Wednesday, July 11, 2018

Populasi dan Habitat Orangutan (skripsi dan tesis)


Orangutan sangat tergantung pada hutan hujan tropis yang menjadi habitatnya, mulai dari hutan dataran rendah, rawa, kerangas hingga hutan pegunungan dengan ketinggian lebih kurang 1.800 m dpl (Rijksen, 1978). Menurut Payne (1988) dan van Schaik dkk. (1995) Orangutan hidup di dataran rendah dan kepadatan tertinggi terdapat pada ketinggian sekitar 200-400 m dpl.
     Orangutan ditemukan di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara, yaitu di Pulau Borneo dan Sumatera di wilayah bagian negara Indonesia dan Malaysia. Mereka biasa tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan. Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan dipterokarpus perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan.
     Di Borneo Orangutan dapat ditemukan pada ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan kerabatnya di Sumatera dilaporkan dapat menapai hutan pegunungan pada 1.000 m dpl. Di Kalimantan, batas ketinggian komunitas Orangutan berada pada sekitar 500-800 m dpl. Akan tetapi, Orangutan di Sumatera terutama jantan dewasa, terkadang dapat ditemukan di lereng gunung pada ketinggian lebih dari 1.500 m dpl. Menurut Corner (1978) batas ketinggian ini mungkin lebih mencerminkan ketersediaan pakan yang disukai daripada faktor iklim.
     Orangutan Sumatera (Pongo abelii lesson) merupakan salah satu hewan endemis yang hanya ada di Sumatera. Orangutan di Sumatera hanya menempati bagian utara pulau itu, mulai dari Timah Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan. Keberadaan hewa mamalia ini dilindungu Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan digolongkan sebagai ‘Critically Endangered’ oleh IUCN. Di Sumatera, salah satu populasi Orangutan terdapat di daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Sumatera Utara. Populasi Oragutan liar di Sumatera diperkirakan sejumlah 7.300. Di DAS Batang Toru 380 ekor dengan kepadatan populasi sekitar 0,47 sampai 0,82 ekor per kilometer persegi. Populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii lesson) kini diperkirakan 7.500 ekor. Padahal pada era 1990-an, diperkirakan 200.000 ekor. Populasi mereka terdapat di 13daerah terpisah secara geografis. Kondisi ini menyebabkan kelangsungan hidup mereka semakin terancam punah. Saat ini hampir semua Orangutan Sumatera hanya ditemukan di Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh, dengan Danau Toba sebagai batas paling selatan sebarannya. Hanya 2 populasi yang relatif kecil berada di sebelah barat daya danau, yaitu Sarula Timur dan hutan-hutan di Batang Toru Barat. Populasi Orangutan terbesar di Sumatera dijumpai di Leuser Barat (2.508 individu) dan Leuser Timur (1.052 individu). Populasi lain yang diperkirakan potensial untuk bertahan dalam jangka panjang (viable) terdapat di Batang Toru, Sumatera Utara, dengan ukuran sekitar 400 individu.
No
Unit Habitat
Perkiraan Jumlah Orangutan
Blok Habitat
Hutan Primer (km2)
Habitat Orangutan (km2)
1
Seulawah
43
Seulawah
103
85
2
Aceh Tengah Barat
103
Beuntung (Aceh Barat) Inge
1297
352
261
10
3
Aceh Tengah Timur
337
Bandar-Serajadi
2117
555
4
Leuser Barat
2508
Dataran Tinggi Kluet (Aceh Barat Daya)  
G.Leuser Barat
Rawa Kluet
G.Leuser/Demiri Mamas-Bengkung

1209

1261
125
358
1727

934

594
125
273
621
5
Sidiangkat
134
Puncak Sidiangkat/Bukit Ardan
303
186
6
Leuser Timur
1052
Tamiang
Kapi dan Hulu Lesten
Lawe Sigala-gala
Sikundur-Langkat
1056
592
680
1352
375
220
198
674
7
Rawa Tripa
280
Rawa Tripa (Babahrot)
140
140
8
Trumon-Singkil
1500
Rawa Trumon-Singkil
725
725
9
Rawa Singkil Timur
160
Rawa Singkil Timur
80
80
10
Batang Toru Barat
400
Batang Toru Barat
600
600
11
Sarulla Timur
150
Sarulla Timur
375
375
Total
6667

14452
7031
Tabel 1. Perkiraan Luas Habitat dan Jumlah Orangutan di Sumatera
(Sumber : PHVA, 2004 dan revisi PHVA, 2004; Wich dkk, 2008)

Di Borneo, Orangutang tersebar hampir di seluruh pulau, kecuali di daerah yang bergunung tinggi dan dataran rendah yang banyak dihuni manusia. Orangutan terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Di Kalimantan Selatan, Orangutan tidak jumpai. Hal ini diduga karena gangguan habitat dan perburuan oleh manusia yang telah berlangsung lama atau penyebaran Orangutan tidak pernah mencapai pegunungan Mertatus (Rijksen dan Meijaard, 1999). Di Sebangau sendiri, sebaran Orangutan cenderung berada di radius sekitar 5 km dari pinggir sungai (Husson dan Morrogh-Bernard, 2003; Ancrenaz, 2007).
Orangutan di Borneo yang dikategorikan sebagai ‘endangered’ oleh IUCN terbagi dalam tiga subspecies: Orangutan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu Pongo pymaeus pygmaeus yang berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak; Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga Barat Sungai Barito; Pongo pymaeus morio, diperkirakan scara total populasi liarnya di alam hanya 45.000 gingga 69.000. Di Borneo, Orangutan dapat ditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruh hutan dataan rendah Kalimantan, kecuali Kalimaantan Selatan dan Brunei Darussalam.
No.
Sub Spesies dan Nama Lokasi
Area (km)2
Perkiraan Populasi Orangutan
A
Pongo pygmaeus pygmaeus


1
Batang Ai (Sarawak)
240
119-580
2
Lanjak Entimau (Sarawak)
1688
1024-1181
3
Betung Kerihun
4500
1330-2000
4
Danau Sentarum
1090
500
5
Rawa Kapuas Hulu (Selat Sungai Kapuas, utara Melawi)
T?
?

Total
< 7500
3000-4500
B
Pongo pygmaeus wumbii


1
Gunung Palung
900
2500
2
Bukit Baka
350
175
3
Bukit Rongga & Parai
4200
1000
4
Tanjung Putting
4150
6000
5
Lamandau
760
1200
6
Mawas
5010
3500
7
Sebangau
5780
6900
8
Ketingan
2800
3000
9
Rungan Kahayan
2000
1000
10
Arut Belantikan
5100
6000
11
Seruyan
3000
1000
12
Bukit Raya
500
500
13
Sei. Kahayan & Sei Sambah
1500
1000
14
Sei. Sambah & Sei Katingan
1000
500
15
Sebangau Kahayan
700
700
16
Kahayan Kapuas
4000
300
17
Tanjung Keluang
2000
200
18
Cagar Alam Pararaum
500
>500
19
Cagar Alam B. Spt
>2000
>500

Total
>46250
>34975
C
Pongo pygmaeus morio


1
Taman Nasional Kutai


2
DAS Lesan (termasuk Hutan Lindung Sungai Lesan)
750
600
3
DAS Kelai (incl. Gunung Gajh, Wehea, dan beberapa areal HPH)
500
400
4
Sanggata-Bengalon & Muara Wahau sangat terfragmentasi
Highly Fragmented
3500
175
100
5
DAS Segah
300+
200
6
Samarinda, Muara Badak, Marang Kayu
1500
750
7
Pegunungan Kapur Sangkulirang/Mangkalihat
500
100
8
Rawa Sebuku/Sembakung



Total
10750
7825
Tabel 2. Perkiraan Luas Habitat dan Jumlah Orangutan di Kalimantan
(Sumber: PHVA, 2004 dan revisi PHVA, 2004; Wich dkk, 2008).


Morfologi Orangutan (skripsi dan tesis)


     Istilah Orangutan diambil dari bahasa Indonesia dan/atau bahasa Melayu, yang berarti manusia (orang) hutan. Mereka memiliki tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, lengan yang panjang dan kuat, kaki yang pedek dan tertunduk, dan tidak mempunyai ekor. Orangutan berukuran 1-1,4m untuk jantan, yaiu 2/3 kali ukuran seekor Gorila. Tubuh Orangutan diselimuti rambut merah kecoklatan. Mereka mempunyai kepala yang besar dengan posisi mulut yang tinggi. Orangutan jantan memiliki pelipis yang gemuk. Mereka mempunyai indera yang sama dengan manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba. Telapak tangan mereka mempunyai 4 jari panjang ditambah 1 ibu jari. Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip dengan manusia (Wikipedia, 2006).
     Menurut WWF Indonesia (2003), uraian fisik Orangutan Borneo adalah sebagai berikut:
a.              Rambut di wajah Orangutan Borneo lebih sedikit ketimbang Orangutan sanak mereka di Sumatera.
b.             Memiliki tangan yang sangat panjang yang dapat mencapai 2 m panjangnya.
c.              Kakinya relatif pendek dan lemah, tetapi lengan dan tangannya sanga kuat.
d.             Merupakan mamalia pemanjat pohon terbesar, yang bergerak dari satu pohon ke pohon lain, dimana mereka tidak mau menuruni pohon untuk ssampai di tanah.
e.              Jantan dewasa dibedakan karena ukurannya yang besar, kantong tenggorokan dan bantalan pipi di setiap sisi wajahnya.
f.              Bergerak dengan tangan yang mengepal di tanah.
g.             Panjang tubuh lebih kurang 1,25 sampai dengan 1,5 m.
h.             Berat dewasa 30 sampai 50 kg untuk betina dan 50 sampai dengan 90 kg untuk jantan.
i.               Bulunya berwarna coklat keerahan (tengguli).
Identifikasi di lapangan, pola warna pada umumnya tengguli, bervariasi dari jingga sampai tengguli tua pada individu jantan. Sering terdeteksi melalui suara jeritan yang berbunyi seperti suara sendawa panjang yang dikeluarkan oleh jantan dewasa. Bersifta diurnal dan biasanya arboreal juga termasuk hewan yang soliter (Payne J. dkk., 2000).
Secara morfologi, Orang utan Sumatera (Pongo abelii) dan Orang utan Sumatera (Pongo pygmeus) sangat serupa, sekalipun kedua spesies tersebut kerapkali dapat dibedakan berdasarkan warna bulunya (Napier dan Napier, 1967 dalam Galdikas, 1984). Orang utan Kalimantan khususnya bila telah dewasa mengarah kepada warna coklat kemerah – merahan. Sedangkan Orang utan Sumatera berwarna lebih pucat. Perbedaan warna bulu ini dapat digunakan sebagai penuntun kasar. Orang utan Sumatera kadang – kadang mempunyai bulu putih pada bagian muka. Selain itu bulu Orang utan Sumatera lebih lembut dan lemas, sedangkan bulu Orang utan Kalimantan jarang–jarang dan terasa kasar (Galdikas, 1984).    Orangutan (atau Orang utan, nama lainnya adalah mawas) adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kmerahan, kadang scokelat, yang hidup di Indonesia dan Malaysia. Primata ini memiliki 3 kerabat lain yang termasuk dalam suku Pongidae atau Kera Besar (Great ape), yaitu Gorila, Simpanse, dan Bonobo, dan ketiganya hanya terdapat di Benua Afrika. Orangutan di Indonesia dibagi ke dalam 2 spesies yang berbeda, yaitu Pongo abelii yang trdapat di pulau Kalimantan dan Malaysia atau sering disebut Pulau Borneo. Di Pulau Borneo sendiri, spesies Pongo pygmaeus sendiri terbagi lagi ke dalam tiga subspesies, yaitu Pongo pygmaeus wurmbii, Pongo pygmaeus morio dan Pongo pygmaeus pygmaeus.
Ukuran tubuh Orang utan yaitu tinggi tubuh 4,5 kaki dan rentangan kedua lengannya sepanjang 92 inchi. Orang utan betina umumnya bertubuh lebih pendek daripada Orang utan jantan (Walker, 1954). Tangannya lebih panjang daripada kakinya dan memiliki genggaman yang kuat. Telapak tangannya yang memanjang dengan ibu jari yang pendek digunakan sebagai pengait saat mereka bergelantungan di pepohonan (villee et al., 1968).
Berat badan antara kedua sub spesies Orang utan tersebut tidak ada perbedaan yang nyata. Berat badan Orang utan Sumatera maupun Orang utan Kalimantan betina rata–rata adalah 37 kg, sedangkan berat badan Orang utan Sumatera yang jantan rata–rata 66 kg dan Orang utan Kalimantan 73 kg (Galdikas, 1984).
Orangutan memiliki rentang lengan yang sangat besar. Orangutan jantan    dewasa meregangkan tangannya hingga sekitar 7 kaki (2 meter) dari ujung jari ke ujung jari, jangkauan ini lebih panjang dibandingkan dengan tinggi orangutan berdiri, yaitu sekitar 5 kaki (1,5 meter). Ketika orangutan dalam posisi berdiri, tangan mereka hampir menyentuh tanah. Lengan orangutan sangat cocok untuk pola hidup mereka, karena orangutan menghabiskan banyak waktu mereka  di atas pohon (arboreal).  Orangutan lebih soliter daripada kera lainnya. Laki-laki penyendiri. Ketika mereka bergerak melalui hutan mereka membuat banyak gemuruh, melolong panggilan untuk memastikan bahwa mereka tetap keluar dari jalan masing-masing. The "long call" dapat didengar 1,2 mil (2 kilometer) jauhnya.
Berdasarkan analisis DNA Orangutan memiliki 97% kesamaan genetic dengan manusia. Kesamaan genetiknya dengan manusia menyebabkan mudah terjadi penularan penyakit dari Orangutan ke manusia maupun sebaliknya (zoonosis), di antaranya hepatitis (A,B,C), tuberkulosis, herpes, malaria, dan tifus. Di Indonesia telah ditemukan beberapa Orangutan sdengan SIV (Simian Immunodeficiency Virus) yang sangat mirip dengan HIV. Penularan penyakit zoonosis ini bisa terjadi apaila kita memakan daging Orangutan, kontak langsung melalui air liur, cairan tubuh lain, kotoran dan udara, terutama sapabila kita memelihara Orangutan. Hampir lebih dari 70% Orangutan liar yang dieselamatkan dari hutan di sekitar perkebunan kelapa sawit diketahui terinfeksi parasit cacing “strongloides” (cacing pari-paru) yang larvanya dapat membunuh satwa dan mmenginfeksi manusia melalui pori-pori kulit.

Taksonomi Orangutan (skripsi dan tesis)


     Orangutan termasuk hewan vertebrata, yang berarti bahwa mereka memiliki tulang belakang. Orangutan juga termasuk hewan mamalia dan primata. Orang utan termasuk dalam ordo Primata. Berdasarkan teori evolusi, nenek moyang Ordo Primata adalah binatang pemakan serangga atau insektavora. Hampir dari seluruh ordo Primata hidup didaerah tropis dan hanya beberapa spesies dari Carcopithecidae yang hidup didaerah subtropics. Ordo primata terdiri dari dua sub ordo yaitu Simiae dan Arthropoidae. Orang utan termasuk dalam ordo Simiae (Sajuthi, 1983). Menurut Grzimex (1972), Orang utan atau Pongo pygmeus termasuk : kelas  Mamalia, subkelas Eutheria, ordo Primata Sub ordo simiae, infra ordo catarrhina, super family pongidae, family homminoidae, genus pongo dan spesies Pongo pygmeus. Klasifikasi Orangutan menurut Ciszek dan Schommer (1999) adalah sebagai berikut:
            Kingdom         : Animalia
            Phylum            : Chordata
            Subphylum      : Vertebrata
            Class                : Mammalia
            Order               : Primates
            Suborder         : Haplorhini
            Family             : Homonidae
            Subfamily        : Pongidae
            Genus              : Pongo
            Species            : Pongo abelii lesson (Sumatera)
                                     Pongo pymaeus (Borneo)
            Subspecies       : Pongo pygmaeus pymaeus
                                     Pongo pygmaeus wurmbii
                                     Pongo pygmaeus morio
Para ahli zoology masih mempertanyakan apakah ada dua spesies yaitu Pongo pygmeus di Kalimantan dan Pongo abelii di Sumatera, atau hanya satu spesies Pygmeus dan yang berada di Sumtera diakui sebagai Sub Spesies Abelii (Walker, 1954). Menurut Sajuthi (1983), genus Pongo hanya terdiri dari satu spesies yaitu Pongo pygmeus. Menurut Napier dan Napier (1967) seperti yang dikutip oleh Galdikas (1984), spesies tersebut terdiri dari dua sub spesies yaitu Pongo pygmeus abelii (Orang utan Sumatera) dan Pongo pygmeus pygmeus (Orang utan Kalimantan). Dua spesies di dua pulau ini sebelumnya diklasifikasikan dalam subspesies, hingga saat ini keduanya menjadi spesies yang berbeda. Penelitian lanjut pada kelompok populasi orangutan di Kalimantan, menghasilkan Orangutan kalimantan (pongo pygmaeus) dikelompokkan dalam tiga sub spesies yang berbeda yaitu Pongo pygmeus wumbii, Pongo pygmeus pygmaeus dan Pongo pygmeus morio (Singleton et al. 2004).
The Asian Primate Classification yang diterbitkan oleh Brandon Jones et al. (2004) menyebutkan bahwa hanya ada dua subspesies orangutan, yakni Pongo pygmeus wumbii  dan Pongo pygmeus pygmaeus. Akan tetapi, pada PHVA orangutan terakhir (Singleton et al. 2004) ditambahkan satu lagi satu subspesies, yakni Pongo pygmeus morio. Warren et.al (2001) menggunakan analisa kontrol DNA pada mitokondria pada enam sample populasi orangutan yang berbeda, dan mengidentifikasi adanya empat sub populasi yang berbeda dengan keragaman wilayah geografis dan klaster teretentu. yaitu: (1) Kalimantan bagian barat daya dan tengah. (2) Kalimantan bagian barat laut dan Sarawak, (3) sabah dan (4) Kalimantan bagian timut. Berdasarkan penelitian subspesies oleh Waren diketahui jika dikorelasikan empat sub populasi ini dengan tiga sub spesies diatas, didapatkan sub populasi orangutan dikawasan Taman Nasional Sebangau Kalimantan tengah adalah orangutan sub spesies Pongo pygmeus wumbii.

Kerapatan dan Persebaran Tumbuhan Damar (skripsi dan tesis)



            Kerapatan suatu jenis didefinisikan sebagai jumlah unit tumbuhan per unit area. Obyek yang dihitung dapat berupa seluruh atau sebagian tumbuhan, tergantung jenis dan morfologi tumbuhan yang bersangkutan. Kerapatan suatu jenis ditentukan oleh kemampuan jenisyang bersangkutan untuk melakukan adaptasi dengan lingkungan tempat tumbuhnya. Atau dengan kata lain bahwa kerapatan suatu jenis ditentukan oleh faktor lingkungan, yang meliputi tapak (keadaan tempat tumbuh), tanah, kelembapan udara, suhu, api, angin, cahaya, api, topografi, serta adanya kompetisi dengan jenis lain dan hubungan dengan dengan organisme-organisme lain (binatang pemakan biji, naungan, maupun asosiasi dengan jenis lain) (Soerianeara dan Indrawan, 2005). Kerapatan selum sepenuhnya bisa menggambakan sebaran populasi dalam sebuah habitat dengan lengkap. Adakalanya dua populasi mempunyai kerapatan yang sama tapi sangat berbeda dalam sebarannya. Oleh karena itu, selain diketahui nilai kerapatan suatu jenis perlu juga diketahui sebaran jenis dalam haitat yang bersangkutan (Prihadi, 1988).
            Frekuensi merpakan perbandingan banyaknya petak yang terisi oleh suatu jenis tertentu terhadap jumlah petak-petak seluruhnya, yang biasa dinyatakan dalam persen, dan merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya jenis tertentu dalam tegakan (Soerianegara dan Indrawan, 2005). Nilai Frekuensi Relatif dari suatu jenis menunjukkan persebaran jenis tersebut pada habitatnya. Jenis-jenis yang menyebar secara luas akan mempunyai jenis tersebut pada habitatnya. Jenis-jenis yang menyebar secara luas akan mempunyai nilai Frekuensi Relatif yang tinggi, dan sebaliknya jenis-jenis yang penyebarannya sempit akan mempunyai nilai Frekuensi Relatif yang rendah (Indriyanto, 2006).
            Persebaran (dispersal) merupakan proses pengangkatan secara aktif (dinamis). Persebaran biji mempunyai 2 tujuan pokok, yaitu untuk mempertahankan jenis dan untuk mengembangkan atau memperluas areal jenis, (Van der Pijl, 1990). Pengetahuan tentang persebaran tumbuhan perlu diketahui yang lebih besar dari pada rata-rata kerapatan jenis per unit area (Ludwig dan Reynolds, 1988).
            Persebaran suatu makhluk (dalam hal ini tumbuhan) menurut Radjiman (1990) dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya :
  • Kemampuan tumbuhan untuk menghasilkan individu, baik secara vegetatif maupun generatif, dan daya tumbuh.
  • Cara pemencaran dan tuntutan terhadap lingkungan.
  • Faktor yang menghambat dan mendukung.
  • Daya adaptasi tumbuhan terhadap lingkungan

Permudaan Tanaman Damar (skripsi dan tesis)



Tumbuhan akan melakukan regenerasi untk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam proses regenerasi ini, individu baru akan disebarkan secara alami maupun buatan. Permudaan merupaka satu proses peremajaan kembali dai pohon-pohon penyusun tegakan yang telah mati secara alami atu dipanen oleh manusia atau dapat pula diartika sebagai suatu metode penghutanan kembali (Baker, 1950).  Ada dua jenis permudaan, yaitu permudaan alam (natural regeneration) dan permdaan buatan (artificial regeneration).
Permudaan alam, sesuai dengan namanya merupakan suatu proses peremajaan kembali dari suatu tegakan hutan ang terjadi secara alami. Permudaan ini sangat mengandalkan alam untuk pertumbuhan hutan selanjutnya. Namun, bukan berarti tidak diperlukan campur tangan manusia di dalam pengelolaannya (Marsono dan Djuwadi, 1996).
Keuntungan yang didapat dari permudaan alam yaitu mudah, murah, dan sedikit tindakan silvikultur. Sedangkan kerugiannya yaitu kemngkinan kelebihan atau kekurangan biji dan persebaran biji yang tidak merata. Intervensi manusia yang dilakukan antara lain melakukan kontrol terhadap jumlah, persebaran, dan kualitas terhadap pohon induk, serta melakukan penyiapan lingkungan media tumbuh (Daniel dkk., 1992).
Permudaan dikatakan berhadsil apabila tumbuhan baru sudah dapat melewati tahapan kritis yang biasanya terjadi pada saat masih dalam bentuk embrio dalam biji atau pada saat tanaman masih dalam fase semai yang masih lemah. Tingkat keberhasilan suatu permudaan alam sangat ditentukan oleh tiga faktor, yaitu ketersediann biji yang mencukupi (seed supply), lingkungan mikro yang sesuai (seed bed), dan lingkungan makro yang kondusif (Baker, 1950). Ketiga faktor tersebut biasa disebut dengan Segitiga / Triangulasi Permudaan alam (Lihat Gambar 1.)
 Keberhasilan permudaan alam menurut Thojib (1995) sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu proses pembuangan, proses pembuahan, fenoloi biji, persebaran biji, proses perkecambahan, dan adaptasi biji pada tempat tumbuhnya yang baru.
1.      Proses Pembuangan
     Proses ini diawali dengan cukupnya produksi hormon, enzim, vitamin, dan gen-gen lain yang berperan di dalam proses pembuangan oleh tanaman. Hal ini berkaitan erat dengan perubahan lingkungan secara menyeluruh. Faktor lingkungan yang berpegaruh terhadap proses ini antara lain penyinaran (intensitas cahaya), kelembapan tanah, dan udara serta ketersediaan nutrisi.
2.      Proses Pembuahan
     Proses ini diawali dengan adaya proses penyerbukan pada bunga yang dapat berlangsung dengan sendiri atau dengan bantuan agen penyerbuk, yang dapat berupa faktor abiotik (angin dan air) maupun faktor biotik (hewan dan manusia).
3.      Fenologi
     Fenologi merupakan proses terbentuknya biji sebagai calon indivdu baru dari awal pembentukan bunga sampai dengan biji masak dan siap untuk berkecambah.

4.      Persebaran biji
                 Secara alami, biji-biji yang telah masak akan jatuh karena daya tarik bumi lebih besar dari pada daya untuk memperahankanna. Dengan demikian, secara teoritis biji-biji tersebut akan mengelompok di sekitar pohon induk.

Ekologi Tanaman Damar (skripsi dan tesis)



a.       Iklim
Tanaman damar memerlukan iklim basah sepanjang tahun dengan tahun dengan curah hujan 3.000 sampai 4.000 mm pertahun yang terbagi merata seluruh tahun. Curah hujan yang lebih kecil dari 60 mm perbulan selama tiga bulan terus menerus sudah dapat mengakibatkan kematian pohon damar terutama waktu muda. Dengan demikian musim kering yang dapat dialaminya adalah yang basah atau agak basah dimana masih ada 30 hari hujan selama 4 bulan yang paling kering. Ketinggian tempat pertumbuhan adalah antara 300 sampai 1200 meter dari permukaan laut (Direktoral Reboisasi dan Rehabilitasi, 1979).
b.      Tanah
Pohon damar tumbuh baik pada lereng-lereng gunung yang drainasenya baik dan iklim yang serasi. Tempat tumbuh yang baik untuk tanaman damar adalah tanah-tanah yang sebelumnya merupakan tempat tumbuh hutan hujan tropika pegunungan (Team Reboisasi, 1971). Pohon ini tidak dapat tumbuh pada tanah yan becek atau rawa. Damar menghendaki tanah yang subur dan tidak dangkal (Karjono dan Riyanto, 1979). Kebutuhan akan ksigen agak tinggi. Menurut penelitian, tanaman muda yang perakarannya di masukkan ke dalam air akan mati dalam waktu 16 hari. Di Batrraden yang merupakan daerah pusat tanaman damar, diketahui nilai pH tanahnya 5,9 sampai 6,9. Jenis ini tidak tahan terhadap alang-alang atau tanah yang kurang terbuka.

Botani dan Morfologi Tanaman Damar (skripsi dan tesis)


1.      Botani Tanaman Damar
  1. Sistematika
Menurut Manuputty (1955) dan Soenarto (1989), tanaman damar mempunyai sistematika sebagai berikut:
Kingdom         : Plant
Divisio             : Spermatophyta
Class                : Gymnospermae
Sub class         : Dicotyledoneae
Ordo                : Araucarales
Family             : Araucariaceae
Genus              : Agathis
Spesies            : Agathis spp
  1. Morfologi
Morfologi tanaman damar adalah sebagai berikut:
1)      Akar
Menurut Team Reboisasi (1971), pada tumbuhan muda selaluterdapat suatu akar tunggang yang besar dan akar-akar mendatar yang kecil-kecil dan baru setelah pohon mulai dewasa dikembangkan akar-akar tenggelam (zinkers) dan akar-akar mendatar yang kuat. Sistem perakaran damar terdiri dari dua bagian yaitu akar mendatar yang dalamnya hanya beberapa decimeter tetapi memancar jauh kesegala arah dan akar tunggang berbentuk kerucut dikelilingi akar-akar tenggelam besar yang tumbuh lurus ke bawah, tepat di bawah batang. Pada pohon dewasa panjang akar tunggang sekitar 3 meter dan akar mendatar sampai lebih 10 meter, tetapi tidak banyak diketemukan akar-akar cabang yang halus.
2)      Batang
Damar termasuk pohon besar, tingginya mencapai 60 meter, dan diameter setinggi 150 cm samapai 200 cm (Direktur Jendral Kehutanan, 1976). Batang tanaman damar monopodial lurus, kadang sedikit berputar berputar, tidak berbanir, kulit kayu setebal 1 sampai 2 cm berwarna cokelat kelabu. Tajuk tidak lebar, berbentuk kerucut, dan sangat rapat pada pohin muda, menjadi aak jarang dan sedikit mendatar bila sudah tua. Pada pohon-pohon muda cabang-cabangnya jelas melingkari batang (Team Reboisasi, 1971).
3)      Daun
Tanaman damar berdaun tunggal, kedudukanya berpasangan, tetapi pada rantingranting muda daunnya berkumpul pada ujungnya. Bentuk daun pipih, bulat telur, atau bulat panjang, sampai lancet. Perbandingan lebar dan panjang 1:3 sampai 1:6. Tangkai daun jelas kelihatan Permukaan daun sebelah bawah. Panjang daun 7,5 sampai 12 cm, lebar 2 sampai 3,5 cm (Team Reboisasi, 1971 dan Kehutanan Indonesia, 1987).
4)      Bunga
Bunga damar berjenis dua. Bunga jantan terdapat di ujung (axillair) dari dahan-dahan pendek atau di ketiak daun. Bertangkai pendek berbentuk silinder. Panjang 3 sampai 5 cm, diameter 15 mm. Sisik-sisiknya seperti sendok makan, susunannya tidak seperti atap genteng. Bunga betina berbentuk bulat, panjang 6 sampai 8 cm, diameter 6 sampai 7 cm, sisiknya tersusun seperti atap genteng dengan ujung yang bersehi tiga (Kehutanan Idonesia, 1987).
5)      Buah
Tanaman damar berbunga sepanjang tahun dan berbuah terutama dalam bulan Februari-April dan Agustus sampai Oktober (Direktorat Jendral Kuhutanan, 1976). Menurut Team Reboisasi (1971), buah berbentuk conus yang khas, sisik berlapis seperti atap genteng (imbricubus) dan membentuk suatu apiral mengelilingi poros berbentuk gada yang berdaging tebal. Selanjutnya menurut Direktorat Jendral Kehutanan (1976), runjung-runjung (conus) yang cukup masak, waktu diiris benih berwarna coklat. Dari sekitar 190 conus besar atau 377 conus kecil diperoleh 1 kg benih atau 7.950 buah benih.
6)      Biji
Biji tanaman damar berbentuk telur terbalik dengan panjang 10 sampai 11 mm lebar 8 mm, dan bersayap. Biji yang segar daya kecambahnya 90 sampai 100 persen dan setelah disimpan satu minggu turun menjadi 80 sampai 90 persen. Biji yang kering angin cepat sekali turun daya kecambahnya turun menjadi 80 sampai 90 persen. Biji yang kering akan cepat sekali turun daya kecambahnya. Setelah 14 hari daya kecambanhya turun sampai 40 persen dan seteah 6 minggu tidak dapat berkecambah lagi (Team Reboisasi, 1971).