi dan tesis)



Produktivitas didefiniskan sebagai rasio antara input dan output atau rasio antara hasil produksi dengan total sumber daya yang digunakan. Dalam proyek kontruksi, rasio produktivitas adalah nilai yang diukur selama proses kontruksi, dapat dipisahkan menjadi biaya tenaga kerja, material, uang metode dan alat. Sukses atau tidaknya proyek kontruksi tergantung pada efektifitas pengelolaan sumber daya.
Sumber daya yang digunakan selama proses kontruksi adalah material, machines, men, method and money. Penggunaan material dalam proses kontruksi secara efektif sangat tergantung pada disain yang dikehendaki dari suatu bangunan. Penghematan material dapat dilakukan pada tahap pnyediaan, hanling, dan processing selama proses kontruksi. Pemilihan alat yang tepat akan mempengaruhi kecepatan proses kontruksi, pemindahan/distribusi material dengan cepat baik arah horisontal dan vertikal.
Pekerja adalah salah satu sumber daya yang tidak mudah untuk dikelola. Upah yang diberikan sangat bervariasi tergantung pada kecakapan masing-masing pekerja karena tidak ada satu pun pekerja yang sama karakteristiknya. Biaya untuk pekerja merupakan fungsi dari waktu dan metode kontruksi yang digunakan. Pihak yang bertanggung jawab terhadap pengendalian waktu kontruksi dan pemilihan metode kontruksi yang akan digunakan adalah Kepala Proyek.
Faktor manusia menjadi penentu untuk mencapai tingkat produktivitas yang ditetapkan. Proyek kontruksi selalu membutuhkan pekerja untuk bekerja dengan menggunakan fisik mereka untuk bekerja di lapngan terbuka dalam cuaca dan kondisi apapun. Untuk mendapatkan tingkat produktivitas yang diinginkan dan meminimalkan segala resiko yang mungkin terjadi serta mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja, para pimpinan harus memahami kemampuan dan keterbatasan yang diakibatkan oleh kondisi proyek.

Produktivitas Secara Umum (skripsi dan tesis)



Produktivitas kerja merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan untuk memenuhi keinginan konsumen. Produktivitas dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Hal ini dapat diimplementasikan interaksi antara karyawan (:pekerja) dan pelanggan yang mencakup (a) ketepatan waktu, berkaitan dengan kecepatan memberikan tanggapan terhadap keperluan-keperluan pelanggan; (b) penampilan karyawan, berkaitan dengan kebersihan dan kecocokan dalam berpakaian; (c) kesopanan dan tanggapan terhadap keluhan, berkaitan dengan bantuan yang diberikan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang diajukan pelanggan (Gaspersz, 2003).
Jika membicarakan masalah produktivitas muncullah situasi yang bertentangan karena belum adanya kesepakatan umum dari para ahli tentang maksud pengertian produktivitas serta kriterianya dalam mengikuti petunjuk-petunjuk produktivitas. Secara umum produktivitas diartikan atau dirumuskan sebagai perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input) (Hasibuan, 2003).
Internasional Labour Organization (ILO) mengungkapkan bahwa secara lebih sederhana maksud dari produktivitas adalah perbandingan secara ilmu hitung antara jumlah yang dihasilkan dan jumlah setiap sumber yang dipergunakan selama produksi berlangsung (Hasibuan, 2003). Ervianto (2005) memberikan rumusan produktivitas kerja sebagai berikut.
Produktivitas Kerja = fungsi(Motivasi+Kecepatan kerja + Kepribadian Pekerja + Performa/Kinerja) + Kepuasan Kerja
Faktor-faktor peiningkatan produktivitas, pertama, perbaikan terus menerus, yaitu upaya meningkatkan produktivitas kerja salah satu implementasinya ialah bahwa seluruh komponen harus melakukan perbaikan secara terus-menerus. Pandangan ini bukan hanya merupakan salah satu kiat tetapi merupakan salah satu etos kerja yang penting sebagai bagian dari filsafat manajemen mutakhir. Suatu organisasi dituntut secara terus-menerus untuk melakukan perubahan-perubahan, baik secara internal maupun eksternal. Perubahan internal contohnya, yaitu: (a) perubahan strategi organisasi; (b) perubahan kebijakan tentang produk; (c) perubahan pemanfaatan teknologi; (d) perubahan dalam praktek-praktek sumber daya manusia sebagai akibat diterbitkannya perundang-undangan baru oleh pemerintah. Perubahan eksternal, meliputi: (a) perubahan yang terjadi dengan lambat atau evolusioner dan bersifat acak; (b) perubahan yang tinggi secara berlahan tetapi berkelompok; (c) perubahan yang terjadi dengan cepat karena dampak tindakan suatu organisasi yang dominant peranannya di masyarakat; dan (d) perubahan yang terjadi cepat, menyeluruh dan kontinyu.
Kedua, peningkatan mutu hasil pekerjaan. Peningkatan mutu hasil pekerjaan dilaksanakan oleh semua komponen dalam organisasi. Bagi manajemen, misalnya, perumusan strategi, penentuan kebijakan, dan proses pengambilan keputusan. Yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan kegiatan organisasi yaitu mutu laporan, mutu dokumen, mutu penyelenggaraan rapat, dan lain-lain.
Ketiga, pemberdayaan sumberdaya manusia. Memberdayakan sumberdaya manusia mengandung kiat untuk: (a) mengakui harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang mulia, mempunyai harga diri, daya nalar, memiliki kebebasan memilih, akal, perasaan, dan berbagai kebutuhan yang beraneka ragam; (b) manusia mempunyai hak-hak yang asasi dan tidak ada manusia lain (termasuk manajemen) yang dibenarkan melanggar hak tersebut. Hak-hak tersebut yaitu hak menyatakan pendapat, hak berserikat, hak memperoleh pekerjaan yang layak, hak memperoleh imbalan yang wajar dan hak mendapat perlindungan; (c) penerapan gaya manajemen yang partisipasif melalui proses berdemokrasi dalam kehidupan berorganisasi. Dalam hal ini pimpinan mengikutsertakan para anggota organisasi dalam proses pengambilan keputusan.
Keempat, kondisi fisik tempat bekerja yang menyenangkan.Kondisi fisik tempat kerja yang menyenangkan memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan produktivitas kerja, antara lain: (a) ventilasi yang baik; (b) penerangan yang cukup; (c) tata ruang rapi dan perabot tersusun baik; (d) lingkungan kerja yang bersih; dan (e) lingkungan kerja vang bebas dari polusi udara.
Kelima, umpan balik. Pelaksanaan tugas dan karier karyawan tidak dapat dipisahkan dari penciptaan, pemeliharaan, dan penerapan sistem umpan balik yang objektif, rasional, baku, dan validitas yang tinggi. Objektif dalam arti didasarkan pada norma-norma yang telah disepakati bukan atas dasar emosi, senang atau tidak senang pada seseorang. rasional dalam arti dapat diterima oleh akal sehat. Jika seseorang harus dikenakan sangsi disiplin, status berat-ringannya disesuaikan dengan jenis pelanggarannya. Validitas yang tinggi, dalam arti siapapun yang melakukan penilaian atas kinerja karyawan didasarkan pada tolok ukur yang menjadi ketentuan.

Pengertian Proyek Konstruksi (skripsi dan tesis)



Dipohusodo (1999) menyatakan bahwa suatu proyek merupakan upaya yang mengerahkan sumber daya yang tersedia, yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan, sasaran dan harapan penting tertentu serta harus diselesaikan dalam jangka waktu terbatas sesuai dengan kesepakatan. Menurut Soeharto (2004), proyek adalah kegiatan sekali lewat dengan waktu dan sumber dayaterbatas untuk mencapai hasil akhir yang telah ditentukan dimana proses pencapaian hasil akhir akan dibatasi oleh biaya, jadwal dan mutu.
Menurut Soeharto (2004), kegiatan proyek adalah suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber dana tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah digariskan dengan jelas. Dari pengertian diatas dapat dilihat ciri pokok proyek, antara lain :
1.        Memiliki tujuan khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir.
2.        Jumlah biaya, jadwal serta kriteria mutu dalam proses pencapaian tujuan telah ditentukan
3.        Bersifat sementara, yaitu waktu pelaksanaan proyek dibatasi oleh titik awal dan titik akhir yang ditentukandenga jelas.
4.        Non rutin atau tidak berulang – ulang.
Menurut Barrie (1993), bahwa kostruksi merupakan suatu proses dimana rencana dan spesifikasi para perancang dikonversikan menjadi struktur dan fasilitas fisik. Hal ini melibatkan pengorganisasian dan koordinasi dari semua sumber untuk proyek yakni tenaga kerja, peralatan konstruksi, material tetap dan sementara dan keperluan umum, dana, teknologi dan metode serta  waktu untuk menyelesaikan tepat pada jadwal waktunya, dalam batas-batas anggarannya dan sesuai dengan standar kualitas dan pelaksanaannya yang dispesifikasikan oleh perancang.
Proyek konstruksi terdefinisikan sebagai proyek yang berkaitan dengan upaya pembangunan suatu bangunan infrastruktur, yang umumnya mencakup pekerjaan utama, dan yang termasuk didalamnya adalah bidang teknik sipil dan arsitektur, namun tidak sedikit pula melibatkan disiplin ilmu lainnya seperti : teknik industri, mesin, elektro, geoteknik, dan lain sebagainya. Bangunan-bangunan tersebut meliputi aspek kepentingan masyarakat yang sangat luas antara lain, berupa untuk tempat tinggal, apartemen, dan gedung perkantoran berlantai banyak, pabrik serta bangunan industri, jembatan jalan raya yang temasuk di dalamnya jalan raya, jalan kereta api, dan lain-lain.
Proyek memiliki tujuan atatu sasaran khusus yang dalam pencapainnya ditentukan dengan batasan, yaitu besarnya biaya yang dialokasikan, jadwal serta mutu harus dipenuhi.
a.       Anggaran
Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran. Untuk proyek – proyek yang melibatkan dana dalam jumlah besar dan jadwal bertahun-tahun, anggarannya bukan ditentukan untuk total proyek tetapi dipecah bagi komponen-komponennya,atau per periode tertentu yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan.
b.      Jadwal
Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurung waktu dan tanggal akhir yang ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahannya tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan
c.       Mutu
Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa instalasi pabrik, maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik ahrus mampu beroperasi secara memuaskan dalam kurun waktu yang ditentukan.
Menurut Suharto (2004), ketiga batasan tersebut bersifat tarik-menarik. Artinya jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan menaikkan mutu, yang selanjutnya berakibat pada naiknya biaya yang melebihi anggaran.

Konsep dasar sistem produktivitas (skripsi dan tesis)



Muchdarsyah Sinungan, 2003 (dalam Fadrizal Lubis, 2004) mengartikan produktifitas sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang-barang atau jasa) dengan yang masuk sebenarnya. Produktifitas juga diartikan sebagai berikut :
  1. perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil, dan
  2. perbedaan antara kumpulan jumlah pengeluaran dan masukan yang dinyatakan dalam satuan umum .
Mali, 1978 (dalam Muh Nur Sahid, 2003) mengatakan bahwa produktivitas tidak sama dengan produksi, tetapi produksi, performasi kualitas, hasil-hasil, merupakan komponen dari usaha produktivitas.  Dengan demikian produktivitas merupakan suatu kombinasi dari efektifitas dan efisiensi, sehingga produktivitas dapat diukur berdasarkan pengukuran :

Sumanth, 1985 (dalam Fadrizal Lubis, 2004) memperkenalkan suatu konsep format yang disebut sebagai siklus produktivitas (Prodtictivity cycle) untuk dipergunakan dalam peningkatan produtivitas terus menerus. Pada dasamya konsep produktivitas terdiri dari empat tahap dengan penjelasan sebagai berikut ini .
I.     Pengukuran produktivitas.
Secara formal program peningkatan produktivitas harus dimulai melalui pengukuran poduktivitas dari sistem itu sendiri .

2.    Evaluasi produktivitas.
Mengevaluasi tingkat produktivitas aktual itu untuk diperbandingkan dengan rencana yang akan ditetapkan. Kesenjangan yang terjadi antara tingkat produktivitas aktual dan rencana merupakan masalah produktivitas yang harus dievaluasi dan dicari akar penyebabnya .

3.    Perencanaan produktivitas.
Berdasarkan evaluasi selanjutnya dapat direncanakan kembali target produktivitas yang akan dicapai baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

4.    Peningkatan produktivitas.
Target produktivitas yang telah direncanakan itu, berbagai program formal dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas terus menerus  
Untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas perusahaan adalah membangun suatu sistem industri yang memperhatikan secara terfokus dan bersama sekaligus pada aspak-aspek kualitas, efektifitas pencapaian tujuan dan efisiensi penggunaan sumber daya. Selanjutnya indikator keberhasilan sistem profitabilitas terus menerus dapat dilihat pada Tabel 3.1.



Tabel 3.1 Hubungan antara produktivitas dan profitabilitas
Kasus
Jika
Maka
Profitabilitas
Produktivitas
Apa akan terjadi
Tindakan
1




tinggi (+)


tinggi (+)
Kondisi Keuangan akan sehat dan stabil
Pertahankan atau tingkatkan produktivitas dan profitabilitas lebih lanjut
2
tinggi (+)
rendah (-)
Profitabilitas yang tinggi tidak akan berlanjut dalam jangka panjang
Produktivitas rendah akan menggerogoti keuntungan.
Tingkatkan produktivitas menggunakan siklus produktivitas terhadap masalah internal dalam sistem.
3
rendah (-)
tinggi (+)
Perusahaan akan mengalami kerugian dan akan mengakibatkan kebangkrutan.
Tingkatkan profitabilitas melalui perbaikan : strategi desain produk, pelayanan pelanggan dll, terdapat masalah eksternal dari sistem.
4
rendah (-)
tinggi (-)
Perusahaan akan bangkrut.
Tingkatkan produktivitas dan profitabilitas dengan membangun kembali sistem industri yang sekaligus memperhatikan aspek-aspek kualitas, efektifitas pencapaian tujuan, efisien pengguna SDA masalah internal dan eksternal.




















 
 





















Unsur-unsur Perencanaan Operasional Proyek (skripsi dan tesis)



Beberapa unsur perencanaan operasional proyek menurut Iman Soeharto (1998) adalah sebagai berikut ini .

3.4.1    Perencanaan Lingkup Proyek
Perencanaan lingkup proyek adalah proses memberikan deskripsi gambaran perwujudan proyek dan batas – batasnya secara tertulis. Sebagai contoh, untuk proyek E – MK, perencanaan lingkup proyek dihasilkan dari suatu studi kelayakan terutama mengenai aspek teknis dan finansial  (manfaat dan biaya). Perencanaan lingkup proyek mendapatkan masukan dari perencanaan mutu, biaya dan jadwal, agar diperoleh alternatif lingkup yang terbaik dengan mengingat hambatan-hambatan yang ada. Setelah lingkup disetujui, sebagai output dikeluarkan suatu “works statement“ dan daftar  “deliverable“  yang selanjutnya diikuti oleh pembuatan perkiraan sumber daya berupa material, peralatan, dan tenaga kerja untuk mewujudkan lingkup di atas .

3.4.2        Perencanaan Mutu
Perencanaan mutu proyek adalah proses penentuan standar dan kriteria mutu yang akan di pakai oleh proyek, serta usaha untuk dapat memenuhinya. Parameter standar dan kriteria menjadi masukan penting pada waktu menentukan definisi lingkup proyek. Ketentuan standar mutu akan besar pengaruhnya terhadap biaya proyek terutama pada waktu desain – engineering, seleksi peralatan dan material. Oleh karena itu, perlu ada kebijakan mutu  ( quality policy )  dari pihak pimpinan maupun kontraktor untuk di pakai sebagai pegangan pelaksanaan. Output  dari perencanaan mutu adalah dokumen yang memuat kebijakan dan prosedur yang menyeluruh tentang masalah  QA / QC .

3.4.3    Perencanaan Waktu
Perencanaan waktu atau jadwal proyek meliputi langkah-langkah yang bertujuan agar proyek dapat di selasaikan sesuai dengan sasaran waktu yang di tetapkan. Perencanaan waktu memberikan masukan kepada perencanaan sumber daya agar sumber daya tersebut siap pada waktu diperlukan. Perencanaan tersebut terdiri dari penentuan definisi komponen kegiatan, urutan pelaksanaan komponen kegiatan, dan perkiraan kurun waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan masing-masing komponen kegiatan. Hasil langkah-langkah tersebut kemudian dianalisis dengan berbagai metode dan teknik untuk menyusun jadwal proyek.

3.4.4    Perencanaan Biaya
Perencanaan  (perkiraan)  biaya terdiri dari serangkaian langkah untuk memperkirakan besar biaya dari sumber daya yang diperlukan proyek. Langkah tersebut termasuk mempertimbangkan sebagai alternatif yang mungkin dapat menghasilkan biaya yang paling ekonomis bagi kinerja atau material yang sebanding. Jadi, perencanaan biaya baru dapat diselesaikan bila telah tersedia perencanaan keperluan sumber daya. Faktor risiko besar pengaruhnya terhadap perencanaan biaya, yang mengharuskan disediakan sejumlah kontijensi dan sejumlah asuransi. Biaya perkiraan dikaitkan dengan unsur jadwal pemakaiannya, maka akan tersusun anggaran biaya proyek  (time phased budged). Dengan telah merinci jadwal pemakaian dan jumlah alokasi yang bersangkutan, anggaran biaya ini akan menjadi sasaran bagi pengendaliaan kemajuan atau progres kegiatan proyek. Output dari perkiraan biaya proyek adalah anggaran biaya, yang sesuai dengan tahap keperluan dan waktunya dapat berupa dokumen Anggaran Biaya Proyek  ( ABP ) atau Anggaran Biaya Definitif  ( ABD ) .

3.4.5        Perencanaan Sumber Daya
Perencanaan sumber daya proyek dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu perencanaan sumber daya nonmanusia dan sumber daya manusia ( SDM ).
a.  Perencanaan sumber daya nonmanusia
Perencanaan sumber daya nonmanusia meliputi pengadaan material, peralatan yang akan menjadi bagian permanen proyek serta peralatan konstruksi  (crane, truck dan lain – lain)  yang diperlukan untuk membangun proyek tetapi tidak menjadi permanen. Perencanaan sumber daya nonmanusia secara menyeluruh dapat diartikan sebagai pengkajian dan identifikasi kebutuhan proyek yang akan sumber daya nonmanusia serta bagaimana, kapan, berapa banyak, dan darimana memperolehnya. Hasil utama perencanaan diatas adalah lembaran yang membuat deskripsi kebijakan, daftar material, dan peralatan utama serta jadwal pengadaannya.
b.    Perencanaan sumber daya manusia
Iman Soeharto (1998) menjelaskan yang dimaksud dengan perencanaan sumber daya manusia adalah proses mengidentifikasi jenis dan jumlah sumber daya sesuai jadwal keperluan yang telah ditetapkan. Tujuan perencanaan tersebut adalah mengusahakan agar sumber daya yang dibutuhkan tersedia tepat pada waktunya, tidak boleh terlalu awal atau terlambat, karena keduanya merupakan pemborosan. Oleh karena itu, untuk merencanakan tenaga kerja proyek yang realistis perlu diperhatikan bermacam-macam faktor, diantaranya yang terpenting adalah :
1.  produktivitas tenaga kerja,
2.  tenaga kerja periode puncak (Peak),
3.  jumlah tenaga kerja kantor pusat,
4.  perkiraan jumlah tenaga kerja konstruksi dilapangan,dan
5.  meratakan jumlah tenaga kerja guna mencegah gejolak (fluctuation) yang tajam.
Adapun perencanaan sumber daya manusia meliputi rancangan organisasi, pengisian personil untuk kantor pusat, mobilisasi dan pelatihan tenaga kerja untuk lapangan. Perencanaan organisasi terdiri dari penyusunan struktur organisasi, termasuk membuat uraian tugas posisi kunci, tanggung jawab, serta jalur komunikasi dan pelaporan. Karena proyek umumnya mengikutsertakan organisasi dari luar organisasi pemilik (kontraktor, konsultan dan lain-lain), penyusunan jalur komunikasi dan pelaporan harus mempertimbangkan hal-hal tersebut. Misalnya, tingkat mana harus melapor kepada siapa. Dalam merencanakan struktur organisasi, berbagai aspek harus dikaji  (seperti besar lingkup, lokasi, tingkat kompleksitas kesulitan, dan lain-lain ).
Perencanaan pengisian personil  (staffing plan) meliputi kegiatan pengadaan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan proyek, dalam arti jumlah, kualitas dan jadwalnya.

Perilaku Kegiatan Proyek (skripsi dan tesis)



Iman Soeharto (1998) menjelaskan bahwa kegiatan proyek dapat diartikan sebagai satu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk atau deliverable yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas.  Lingkup (scope ) tugas tersebut dapat berupa pembangunan pabrik, jalan, jembatan dan lainnya, dari pengertian diatas maka ciri pokok proyek adalah sebagai berikut ini .
  1. Bertujuan menghasilkan lingkup (deliverable) tertentu berupa produk akhir atau hasil kerja akhir seperti bangunan jalan .
  2. Dalam proses mewujudkan lingkup diatas maka ditentukan jumlah biaya, jadwal dan kriteria mutu .
  3. Bersifat sementara, dalam arti umumya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas .
  4. Nonrutin, tidak berulang-ulang. Macam dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung .
Di samping proyek dikenal pula program yang mempunyai sifat sama dengan proyek.  Perbedaanya terletak pada kurun waktu pelaksanaan dan besamya sumber daya yang diperlukan program memiliki skala yang lebih besar daripada proyek. Umumnya, program dapat dipecahkan menjadi lebih dari satu proyek. Dengan kata lain, suatu program merupakan kumpulan dari bermacam-macam proyek .
Selain berbentuk bangunan diatas telah disebutkan bahwa tiap proyek memiliki tujuan khusus, misalnya pembangunan rumah tinggal, jembatan, atau instalasi pabrik. Dapat pula berupa produk hasil kerja penelitian dan pengembangan. Di dalam proses mencapai tujuan tersebut, ada batasan yang harus di penuhi yaitu besamya biaya (anggaran) yang dialokasikan, jadwal, serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek. Ketiga batasan di atas disebut tiga kendala (triple constraint) seperti terlihat pada Gambar 3.2 .
a. Anggaran
Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi dari anggaran. Untuk proyek-proyek yang melipatkan dana dalam junlah besar dan jadwal pengerjaannya bertahun-tahun, anggarannya tidak hanya ditentukan secara total proyek, tetapi dipecah atas komponen-komponennya atau per periode tertentu (rnisalnya per kuartal ) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode.
b. Waktu           
Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahannya tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.
c. Mutu
Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan.  Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut merupa instalasi pabrik, maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik harus mampu beroperasi secara memuaskan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jadi memenuhi persyaratan mutu berarti mampu memenuhi tugas yang dimaksudkan atau sering disebut sebagai for the intended use .
Ketiga batasan tersebut bersifat saling tarik menarik, artinya jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan meningkatkan mutu. Hal ini selanjutnya berakibat pada naiknya biaya sehingga melebihi anggaran. Sebaliknya, bila ingin menekan biaya, maka biasanya harus berkompromi dengan mutu atau jadwal .