Friday, January 11, 2019

Persepsi dan Partisipasi Masyarakat (skripsi dan tesis)



Persepsi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi adalah melalui pengindraan (penglihatan, pendengaran, peraba dan sebagainya). (Wirawan, 2002). Pengalaman seseorang yang berinteraksi dengan lingkungan sekitar dalam berbagai aspeknya sangat menentukan persepsi seseorang terhadap sesuatu. Pengalaman seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, budaya, agama maupun tradisi keseharian dari masyarakatnya. Persepsi seseorang terhadap suatu obyek dapat berubahubah. Proses perubahan persepsi disebabkan oleh proses pada sistem saraf pada indera manusia dan proses psikologis yang antara lain dijumpai dalam pembentukan dan perubahan sikap.
Persepsi masyarakat terhadap suatu obyek atau peristiwa merupakan landasan pokok bagi timbulnya sikap dan perilaku. Makna positif atau negatif sebagai hasil persepsi seseorang terhadap sesuatu sangat tergantung dari bentuk dan proses interaksinya. Pengalaman seseorang merupakan faktor yang penting dalam pembentukan persepsinya terhadap sesuatu. Pengalaman seseorang yang berinteraksi dengan lingkungan sekitar dalam berbagai aspeknya sangat menentukan persepsi seseorang terhadap sesuatu. Pengalaman seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik sosial, ekonomi, budaya, agama maupun tradisi keseharian dari masyarakatnya.
Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat terhadap proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan (Mikkelsen, 2003) dalam Arifin (2007). Partisipasi masyarakat adalah proses dimana masyarakat turut serta mengambil keputusan. Pada hakekatnya pelibatan masyarakat merupakan bagian dari proses perencanaan untuk mengakomodasi kebutuhan, aspirasi dan fokus mereka. Tujuannya adalah untuk mengeliminir kemungkinan terjadinya dampak negatif. Ini tidak hanya sekedar menghindari protes masyarakat, tetapi sebagai upaya untuk memperoleh input dari masyarakat tentang segala sesuatu yang menyangkut nasib mereka. Ada beberapa pandangan tentang partisipasi ditinjau dari kualitas yaitu:
a.         Partisipasi sebagai masukan kebijaksanaan, dimana informasi, aspirasi dan “concern” dari publik akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
b.         Partisipasi sebagai strategi, dalam konteks ini partisipasi diperlakukan sebagai alat untuk memperoleh dukungan dari publik.
c.         Partisipasi sebagai komunikasi, dilakukan berdasarkan anggapan bahwa pemerintah (project proponent) memiliki tanggung jawab untuk menampung aspirasi dari masyarakat
d.        Partisipasi sebagai media pemecahan publik, sebagai cara untuk mengurangi ketegangan dan memecahkan konflik
e.         Partisipasi sebagai terapi sosial, dilakukan untuk menyembuhkan “penyakit sosial” seperti alienation, pawerlessness seperti rasa minder dan sebagainya.
Batasan tentang masyarakat cukup beragam dan mencakup berbagai faktor. Beberapa ahli telah mencoba memberi definisi tentang masyarakat. Masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah itulah yang dinamakan dengan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial dan masyarakat selalu berubah. Masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.
Raph Linton dalam Soerjono Soekanto (1995:26). Manusia senantiasa mempunyai naluri yang kuat untuk hidup bersama dengan sesamanya. Semenjak dilahirkan manusia mempunyai naluri untuk hidup bersama. Pada hubungan antara manusia dengan sesamanya, maka reaksi yang timbul mengakibatkan bertambah luasnya sikap dan tindakan seseorang. Reaksi dalam hubungan antar manusia cenderung untuk menyerasikan dengan sikap dan tindakan pihak lain. Hal ini pada dasarnya disebabkan manusia mempunyai dua hasrat yang kuat dalam dirinya, yaitu keingingan untuk menjadi satu dengan sesamanya atau manusia lain di sekelilingnya. Manusia mempergunakan pikiran, perasaan dan kehendaknya untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut, yakni lingkungan sosial dan alam. Selain itu, dalam menyerasikan diri dengan lingkungan-lingkungan tersebut manusia senantiasa hidup dengan sesamanya untuk menyempurnakan dan memperluas sikap dan tindakannya agar tercapai kedamaian dengan lingkungannya.
Masyarakat pada dasarnya merupakan sistem adaptif karena masyarakat merupakan wadah untuk memenuhi berbagai kepentingan dan juga untuk bertahan. Masyarakat juga xl mempunyai berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi agar masyarakat dapat hidup terus. Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain: informasi, energi, materi, sistem komunikasi, sistem produksi, sistem distribusi, sistem organisasi sosial, sistem pengendalian sosial, perlindungan warga masyarakat terhadap ancaman-ancaman yang tertuju pada jiwa dan hartanya. Masyarakat senantiasa merupakan suatu sistem karena mencakup berbagai komponen dasar yang saling berkaitan secara fungsional.
Masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang bercorak agraris tradisional. Lebih dari 80% penduduk Indonesia berada di daerah pedesaan. Integrasi sosial pada masyarakat yang bercorak agraris tradisional didasarkan atas nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang merupakan kesepakatan di antara para anggotanya. Nilai-nilai itu memiliki daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan di atara para anggota masyarakat (Nasikun, 1984: 9).
Secara sosial, struktur masyarakat Indonesia dicirikan masih adanya pelapisan sosial yang cukup tajam antara lapisan bawah dan lapisan atas. Pada masyarakat Indonesia tumbuh polaritas sosial berdasarkan kekuatan politik dan kekayaan. Lapisan bawah adalah mereka yang berposisi lemah, baik secara ekonomi maupun politik, sedangkan lapisan atas adalah mereka yang secara ekonomi relatif kaya dan berkuasa. Semakin meluasnya pertumbuhan sektor ekonomi modern, perbedaan antara pelapisan sosial lapisan bawah dan lapisan atas semakin tajam.

Dampak Bencana Banjir (skripsi dan tesis)


Benson and Clay (2004) membagi dampak dari bencana alam menjadi tiga bagian. Pertama, dampak langsung dari bencana. Dampak langsung meliputi kerugian finansial dari kerusakan aset-aset ekonomi (misalnya rusaknya bangunan seperti tempat tinggal dan tempat usaha, infrastruktur, lahan pertanian, dan sebagainya). Dalam istilah ekonomi, nilai kerugian ini dikategorikan sebagai stock value. Dampak langsung juga meliputi kerusakan fisik, atau berubahnya lingkungan fisik.
Kedua, dampak tidak langsung. Dampak tidak langsung meliputi terhentinya proses produksi, hilangnya output dan sumber penerimaan. Dalam istilah ekonomi, nilai kerugian ini dikategorikan sebagai flow value. Dampak tidak langsung juga berkaitan dengan dampak sosial ekonomi bencana alam. 
Ketiga, dampak sekunder (secondary impact) atau dampak lanjutan. Contoh dari dampak sekunder bisa berwujud terhambatnya pertumbuhan ekonomi, terganggunya rencana-rencana pembangunan yang telah disusun, meningkatnya defisit neraca pembayaran, meningkatnya utang publik dan meningkatnya angka kemiskinan.
Dampak langsung akibat bencana alam lebih mudah untuk dihitung kerugiannya dibandingkan dengan dampak tidak langsung dan dampak sekunder. Konsekuensinya sangat sulit untuk secara tepat menghitung total kerugian ekonomi akibat bencana alam. Untuk menentukan skala bantuan yang optimum dibutuhkan perhitungan kerugian yang tepat.
Coppola (2007) mengidentifikasikan konsekuensi bencana yang merugikan masyarakat dan mengurangi kualitas hidup individu dalam masyarakat adalah sebagai berikut:
a.              Kurangnya kemampuan untuk bergerak atau melakukan perjalanan karena infrastruktur transportasi yang rusak dan hancur;
b.             Terganggunya kesempatan pendidikan karena kerusakan sekolah atau guru dan siswa yang cedera atau cacat karena adanya tekanan, seperti trauma;
c.              Hilangnya warisan budaya, fasilitas keagamaan, dan sumber daya masyarakat;
d.             Hilangnya pasar dan kesempatan berdagang yang disebabkan oleh gangguan bisnis jangka pendek akibat hilangnya konsumen, pekerja, fasilitas, persediaan atau peralatan;
e.              Hilangnya kepercayaan investor yang mungkin berpotensi menarik kembali investasi (penanaman modal) mereka dan ini di kemudian hari akan menciptakan pengangguran karena pemotongan kerja dan kerusakan di tempat kerja;
f.              Sulitnya komunikasi karena kerusakan dan kehilangan infrastruktur;
g.             Adanya tunawisma yang disebabkan oleh hilangnya rumah dan harta benda;
h.             Kelaparan karena terputusnya rantai suplai makanan yang menyebabkan kekurangan suplai makanan dan meningkatnya harga;
i.               Kehilangan, kerusakan, dan pencemaran lingkungan akibat kerusakan bangunan dan infrastruktur yang rusak dan belum diperbaiki, serta deformasi dan hilangnya kualitas tanah;
Kerusuhan publik ketika respons pemerintah tidak memadai

Mitigasi Banjir (skripsi dan tesis)



Definisi mitigasi menurut UU No. 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana banjir adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana banjir, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi bencana sebagaimana dimaksud dalam UU No. 24 tahun 2007 dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana. Kegiatan mitigasi sebagaimana dilakukan melalui:
a.       pelaksanaan penataan tata ruang;
b.      pengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata bangunan;
c.       penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan baik secara konvensional maupun modern.
Coburn,dkk. (dalam Harjono, 2012) juga mendefinisikan mitigasi bencana sebagai pengambilan tindakan-tindakan untuk mengurangi pengaruh-pengaruh suatu bahaya sebelum bahaya itu terjadi.

Bencana Banjir (skripsi dan tesis)


     Banjir adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan manuasia yang disebabkan oleh meluapnya air sungai oleh faktor alamiah akibat rusaknya kawasan penyangga pada daerah aliran sungai (DAS) yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (Paimin et al.,2009, Hermon,2012, dalam Hermon, 2015:37).  Untuk mengurangi dampak kerusakan dan kerugian yang diakibatkan banjir maka dilakukan kegiatan mitigasi banjir, baik yang melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan mengahdapi ancaman banjir.

Beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa pada dasarnya secara umum bencana banjir  disebabkan oleh tiga hal. Pertama, aktifitas manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan tata ruang dan berdampak pada perubahan alam, misalnya, pembangunan hunian di bantaran sungai telah mempersempit badan sungai sehingga memicu terjadinya banjir karena sungai tidak lagi menampung aliran air. Kedua, peristiwa alam seperti curah hujan yang tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan air sungai meluber. Ketiga, degradasi lingkungan seperti hilangnya tumbuhan penutup tanah pada daerah resapan air, pendangkalan sungai akibat sedimentasi, penyempitan alur sungai dan sebagainya (Bappenas, 2010).
Banjir yang terjadi di wilayah Indonesia pada umumnya disebabkan gabungan antara buruknya kondisi jaringan drainase mikro dan makro karena berbagai sebab (kurang memadainya dimensi dan kemiringan saluran drainase karena sampah dan sedimentasi, dan sebagainya) dengan meluapnya aliran sungai melebihi palung sungai karena tingginya intensitas hujan dan pendangkalan sungai karena sedimentasi dan sumbatan sampah atau sebab lainnya (air laut pasang). Perubahan tata guna lahan  yang merupakan faktor yang paling banyak dijumpai pada kasus-kasus banjir di Indonesia. Penggundulan hutan di bagian hulu DAS, pendirian bangunan, serta berbagai bentuk alih fungsi lahan lainnya telah menyebabkan berkurang atau hilangnya daerah resapan air. Kurangnya daerah resapan air menyebabkan aliran air hujan di permukaan (run off) akan makin besar, dan volume air yang masuk ke saluran air atau sungai juga bertambah, yang pada akhirnya menimbulkan banjir ketika badan sungai sungai tidak lagi mampu menampung air tersebut

Kualitas air limbah (skripsi dan tesis)


Kualitas air limbah pada umumnya mengandung banyak kotoran-kotoran yang tersuspensi maupun terlarut dalam air yang secara alami dapat mengganggu penggunaan air untuk tujuan-tujuan tertentu. Parameter-parameter yang digunakan untuk pengukuran kualitas air, meliputi parameter kimia, fisika dan biologi. Parameter fisika merupakan parameter kualitas air yang dapat diamati secara langsung, seperti kekeruhan, warna air, bau dan suhu. Parameter kimia meliputi, alkalinitas, keasaman, karbohidroksida, kesadahan, ammonia, nitrat, fosfor dan
nitrogen. Sedangkan parameter biologi pada air limbah dilakukan dengan pengamatan populasi organisme mikro, seperti tumbuhan perintis, bakteri, protozoa dan ganggang hijau (Ayuwanjani, 2008).

Sumber dan jenis air limbah (skripsi dan tesis)


Menurut Ayuwanjani (2008), berdasarkan sumbernya air limbah dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Air limbah rumah tangga (domestik), adalah air limbah yang berasal dari kegiatan hunian, seperti rumah tinggal, hotel, sarana pendidikan, perkantoran, pasar dan fasilitas pelayanan. Air limbah domestik dapat dikelompokan menjadi, air buangan kamar mandi, air buangan WC dan air buangan dapur atau cucian.
b. Air limbah industri, adalah air limbah yang berasal dari kegiatan industri, seperti pabrik kertas logam, tekstil, kulit, pangan (makanan dan minuman), industri kimia, perikanan dan lainnya.
c. Air limbah atau rembesan air hujan, adalah air limbah yang melimpas di atas permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah sebagai akibat terjadinya hujan.

Klasifikasi limbah (skripsi dan tesis)


Menurut Ayuwanjani (2008), klasifikasi air limbah berdasarkan tingkat penguraian dan kandungan nitrogennya, adalah sebagai berikut:
a. Limbah rendah penguraian dan rendah nitrogen, yang termasuk kelompok ini adalah limbah-limbah berserat tinggi dan limbah-limbah tanaman tua, diantaranya seperti jerami, sekam, serat sawit, kulit buah coklat dan kulit luar biji-bijian.
8
b. Limbah rendah penguraian tetapi tinggi kandungan nitrogen. Limbah industri pangan sering menghasilkan limbah dengan kategori ini seperti limbah kopi.
c. Limbah tinggi kandungan energi tetapi rendah nitrogen. Limbah industri gula (molase) dan limbah industri hortikultura termasuk kategori limbah dengan kandungan energi tinggi tetapi rendah kandungan nitrogen.
d. Limbah tinggi kandungan energi dan tinggi kandungan nitrogen. Limbah yang termasuk kategori ini mayoritas lebih cenderung sebagai bahan pakan ternak monogasterik seperti tepung darah, limbah pemotong ternak, tepung ikan, bungkil dan beberapa limbah sayuran.